Langkahku akhirnya berhenti juga, setelah melewati jalanan penuh debu dan sengatan matahari yang membakar, ku temui juga tempat persinggahan sahabat lama ku ini, setelah beberapa kali bertanya pastinya, sebab alamat yang di berikannya memang benar-benar ada di pinggiran, bahkan mungkin dapat dihapuskan atau di ganti karena memang terlau pinggirnya, huuuuh, peluh ku pun terbayar sudah.
Pintu rumah yang sangat sederhana ini pun ku ketuk, hingga muncul lah sosok sahabatku, ya, sahabatku yang sudah sangat lama tak pernah ku tatap wajahnya, . . . . “Marco, masuklah, aku sudah menunggumu dari tadi, masuklah”, dengan cepat aku mengangguk malas, ku bumbui pula dengan senyuman, . . “Ada apa sahabat?, aku kira seorang marco pastilah memiliki masalah sangat besar hingga dia harus datang kemari, hahahaha, benarkan?, kau tampak tua sekarang marco, raut wajahmu menutupi usiamu, oh ya tunggulah sebentar akan ku ambilkan minum, pastilah ku tahu kau sangat haus dari jalanan sana, ditambah lagi keruwetan Sunda Kelapa ini, tunggulah sebentar”, . . . . Ku lihat ia masuk ke dalam bilik sebelah, ku tahu memang kedatanganku telah merepotkannya, yah dia adalah sahabatku saat kecil, saat ku belum mengenal sekolah ku sudah berteman dengannya, hingga akhirnya ia berangkat dari kampung halamannya untuk mengejar cita-citanya, seorang dokter yang berguna buat manusia, ia sering bercerita dahulu padakau, kalau kita hidup harus memberikan manfaat bagi orang lain, memang sungguh cepat waktu berlalu hingga saat ini, hampir sepuluh tahun lamanya ku kira ku tak menatap wajahnya kembali hingga hari ini.
“Ini minumlah”, , , , ia meletakkan segelas air dingin di hadapanku, sepertinya ia memang telah menyiapkannya sebelumnya. “Bagaimana kabarmu marco?, sudah lama memang ku tak mendengar kabarmu, jauh memang dari Yojo kemari, bagaimana kabar saudara kita disana? Pastilah mereka yang dulu kecil sekarang sudah besar bahkan mungkin hampir tak ku kenal, hahahaha”, ia mencoba kenangkan apa yang terlewati, . . “masih biasa sepertimana engkau tinggalkan, akh kau ini, seperti telah lama saja kau meninggalkan Yojo”, . . “Yah, 6 tahun sudah cukup lama juga marco, oh ya bagaimana kabar pujaan hatimu yang selalu membuatmu tak berdaya, gadis yang membuatmu kehilangan kata-kata, hahahaha, siapa namanya? Dewi Keumala benarkah?”, . . . aku mengangguk pasrah, . . . “ Marco, marco, kenapa ketika berbicara cinta kau sangat pasrah, seperti kehilangan gairah, cinta itu bukan di dapat secara instan, karena ia membutuhkan berjuta penafsiran, ingatlah jika engkau mencintainya marco, relakanlah, Cinta itu perasaan yang mulia, Sebab ia keikhlasan yang tak dapat engkau beli sekalipun”. “ Ya, Mr. Cokro Hadikusumo, Aku paham, aku paham” aku pura-pura tahu apa yang telah dikatakannya sekaligus mengangguk di setiap ucapannya. . . “Hahaha, apa yang telah engkau pahamkan? Ketidakberdayaanmu?, haha, baiklah, yang perlu kau ketahui, wanita itu adalah manusia mulia, bukankah manusia dilahirkan dari kandungannya, jangan pernah engkau menyakitinya sedikitpun”.
“Baiklah, apalah sebenarnya tujuanmu datang ke gubukku ini, yah seperti yang engkau dapat saksikan sendiri”, . . .”Begini, aku datang ke kota mu untuk memperjuangkan keistimewaan daerah kita, Yojo yang saat ini sedang di ganggu keistimewaannya dengan peraturan yang tidak memihak kepada Yojo, aku hanya ingin kau ikut membantunya Cokro”, . . “Marco, Marco, kau inilah yang lebih mengerti masalah itu, aku ini apalah, hanya seorang calon dokter yang terombang-ambing, seperti perahu dalam buasnya lautan, kau ini yang paham masalah itu, salahlah kau jika bertanya padaku, sebab kau lah yang sekolah mempelajari tentang peraturan, kuliah hukum lah tepatnya, . . yah memang aku sedikit mengikutinya, ingatlah, Negeri ini butuh banyak praktek nyata, Bukan bagaimana bagaimana cara mewacanakan sesuatu, . . . Yojo memang daerah istimewa Marco, sangat istimewa, bahkan sebelum engkau dilahirkan, disaat bumi Jawi ini ada bahkan telah itimewa, . . .Tahukah kau, Yojo merupakan kerajaan di Jawi yang tersisa satu-satunya, ia lah yang dapat mewarisi tahta pendahulunya dahulu, Matraman, rakyatnya begitu mempercayai rakyatnya, bukan seperti sekarang ini Marco, ku lihat rakyat hanya dapat mempercayai pemimpinnya jika pemimpin tersebut memiliki uang, yah, uang dapat membeli apa saja Marco, seharusnyalah apa yang telah dijanjikan dilaksanakan, bukan menjadi bualan, . . . . Yojo sangat ku cintai Marco, ia merupakan kota yang tak akan pernah ku lupakan, lihatlah merapi menjulang di utaranya, Kraton kokoh di pusatnya, Pantai yang indah di selatannya, keramahan manusianya, kehalusan tutur katanya, tiada perpecahan, aman dan damai, tak pernah ku lihat kota setenang itu Marco”, . . . . . “Terimakasih Cokro, ternyata kita juga sepaham, terimakasih, ku harap kau ikut denganku besok, besok acara audiensi dengan parlemen”. . . . . . . . . . . .