Telah ku terima tulisan mu, “Untuk Manusia”, . . . . . kenapa banyak sekali kata yang belum kamu jabarkan Marco padaku, ku kira terlalu cepat karya itu kamu hentikan, karena ku yakin sangat banyak yang belum kamu tuliskan
Tiada yang salah dalam rasa yang coba kau jelaskan padaku, ku telah memahami maksud dan tujuan sebuah tulisan yang telah kamu berikan, . . . . namun, belum tepatlah ku kira adanya, -
Tak pernah ku kira kamu dapat menulis dalam sastra, begitu indah memang kata-kata yang telah terangkai dalam kalimat dan menjadi cerita, ku akan usaha memahami apa yang telah tertulis, semoga, -
Ketika matahari pulang keperaduan, saat itulah muncul kerinduan, pada siapa, pada malam yang akan segera menggantikan, atau menjadi kegelesihan yang selalu menantikan, . . . . . . . Marco, ku telah pahami rasa apa yang telah kamu coba berikan padaku, namun apakah secepat itu Marco, telah cobakah kau fikirkan terlebih dahulu lebih jauh perasaan terhadap ku, . . . . . . . masih dalam kebingunganku, bagimanapun aku masih termiliki, kamu tahu, mas Jiwo telah menjadi pilihan ku, namun kamu hadir dalam bayangannya, membuatku merindu, -
Setiap malam yang kini terlewati talah di tambah dengan senyumanmu, bayanganmu hadirlah, rasa apa ini, tak mungkin ku khianati rasa yang telah ku nyatakan, -
Air mata mengalirlah dengan kebahagiaan dan kesedihan, tubuh akan menjadi baik jika memiliki hati yang baik, lihat, indah Marco, langit sore seperti yang pernah kamu ceritakan dan coba kamu khayalkan,
Cinta itulah Marco, tak dapat ku pahamkan sampai kini, entah berkali ku coba untuk mengerti seperti yang telah kamu coba untuk jabarkan dalam tulisanmu, . . . . . . . .