201-2

|


Suatu siang di sebuah terminal penumpang, menderu dan meraung asap mengebul, bau pesing berbauran kemana-mana, mata curiga menatapi setiap lini, berdesakan meminta dan dipinta,  klakson berbunyi beberapa selang, teriakan kernet saling bersahutan, pegawai korup meminta masukan, sopir-sopir menghapuskan keringat mukanya dengan handuk, bus datang dan pergi, pengamen ramaikan kerisauan, bau keringat menyengat udara, air liur di jatuhkan pada jalanan.
“Pagi bumi, Siang langit, aku kemalaman lagi, sore pun telah melayang, kamu terjaga dan aku menjaga, ya, aku dan kamu sama saja, memiliki perasaan yang sama, dengan bahasa yang berbeda saja melakukannya”.
Angin segar berhembus menyibakkan rambut seorang tua yang sudah tak berkaki, bajunya lusuh,, terdiam dan terpaku, mata sinis masih menembusi, merendahkan sesama sendiri, matahari datang memuncaki birahi, parfum import menghembusi, pengemis tua makin teriris dan semakin tak mengerti, tiada yang menghiraukan, semua memiliki urusan yang tersendiri.
Keteduhan air mukanya manusia, jika dan hanya ia mengerti makna kehidupan yang berseri, tidak hanya sekedar menjalankan, dan jauh disana saling memaki tentang apa yang sedang dijalankan, tiada yang mau mengerti sebab mengapa dijalankan.
Siang di terminal penumpang mengajarkan kemanusiaan yang sudah tak di dapatkan, diatas kertas yang hanya dapat di pujikan kemanusiaan yang panjang, dengan kisah yang berbeda nama, -
Di ujung barat sana ada sebuah kisah nusantara lama yang sangat kuno diajarkan, peperangan antara saudaranya sendiri, anak-anak yang berlarian mencari orangtuanya tanpa belas asih ia tak mengetahui, tiada lagi yang mengetahui, kisahnya sudah using, hanya hilang tertelan gelombang perubahan, bergulung menjadi tsunami yang terlupakan.
Di ujung timur perampasan hak dan pemerkosaan asasi yang mulia di ulang-ulang, maaf dan maaf terlalu sering dilakukan, angin malam membawa kan dingin, dingin yang menusuk, memanggil jiwa yang tenang,
Apakah kamu mengerti kemanusiaan, atau seolah-olah, tingkat kepekaan yang sering terlupakan, di telaga air yang tenang dan beriak yang tiada terkirakan.
Suara bising mesin masih membahana di udara, mata asing masih mengawasi sana sini, raut kegelisahan dan keacuhan tampak, sinis yang mengiris masih saja meringis.
“Kapan kita akan pulang ibu?”  Shindu bertanya pada ibunya, pandangannya tertuju pada pasang mata yang sejak tadi mengacuhkan mereka, bahkan mungkin menyumpahi kehadiran mereka.
Ibunya terlihat masih mencari sesuatu di balik tumpukan kotoran yang terbuang, ataukah sudah dianggap kotornya sama, “Sebentar nak, jangan lah rewel seperti bapakmu”, ibunya tak memperhatikan anaknya, yang tampak matanya hanyalah beberapa kotoran yang terbengkalai,
“Mengapa engkau menaruh curiga padaku? Tak ada yang ku sembunyikan, sudahlah jangan membuang waktu, waktu kita tak banyak, lebih baik kita berlari lebih jauh lagi, ayo cepat”, dua orang lelaki itu berlari kembali setelah meninggalkan nafas yang tersengal dan menderu, suara hajar, bunuh berterbangan di udara, sore itu di selingi kumadang maghrib.

-201-2-

“Tahun ini akan kiamat may, marilah kita menikah, tak sayang kah kau, atau tak ibakah hatimu melihatku yang selalu ditanya oleh ibu dan ayahku, kau sendiri telah mendengarkan mereka bukan, may”, Dodi membetulkan letak sepatunya, ia dengan kekasihnya akan pergi acara perkawinan teman dekatnya Shinta, ia kemudian duduk dan menunggu.
“Sabarlah sayang, nanti kalau waktunya kita pasti akan menikah, tinggal menentukan waktunya saja, sabarlah”. Maya datang dan kemudian mengulurkan tangannya pada kekasihnya.
“Kenapa selalu itu menjadi alasanmu, tak mau kah kamu padaku, atau apa lagi yang engkau ingin pastikan kembali” Dodi kemudian membanting pintu mobilnya dan kemudian melajukannya, sangat kencang,
“Aku sayang padamu, tanpamu hanyalah sepi menjilati sendiri, maafkan aku ya may, aku hanya khawatir tak dapat menghabiskan waktuku bersamamu” Dodi membelai kekasihnya, -
Maya hanya tersenyum penuh dengan keraguan, seburat tipis kerut keningnya memikirkan gamang, di tatapnya lelaki yang telah ia kenal lebih dari lima tahun lalu ini, sekilas ia kenangkan hari-hari lalu.

-201-2-


Hujan baru jatuh di tahun ini, membasahi apa yang ada, dalam tahun ini hanya bau ini yang pertama jatuh, tepat di hari ulang tahunku. Langit mendadak saja gelap sore tadi, padahal telah ku do’akan dari pagi saja hujan ini jatuh, aku sendiri saja dalam kamar ini, keluar tak kulakukan, tak ada yang menghiraukan ku, menanya saja tidak apalagi mengucapkan kata selamat, hanya ada satu sms yang masuk pagi tadi, ucapan selamat dengan do’a yang dikenakan, dari seseorang tanpa nama, tepat pukul dua belas lebih satu detik aku terima.
Hari ini aku semakin menua,ringkihku aku pun sudah tak bisa untuk melakukan hal yang telah berlalu, memberikan penyesalan ataupun sebuah senyuman pada masa lalu hanya menjadi kenangan sekarang, embun hujan menghinggapi kaca.
Aku ingin seseorang itu mengetuk pintu kamarku, memberikan ucapan selamat ulang tahun padaku, mengecup keningku, dan memberikan lilin pengharapan yang kemudian aku padamkan, -
Ia ingat jelas kenangan yang telah lama coba ia lupakan sekitar sepuluh tahun lalu, disaat kecelakaan yang merenggut seluruh keluarganya, ayah dan ibunya serta kakaknya yang satu, hanya dialah yang dinyatakan hidup saat itu hingga saat ini dengan kaki yang tak sempurna. Rinai hujan yang jatuh menyadarkannya yang sendiri sejak sepuluh tahun lalu.
Sepupunya janjikan padanya akan mengunjunginya di hari spesialnya malam nanti, ia belum juga beranjak dari kamarnya, senja telah turun, -

-201-2-

Ia menaruh dendam pada takdirnya, mengapa ia tak pernah menjadi manusia sempurna, manusia idaman, ia rengekkan saat ia ibadah, namun mungkin saja malaikat enggan menyampaikan atau entah salah dimana, ia ingin sekali memperbaiki, katanya teknologi manusia semakin canggih.
Merampasi hak menjadi ideologi baru yang makin menjadi, atas nama Tuhan di ucapkan, bersumpah-sumpah sampai ludahnya muncrat sekalipun, kutukan makian di dengarkan menjadi pujian dan pujaan, berkata selalu menjadi pahlawan.
“Akh, aku ditipui, aku di hidangkan ini itu lagi, Muaak, aku muaaak”, di lemparkannya remote televisi, kemudian tv di matikannya dengan pukulan.
“Kau lihat surat kabar hari ini?, hanya sebuah kabar kabur yang dijadikan segar, ada pembaca tentu ada keuntungan, ini aku sebenarnya sedang ada dimana?” di tujuknya wajahnya sendiri pada kaca, lalu baringkan tubuhnya, lelap.

201-2

            Senja telah pulang biasa, jingga kelabunya terasa sering. Tak perlulah saling menyalahkan, tuding menuding, selamat malam hari sulit, kesempatan sempit punya sempat juga, selamat malam hari tua, bumi ini sering bermuram durja dengan tingkah-tingkah manusia, senja senja, jangan selalu berikan siluet, sangat abstrak, -

Sajak November

|


Hai kelabu berseru
Pada lembayung terungkap haru
Engkau menawan menjadikan candu
Bayangan terlintas dalam rinai salju

Puisi jatuh lagi padamu
Atas puja puji rindu
Mega tersapu
Hujan menambah deru

Tuhan masih sayang
Berikan hingga bulan kesebelas
Tahu kita suka tak mau pulang
Masih diberikan batas

Hai langit kelabu
Air mu berikan hidup
Dari kesempatan yang semakin pengap