Suatu
siang di sebuah terminal penumpang, menderu dan meraung asap mengebul, bau
pesing berbauran kemana-mana, mata curiga menatapi setiap lini, berdesakan
meminta dan dipinta, klakson berbunyi
beberapa selang, teriakan kernet saling bersahutan, pegawai korup meminta
masukan, sopir-sopir menghapuskan keringat mukanya dengan handuk, bus datang
dan pergi, pengamen ramaikan kerisauan, bau keringat menyengat udara, air liur
di jatuhkan pada jalanan.
“Pagi
bumi, Siang langit, aku kemalaman lagi, sore pun telah melayang, kamu terjaga
dan aku menjaga, ya, aku dan kamu sama saja, memiliki perasaan yang sama,
dengan bahasa yang berbeda saja melakukannya”.
Angin
segar berhembus menyibakkan rambut seorang tua yang sudah tak berkaki, bajunya
lusuh,, terdiam dan terpaku, mata sinis masih menembusi, merendahkan sesama
sendiri, matahari datang memuncaki birahi, parfum import menghembusi, pengemis
tua makin teriris dan semakin tak mengerti, tiada yang menghiraukan, semua memiliki
urusan yang tersendiri.
Keteduhan
air mukanya manusia, jika dan hanya ia mengerti makna kehidupan yang berseri,
tidak hanya sekedar menjalankan, dan jauh disana saling memaki tentang apa yang
sedang dijalankan, tiada yang mau mengerti sebab mengapa dijalankan.
Siang
di terminal penumpang mengajarkan kemanusiaan yang sudah tak di dapatkan, diatas
kertas yang hanya dapat di pujikan kemanusiaan yang panjang, dengan kisah yang
berbeda nama, -
Di
ujung barat sana ada sebuah kisah nusantara lama yang sangat kuno diajarkan,
peperangan antara saudaranya sendiri, anak-anak yang berlarian mencari
orangtuanya tanpa belas asih ia tak mengetahui, tiada lagi yang mengetahui,
kisahnya sudah using, hanya hilang tertelan gelombang perubahan, bergulung
menjadi tsunami yang terlupakan.
Di
ujung timur perampasan hak dan pemerkosaan asasi yang mulia di ulang-ulang,
maaf dan maaf terlalu sering dilakukan, angin malam membawa kan dingin, dingin
yang menusuk, memanggil jiwa yang tenang,
Apakah
kamu mengerti kemanusiaan, atau seolah-olah, tingkat kepekaan yang sering
terlupakan, di telaga air yang tenang dan beriak yang tiada terkirakan.
Suara
bising mesin masih membahana di udara, mata asing masih mengawasi sana sini,
raut kegelisahan dan keacuhan tampak, sinis yang mengiris masih saja meringis.
“Kapan
kita akan pulang ibu?” Shindu bertanya
pada ibunya, pandangannya tertuju pada pasang mata yang sejak tadi mengacuhkan
mereka, bahkan mungkin menyumpahi kehadiran mereka.
Ibunya
terlihat masih mencari sesuatu di balik tumpukan kotoran yang terbuang, ataukah
sudah dianggap kotornya sama, “Sebentar nak, jangan lah rewel seperti bapakmu”,
ibunya tak memperhatikan anaknya, yang tampak matanya hanyalah beberapa kotoran
yang terbengkalai,
“Mengapa
engkau menaruh curiga padaku? Tak ada yang ku sembunyikan, sudahlah jangan
membuang waktu, waktu kita tak banyak, lebih baik kita berlari lebih jauh lagi,
ayo cepat”, dua orang lelaki itu berlari kembali setelah meninggalkan nafas
yang tersengal dan menderu, suara hajar, bunuh berterbangan di udara, sore itu
di selingi kumadang maghrib.
-201-2-
“Tahun
ini akan kiamat may, marilah kita menikah, tak sayang kah kau, atau tak ibakah
hatimu melihatku yang selalu ditanya oleh ibu dan ayahku, kau sendiri telah
mendengarkan mereka bukan, may”, Dodi membetulkan letak sepatunya, ia dengan
kekasihnya akan pergi acara perkawinan teman dekatnya Shinta, ia kemudian duduk
dan menunggu.
“Sabarlah
sayang, nanti kalau waktunya kita pasti akan menikah, tinggal menentukan
waktunya saja, sabarlah”. Maya datang dan kemudian mengulurkan tangannya pada
kekasihnya.
“Kenapa
selalu itu menjadi alasanmu, tak mau kah kamu padaku, atau apa lagi yang engkau
ingin pastikan kembali” Dodi kemudian membanting pintu mobilnya dan kemudian
melajukannya, sangat kencang,
“Aku
sayang padamu, tanpamu hanyalah sepi menjilati sendiri, maafkan aku ya may, aku
hanya khawatir tak dapat menghabiskan waktuku bersamamu” Dodi membelai
kekasihnya, -
Maya
hanya tersenyum penuh dengan keraguan, seburat tipis kerut keningnya memikirkan
gamang, di tatapnya lelaki yang telah ia kenal lebih dari lima tahun lalu ini,
sekilas ia kenangkan hari-hari lalu.
-201-2-
Hujan
baru jatuh di tahun ini, membasahi apa yang ada, dalam tahun ini hanya bau ini
yang pertama jatuh, tepat di hari ulang tahunku. Langit mendadak saja gelap
sore tadi, padahal telah ku do’akan dari pagi saja hujan ini jatuh, aku sendiri
saja dalam kamar ini, keluar tak kulakukan, tak ada yang menghiraukan ku,
menanya saja tidak apalagi mengucapkan kata selamat, hanya ada satu sms yang
masuk pagi tadi, ucapan selamat dengan do’a yang dikenakan, dari seseorang
tanpa nama, tepat pukul dua belas lebih satu detik aku terima.
Hari
ini aku semakin menua,ringkihku aku pun sudah tak bisa untuk melakukan hal yang
telah berlalu, memberikan penyesalan ataupun sebuah senyuman pada masa lalu
hanya menjadi kenangan sekarang, embun hujan menghinggapi kaca.
Aku
ingin seseorang itu mengetuk pintu kamarku, memberikan ucapan selamat ulang
tahun padaku, mengecup keningku, dan memberikan lilin pengharapan yang kemudian
aku padamkan, -
Ia
ingat jelas kenangan yang telah lama coba ia lupakan sekitar sepuluh tahun
lalu, disaat kecelakaan yang merenggut seluruh keluarganya, ayah dan ibunya
serta kakaknya yang satu, hanya dialah yang dinyatakan hidup saat itu hingga
saat ini dengan kaki yang tak sempurna. Rinai hujan yang jatuh menyadarkannya
yang sendiri sejak sepuluh tahun lalu.
Sepupunya
janjikan padanya akan mengunjunginya di hari spesialnya malam nanti, ia belum
juga beranjak dari kamarnya, senja telah turun, -
-201-2-
Ia
menaruh dendam pada takdirnya, mengapa ia tak pernah menjadi manusia sempurna,
manusia idaman, ia rengekkan saat ia ibadah, namun mungkin saja malaikat enggan
menyampaikan atau entah salah dimana, ia ingin sekali memperbaiki, katanya
teknologi manusia semakin canggih.
Merampasi
hak menjadi ideologi baru yang makin menjadi, atas nama Tuhan di ucapkan,
bersumpah-sumpah sampai ludahnya muncrat sekalipun, kutukan makian di dengarkan
menjadi pujian dan pujaan, berkata selalu menjadi pahlawan.
“Akh,
aku ditipui, aku di hidangkan ini itu lagi, Muaak, aku muaaak”, di lemparkannya
remote televisi, kemudian tv di matikannya dengan pukulan.
“Kau
lihat surat kabar hari ini?, hanya sebuah kabar kabur yang dijadikan segar, ada
pembaca tentu ada keuntungan, ini aku sebenarnya sedang ada dimana?” di
tujuknya wajahnya sendiri pada kaca, lalu baringkan tubuhnya, lelap.
201-2
Senja telah pulang biasa, jingga
kelabunya terasa sering. Tak perlulah saling menyalahkan, tuding menuding,
selamat malam hari sulit, kesempatan sempit punya sempat juga, selamat malam
hari tua, bumi ini sering bermuram durja dengan tingkah-tingkah manusia, senja
senja, jangan selalu berikan siluet, sangat abstrak, -