……………………. Songsonglah cakrawala di
depan, masih sangat panjang perjalanan yang akan terlewatkan, jangan menyerah
dengan masalah, masalah memiliki penyelesaian, tenanglah . . . . ……………………
#Sidang
Para Nabi
“Sebaiknya
malaikat tahu, kita akan berkelana bersama, melihat kenyataan, memikirkan masa
depan, mencuri kesempatan, tentu saja seijin Tuhan, kita semua pasti akan
mengaminkan” nabi tertua memulai perkataan, pada mulanya.
“Kitab
suci masing-masing kita seharusnya saling melengkapi untuk kehidupan manusia,
bukan menimbulkan pertikaian, aku bimbang, mengapakah Tuhan memilih kita jika
hanya untuk menimbulkan persoalan baru untuk kelangsungan hidup manusia setelah
kita, aku setuju padamu kakakanda” kali ini nabi termuda menimpali.
“Bukan
salah kita apalagi Tuhan, manusia memiliki penafsiran berbeda, kebenaran adalah
kesetiaan dalam pencarian, pikiran jangan di penjara, aku telah undang malaikat
agar hadir disini dan ikut menyaksikan apa yang kita akan lakukan, aku ingin ia
langsung menyampaikan pada yang empunya” nabi sulung coba mengomentari.
Matahari
menuruni lembah, cahayanya sebentar lagi akan redup perlahan, sudah dimulai
kehidupan, saling menghormati, saling memangsa untuk bertahan hidup, saling
memberi dan menerima. Air kemudian jatuh dari atas awan, mengalir juga ia dari
gunung-gunung rimbun, melewati sungai-sungai membentuk muara lautan. Bulan
sebentar lagi akan menggerakkan air menjadikan gelombang pasang dan surut.
Begitulah
sidang para nabi masih terus berlangsung, masing-masing saling menunjukkan
kemukjizatan, pastinya dibentuk dari kebudayaan beda, dengan tantangan zaman
yang beda, kali ini mereka memanggil
rekannya yang sering berada dalam alam yang beda.
“Bukannya
aku tak mau membantu, tapi kalian pasti mengerti mengapa aku harus disini, tidak
untuk di alam nyata seperti kalian, aku hanyalah bayangan yang kalian butuhkan
untuk menjaga keseimbangan kehidupan”, nabi dari alam yang berbeda bertutur,
sesekali ditariknya selendangnya yang hampir menyentuh tanah.
“Tantangan
kalian adalah ego yang berjalan seperti air, jika mampu memberikan jalan yang
baik tentulah akan mengalir terukir, meresapi, berjalan menuju suatu tujuan,
syahwat meminta pencarian kepuasan, tentulah harus berjalan dengan
pengendalian, aku kira, hanya seperti itu saja permasalahan yang ada”, ia kini
merebahkan tubuhnya, duduk diantara para nabi, sidang itu masih berlangsung.
“Baiklah,
aku memahami maksud yang kamu sampaikan, namun tentu saja tidak sesederhana
itu, urusan manusia sangatlah kompleks, sebenarnya tujuan sidang ini adalah
untuk menentukan arah dan tujuan, agar semuanya kita diridhai oleh pencipta
alam, sidang ini akan kita lanjutkan sepuluh tahun lagi, semoga kesepakatan
kita bernilai untuk kehidupan manusia” sang pimpinan sidang para nabi menutup
sidangnya dengan mengetuk palu sebanyak tujuh kali
Tersiarlah
kabar, hampir keseluruh penjuru dunia, para ahli-ahli kitab memperbaharui
tulisan mereka, ada yang membumbui agar tampak seperti cerita dalam drama, ada
juga yang meringkaskan saja kejadian yang diterimanya dari teman-temannya.
“Aku
tak yakin, aku khawatir, jika saja pembunuh nabi itu tidak dapat ditangkap,
kukira Tuhan akan murka, aku khawatir, aku khawatir, tolong-tolong” jerit suara
kakek tua mengerang kesakitan, di depannya malaikat pembawa arit duduk membaca
kitab, di muka kitab bertuliskan, kitab akan diperbaharui sepuluh tahun lagi,
tanpa nama penulis.
__ File.X__
#Perjalanan
Pemuda
“Sudah
selesai?, berangkat juga kau hari ini, ya, selama dikau masih bergelora lanjutkan
sajalah tantangan” lelaki separuh baya menuangkan anggur kepada seorang pemuda.
“Tenang
saja kakek, serahkan saja urusan ini kepada kaum muda, agar sesuai dengan
maunya peradaban” lalu ia menegak anggur yang baru saja dituangkan.
“yah,
yah terserah kamulah, aku hanya titipkan, jangan terlalu mudah berprasangka,
rendah hati selalu, banyaklah berdoa, karena semua adalah dari Tuhan yang akan
kembali pada- Nya, berangkatlah, bawakan lah pesan damai dari desa ini,
kabarkan kalau desa ini selalu menyambut pagi dengan gembira dan menyambut sore
dengan gempita” tutur sang kakek sambil membetulkan posisi duduknya.
“Baiklah, aku berangkat kek, semoga
aku selalu mengingat dan dapat melaksanakan apa yang telah kakek nasihatkan
padaku” kemudian ia cium telapak tangan
kanan kakek tersebut dan bergegas lah ia.
Diperjalanan ia melewati jalanan
berbatuan, sungai-sungai berpuluh ia lalui, gunung yang ia telusuri sudah
hampir lima yang terlewati, untuk satu tujuan kerajaan “dua angin, delapan
penjuru”, ia ingin memperdalam ilmu, tersiar kabar ada seorang guru yang hidup
dalam keterasingan, orang-orang menyebutnya Guru “Jirawa” , konon kesaktiannya
dapat muncul dimana saja dengan wujud yang berbeda namun memiliki suara yang
sama,
Sebelum ia sampai pada kerajaan “dua
angin, delapan penjuru” pemuda itu memutuskan beristirahat di kaki gunung raga, disana ia bertemu seorang nenek yang
memberikannya sebuah kesaktian yang bernama “keadilan”.
Seperti
halnya cinta tidak hanya diciptakan untuk memadu kasih, namun juga memerlukan
pengorbanan yang tidak perlu diperhitungkan, demikian juga setiap kehendak baik
yang dilaksanakan tanpa perlu pamrih, keadilan tidak dipadang dari kesetaraan
semata, adakah sesuatu untuk pertanyaan alam.
Kini
ilmu “keadilan” memenuhi setiap kitab suci yang diedarkan hampir di seluruh
penjuru bumi, tanpa terkecuali pada kerajaan “dua angin delapan penjuru” tempat
berdiamnya guru “jirawa” yang terkenal itu.
Gunung
raga telah di tempuh oleh si pemuda, kini ia memasuki kota sebelum kerajaan
yang ia tuju, kota “ruh”, disini ia menghabiskan waktu hanya semalam, seperti
layaknya bermimpi tanpa kenyataan, merasakan sesuatu yang hilang saat
terbangun, trersesat di dalamnya adalah mengundang kematian. Di kota ruh ini
dijaga oleh beberapa malaikat di bawah pimpinan malaikat “Eva”, kecantikannya
sangat luar biasa, walaupun makhluk ini tanpa kelamin tercipta.
“Kerajaan
yang kamu tuju saat ini sedang dipimpin oleh raja yang durjana, memerintah
tanpa mau diperintah, menunjuk tanpa mau ditunjuk, merasa suci, merasa paling,
kitab suci yang terbaru saja sudah dirobeknya dan ia mengecam seluruh rakyatnya
jika saja menyimpan apalagi melaksanakan ajaran yang ada di dalam kitab suci
terbaru itu” Malaikat eva mencoba menghalang pemuda itu didaerah perbatasan.
“Apa
sebab raja tersebut tidak menerima ajaran terbaru dari risalah sidang para nabi
yang baru, cukuplah, aku rasa kau banyak membual, aku juga tidak ingin bertemu
dengan rajanya aku hanya ingin bertemu dengan rakyatnya, jirawa” pemuda itu
menimpali sembari terus melangkahkan kaki.
“Baiklah
pemuda yang gagah dan berani, aku hanyalah utusan Tuhan, aku hanya ingin
memberitahukan kebenaran saja padamu, aku juga tak ingin dimarah oleh pemimpin
seluruh malaikat, ada satu hal rahasia yang perlu engkau ketahui mengapa sang
raja dianggap durjana oleh seluruh mata, ya karena ia memakai ajaran lama,
membiarkan seluruhnya dalam kepercayaan berbeda, sedangkan para nabi telah
bersepakat sama, sebab kata ia, perbedaan adalah keindahan, menjadikan
kreatifitas, yah begitulah, aku terlalu banyak omong padamu, sebelum kau
meningglkan kora ruh ini, aku akan memberikanmu sebuah ilmu yang bernama
“perbedaan” pakailah jika kau perlukan”
“Terimakasih
Eva, aku akan manfaatkan jika waktunya” kemudian pemuda itu menghilang seperti
hilangnya matahari ditelan awan hitam, menjadikan mendung dan hujan, kilat
menyambar, siang hari tanpa gerhana.
Maut
mengintai dari balik langit, binatang malam menunaikan hajatnya, ada yang
berdarah di intai musuhnya, dicabik oleh dendam dan amarah, hidup mereka saling
menyisihkan untuk kelangsungan dengan cara yang baik maupun terang – terangan.
__File_X__
#Jirawa
“Aku mengutuki sidang itu, sidang
itu terlalu terburu. Tidak mungkin seluruh manusia mengalami persamaan, apalagi
kitab karangan Devis, selalu melebih-lebihkan, apa indahnya dunia ini jika
hanya kesamaan yang selalu hadir diantara kita, kirimkan kabar pada Silama di
Negeri utara, aku rasa kita harus menggugat para nabi, sidang yang hanya
menghabiskan harta tanpa guna, sedangkan manusia masih memiliki kekurangan
dalam hidupnya” lelaki berambut putih dan berjanggut hitam itu menatapi langit,
di lengan kirinya ia membawa kitab karangan Devis di lengan kanannya terselip
lima buah tasbih yang menyatu.
“Mohon pamit guru, saya akan
sampaikan pesan daripada sang guru pada guru silama”, pesuruh itu pun kemudian
meninggalkan pelataran tempat sang guru nya berada.
“Diketeduhan, dikedamaian negeri
ini, dikehingarbingaran angkara, zaman sudah banyak berubah, harus dihadapi
bersama, berkembanglah harapan-harapan mengudara, bagaimanapun hidup adalah
bermanfaat bagi orang lain” ia hisap sebatang lisong, matanya menatap angkasa,
mulutnya komat-kamit sendiri.
“Aku adalah sekecil-kecilnya
ciptaan, aku hanya harapkan pada orang-orang suci yang terpilih itu berpikir
sama seperti demikian, tanpa adanya rasa congkak, sebab mereka adalah bagian
dari manusia, sepantasnyalah berpikir secara manusia” satu nafas itu ia
lepaskan asap yang memasuki tenggorokannya.
Kilat menyambar diudara, angin
berhembus kencang, padepokan tempat Jirawa berada kini terasa dingin sekali,
seluruh isi padepokan keluar melihat perrtanda alam, namun kemudian terlihat
hijab menutupi pelataran, secepat kilat menyentuh tanah, muncullah sosok
berjubah hitam, tepat langsung berada didepan Jirawa.
“Selamat datang Jabriel, ini lah
padepokanku yang sangat sederhana, bukan seperti istana tempatmu berada, ada
apakah gerangan yang membawamu ke tempatku ini”. Jirawa menyambut tamunya
“Sudahlah Jirawa, tak perlulah
berbasa-basi, aku sudah bosan mendengarkan namamu menjadi perbincangan langit”
Suara Jabriel menggetarkan, seolah dinding padepokan akan rubuh.
“Apa hal itu menjadi urusan ku?,
bukannya mereka orang-orang suci dan terpilih yang menyebabkan seluruh
kekacauan ini, dan ya, penyampai-penyampai sabdanya yang tak dapat dipercaya?,
itu semua salahku? Apa salah aku berbicara dengan mulut yang diberikan Dia sang
pemilik tujuh, aku ingin bertanya padamu, bagaimana kabar orang suci ke dua
puluh, mengapa tak dihiraukan dalam sidang waktu lalu”?, Mata Jirawa menatap
Jabriel dalam-dalam.
“Aku panglima para malaikat Jirawa,
jangan anggap remeh aku, jika aku mau, aku akan suruh malaikat maut kemari
dengan pisaunya menghunus tubuhmu, mnggorok lehermu, membelah badanmu sampai berkeping-keping,
urusan orang-orang suci sudah bukanlah urusan aku, aku hanya menyampaikan apa
yang harus kusampaikan tak ada yang tak kusampaikan, kau mengerti Jirawa!”.
Setengah membentak Suara Jabriel dan memalingkan mukanya dari Jirawa.
“Maksud kamu, Tuhan mulai
menyesatkan ciptaan-Nya, jujur sajalah, jangan menimbulkan prasangka tak baik
kepada pencipta, apakah Tuhan sudah membiarkan umat-Nya dalam nestapa seperti
kisah kaum sejenis dahulu, Hai Jabriel engkau sebagai panglima dari seluruh
malaikat, tanggungjawab mu diantara manusia dengan Tuhan dimana, ataukah memang
sekarang malaikat sepertimu sudah tak bisa dipercaya”. Kali ini Jirawa sedikit
berang.
“Apakah tak peduli padaku dirimu
Jirawa, aku dapat dengan mudahnya menurunkan bencana di muka bumi, meletuskan
gunung, membuat tsunami di lautan, menyebarkan wabah, sedangkan engkau, apa
yang engkau dapat perbuat, hanya mengeluh dan mengeluh, mengutuki takdir yang
berjalan, memaki seluruh ketetapan, berpikirlah wahai Jirawa, Satan bersemayam
padamu”.
“Alasan,
alasan yang selalu engkau berikan, marilah Jabriel, aku tak pernah gentar
berhadapan denganmu, keluarkan lah seluruh kesaktianmu”
“Aku
kemari bukan untuk beradu ilmu padamu Jirawa, aku hanya mengingatkan padamu,
bahwa Satan sangatlah kuat, ia memiliki kekuatan yang hampir sama denganku, ia
dapat meniru tanpa beda sesuatupun dengan kami para malaikat, dan apar nabi pun
sekalipun. Aku ingin engkau mengikuti ajaran yang sudah ditetapkan Jirawa, aku
memberimu beberapa waktu, aku tak ingin Yang Memiliki Kuasa memaksa dengan
mendatangkan bencana, Aku pergi Jirawa”. Kilat menuju langit, tanah bergetar
kembali, hijab terbuka, kini para murid melihat kembali gurunya.
_File_X_
#File_X
“Klontang-Klonteng”
gesekan kaleng saling beradu dipesawahan. Pak Tani merapikan hasil
pekerjaannya, sebentar lagi mendung, ia makan nasi yang terbungkus rapi, sajian
khas istri untuk suami yang disiapkan sejak pagi, sebentar ia melihat gerak
burung lunglai diatas pesawahan, gagak-gagak berani pulang lebih awal, hari
mendung, senyum manis sang istri dikenangnya, desahan manjanya terngiang
ditelinganya..
Terlihat,
rakyat menjerit kesakitan, lahan kubur semakin sempit, penguasa nya mengurusi
pribadi, suara demonstrasi memenuhi halaman Koran, tayangan televisi, saling
mengutuk dan menyalahkan, panji-panji dirobek dan dibakar, foto-foto di coret
dan dibakar.
Lenguhan
lembu menggarap pesawahan, hijau tenteram, nyanyian anak-anak di kala purnama,
bermain di bawah cahaya temaram, nelayan menebarkan jala, angin bertiup
perlahan.
Ribuan
manusia mengutuki takdirnya, menyalahkan Tuhan pemilik semesta tanpa berbuat
apa-apa, ribuan lainnya menyadarkan pada jalanan pemberi kehidupan, ribuan juga
jumlahnya mengungsi dari alam yang semakin murka dan bosan melihat tingkah
manusa, ribuan juga diantaranya memakan bangkai saudaranya sendiri, membunuhi
saudaranya sendiri tanpa perasaan bersalah, dengan proyek bernama pembangunan.
Tuhan
disebutkan oleh mereka, kaum-kaum yang terbuang, kaum yang terpinggirkan, di
pintu kematian, saat semua harapan sudah hilang dan luput dari pandangan mata.
Bangunan – bangunan ibadah menjadi tempat mata pencaharian, orang-orang yang
merasa suci di gaji dengan tinggi, urusan keyakinan di sebarluaskan.
Seperti
ilmu yang diajarkan, harusnya memuliakan manusia, membangun manusia, menjadikan
manusia penuh martabat. Memberikan manfaat untuk semesta, namun godaan dating
kemudian, penuntasan nafsu dengan segala bentuk rupanya.
Semuanya
berangkat dari mulanya, dari awalnya sesuatu itu lahir, sebelum ia di tempa
dari apapun juga, dari putih untuk menjadi warna lainnya dan kemudian akan
kembali menjadi putih, tanda kesucian.
“Ingin
ku simpan semua dalam buku ini, ku simpan semua seluruh ketabuan yang sering
dipikirkan namun sulit diucapkan, di dalam buku ini, agar kelak semua
mengetahui dan menjadikannya sebuah pelajaran menghadapi kehiudupan, kehidupoan
yang terus bergerak berjalan,” Pak Tua
meletakkan buku usang tak bersampul, terbuka terttiup angin, melewatkan
beberapa halaman, begitu bersih dan rapi isi tulisan, ada hitam dan putih.
#Kilometer
0
“Kau mengerti
Michael, ikutilah selalu dan lindungilah para nabi, saat ini gelombang ketidakpercayaan
manusia kepada para nabi sudah semakin tinggi, lihat rumah ibadah semakin sepi,
sebentar lagi aku yakin hampir semua orang tak mempercayai lagi sesuatu yang
tidak dapat dilihat mereka, semua menjadi rasional di mata manusia” Jabriel
memerintahkan malaikat Michael untuk melakukan suatu tugas yang tidak biasanya
dilakukan., sebab sebelumnya Michael hanya ditugaskan memberikan rejeki kepada
manusia, yang terkadang selalu dipandang tidak adil dan tidak ada yang
mengaturnya.
“Tapi Jabriel, bagaimana dengan
malaikat lain, aku mendengarkan mereka sedang melakukan sekutu untuk penggulingan
dirimu, apakah engkau sudah mendengarkan suara yang terjadi di bawah,, aku
tertarik untuk tidak lagi mengakuimu sebagai panglima tertinggi dari para
malaikat”. Tatapan mata Michael tajam seperti ingin menguliti sayap Jabriel
yang terbuat dari emas nan bercahaya.
“Baiklah jika itu maumu, enyahlah
engkau dari hadapanku Michael, jangan sampai ku mintakan Izra mencabut nyawamu”
matahari seakan menjadi murung melihat tingkah laku ciptaan yang mempunyai
sifat melebihi pencipta, semuanya menjadi seperti marah, ombak bergerak semakin
cepat, degup jantung melejit.
“Hai Izra, malaikat kegelapan,
kematian selalu menyertaimu, tebarkan bunga, tembang kesunyian, ciptaan yang
tak bermuka, engkau polos seperti kertas yang melayang di udara, datangmu
menjadi ketakutan seluruh makhluk, hai kematian yang selalu dirindukan
kesucian, mereka yang selalu menanti kedatanganmu untuk berjumpa dengan
Tuhannya, . . . Hai Izra, aku memanggil
namamu, datanglah” . . . . . lelaki itu
memanggil malaikat izra dengan tulus dalam hatinya, di genggamnya kitab suci
yang bertuliskan “kitab akan diperbaharui sepuluh tahun lagi, tanpa nama
penulis”.
Di depannya hanya hadir wewangian
kembang melati, tumbuhan disekitarnya mendadak mati, sebuah senyum berseri
diberikan lelaki itu, dimulutnya terlihat terbata mengucapkan sesuatu yang
bersuara dan kemudian hilang perlahan.
“Mari susun rencana, menumbangkan
kesewenang-wenangan, Michael, kamu lah saat ini menjadi kepercayaanku, Jabriel
harus digulingkan, mari kawan-kawan semua, kita yang berada disini sudah muak
melihat alam yang semakin dirusak, kita hanya patuh pada Tuhan semesta alam,
dari titik ini kita akan mulai bergerak, kelak nanti setelah peperangan semua
ini akan kita akan kenangkan, titik ini kita mulai, sampai sepanjang apapun
tanpa henti, inilah kilometer 0” suara sang malaikat penjaga alam kenestapaan
neraka menggelegar di galaksi yang terbentang tanpa batas.
#Dua
Angin, Delapan Penjuru
Hanya
ada sisa dan kenangan dari setiap perjalanan anak manusia, melangkah dan
melintasi zaman yang terus berubah, tantangan yang selalu berbeda, cerita yang
terus bergerak dengan tokoh dan dan nama lain-lain, punya kisah yang akan
selalu menjadi tauladan, contoh, tuntunan kebaikan dan keburukan.
Alkisah,
negeri itu selalu aman dan makmur, setiap rakyatnya adalah raja, rajanya adalah
rakyat yang memanggul penderitaan seluruh rakyatnya. Rajanya sangat disenangi
oleh jutaan rakyatnya maupun kerajaan tetangganya, tanahnya sangat subur, hasil
buminya melimpah, rakyatnya ramah kepada siapa saja, tidak tampak
pengawal-pengawal kerajaan yang bermuka kejam berdiri disetiap sudut keramaian.
Inilah
negeri bincangan para malaikat, perdebatan para nabi, tentang arif dan
bijaksananya sang raja sehingga mencuri perhatian langit dan bumi. Sudah
beberapa kali para nabi berdoa kepada Tuhan agar raja yang arif dan bijaksana
dimasukkan ke bagian mereka, menjadi orang-orang suci, dan beberapa surat yang
telah diberikan kepada kerajaan tentang hal itu namun tetap saja raja tak mau
menghiraukannya, sang raja hanya beralasan, untuk sedemikian rakyatku saja aku
masih belum bisa berlaku adil, arif dan bijakasana dan menjadi tauladan,
apalagi menjadi bagian dari orang-orang
suci yang menjadi tauladan seluruh umat manusia.
“Dua
angin, delapan penjuru” negeri ini bernama sangat panjang, seperti
mengisyaratkan sesuatu, tanya pemuda dalam gumamnya ketika telah sampai
diperbatasan, ia melihat langit yang
sangat cerah diatas negeri itu, sejuk yang nyaman ketika akan memasukinya,
semuanya tenang, sesekali ada angin semilir, suara lonceng berdentang berbunyi
mengalun.
Negeri
ini adalah warisan para leluhur, konon katanya leluhur mereka ada orang-orang
terpilih, berasal dari ibu yang tiada berbapak, kehamilan terjadi di luar
kehendak manusia, banyak mempercayainya, dan banyak pula mendustanya.
Dua
angin adalah kebulatan tekad, adanya manusia dan penciptanya, adanya
pasangan-pasangan seluruh makhluk dimuka bumi, adanya kebaikan dan keburukan.
Delapan penjuru merupakan langkah yang
akan ditempuh oleh setiap petualang, penunjuk arah menjadi pegangan. Negeri
dengan rahmat Tuhan yang tiada terkira, siangnya adalah kesejukan, malamnya
adalah kehangatan bagi yang terlelap maupun terjaga.
Negeri
yang makmur, setiap rakyatnya memberi kepada yang papah, ketimpangan hampir tak
terjadi, jikapun ada rajanya yang bijaksana akan langsung menimpali. Inilah
negeri rahmat, siapapun akan menjadi selamat, demikianlah yang selalu terlihat.
Selalu
bersyukur dan tak mengeluh, giat bekerja, saling mengasihi antara sesamanya,
maupun alam yang mengitari, salah satu kunci kesuksesan negeri dengan rakyat
yang madani.
#Purnama
ke-duabelas
Nun, sampailah sang pemuda pada
negeri impian yang menjadi perbincangan, ia menemui yang ditujunya, Guru
Jirawa, siang berganti malam, hari berganti bulan, hingga purnama ke-dua belas
akhirnya guru jirawa berbicara padanya, memasuki tapa pemuda itu dalam
heningnya. Bayangan mendekapnya dan perlahan membisikinya
“Engkau adalah utusan, engkau adalah
kelak kebanggan, engkaulah yang akan datang, yang nanti akan selalu di pujakan,
engkaulah nanti pengubah keruh menjadi bening, cahaya-cahaya akan ku doa’kan
padamu, sadarlah-sadarlah, temuilah para nabi, temuilah pimpinan orang-orang
suci itu, kelak mereka mengerti jika kau katakan kalimat ini, “Hai yang tenang,
jangan berlaku sewenang-wenang, tiada beda dan yang perlu ditentang, saling menghormati
dengan hati lapang”. . . . . . . . . . .
. .
Purnama kedua belas, pengakhiran
tahun, awal baru akan datang, sebagaimana mestinya kelahiran dan kematian, -
“Kabarkanlah, kabarkan, apa yang
kamu lihat, rasakan dan yang akan dilakukan, semuanya demi atas nama
kemanusiaan, boleh bangga namun jangan congkak dengan menindas hak kemanusiaan
lainnya, jadi dirimu sendiri meskipun pengaruh yang sangat besar itu menghampiri
hidupmu setiap kali, berdirilah, tentukanlah sikapmu, perang di Sangkakala akan
segera terjadi, bersiaplah, bersiaplah, . . . . . . . utusan”.
#Tanah
yang dijanjikan
“Kepercayaan
ini sudah disusupi Silama, tak ada lagi yang bisa diharapkan, masing-masing
mementingkan diri sendiri, lihat saja mereka, rela memeras sesamanya atas nama
kepercayaan atas nama dermaan, surga dan neraka diceritakan, ada pahala dan
dosa, apa yang harus dilakukan, peraturan demi peraturan kemudian lahirlah
bagai gelombang, tak henti-henti, demi akhlak manusia tujuannya, bukankah
sungguh mulia Silama, sangat indah Silama, mengantarkan mimpi panjang dunia
dalam kedamaian abadi, namun nyata perang antara saudara sendiri bukan, . . . . . . . . . Silama, dengarlah”.
“Disana
didirikan tembok menghalangi istana, disana juga darah menjadi telaga, lemparan
pujian dan cacian bercampur, tempat dimana semua menujunya, tanah yang akan
diberikan, seluruhnya mengaku itu adalah titipan, berkelompok saling berebutan
atas nama Tuhan, mereka menyebutnya dengan tanah yang dijanjikan, adakah engkau
mengetahui mereka Silama, mereka diantara orang-orang bumi yang tersisa”.
“Kau
dengarlah Silama, kefanatikan menimbulkan kebanggaan yang berlebihan dalam
jiwa, merasa paling dengan menimbulkan kerugian pada nasib kemanusiaan,
kepercayaan ini Silama, masih jelaskah batasan toleransinya?”
Patung sedari tadi menatap kini
terasa geming, suara gemuruh langit memanggil, patung yang berdiri kokoh itu
tak roboh walau dengan badai sekalipun, apalagi tsunami, semua terlihat indah
diatas tanah ini, yang dibangun dengan suka oleh para leluhurnya, diberikan
darah oleh cucunya, atas nama kepercayaan menghancurkannya, reruntuhannya
hanyalah tangisan langit.
“Silama, dengarlah, jika Tanah ini
lenyap, usai sudah kepentingan mereka, adalah waktu jawaban atas segala.
Silama, hanya engkaulah satu-satunya yang mengerti aku, saat ini para nabi
sudah melakukan sidang yang ingin meluruskan kepercayaan yang sempat terbagi,
namun tetap saja para pengikutnya saling berkelahi, semuanya demi nama
kepentingan, para penulisnya pun membodohi, diikuti para penyiar kabar yang
selalu membumbui, inilah Silama, aku menginginkan perbedaan yang ada tetaplah
terjaga dengan saling menghormati dan mencintai, bukankah itu inti ajaran
semua, Silama, . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . Temui aku di
Gunung Raga, di purnama ketiga belas, -
Patung itu diam tak bergerak, suara
ombak memanggil dari kejauhan, suara-suara amuk marah masih saja terdengar,
apalagi rintihan anak menggepal batu dengan lagu pujian Tuhan, mereka masih
disana, mempertahankan tanah kelahirannya, Tanah yang dijanjikan.
Setiap
butiran pasirnya sebuah karunia tersendiri, tanah kering ini memiliki
kebudayaan tinggi masa lalunya, diwariskan untuk dijaga, dengan perdamaian,
harapan menjadi terbentang untuk berbagi dalam perbedaan, bukannya semuanya
beda.
#Antara
Kita
Hai
kekasih, menjelma kembali air mata ini, melewati hari, melewati waktu dengan
menunggu, demi harapan pada sesuatu yang tak perlu, kita akan baik-baik,
melewati waktu dengan bijak, menapaki perjalanan tanpa memihak, kebenaran dan
kebohongan hadirnya dari diri kita, menghakimi sesuatu yang berasal dari diri
bukan hal yang mudah, janganlah tergesa-gesa.
“Ketika
diam adalah jalan keluar dari setiap permasalahan, bukannya hanya menghadirkan
bayangan-bayangan ketakutan yang tak akan ada hentinya, kamu, aku, dia, kita
adalah lingkaran masalah, adanya itu keindahan yang tak terkira, kedewasaan
hasil yang tertempa, ketika bicara adalah jalan keluar dari setiap
permasalahan, janganlah menyakiti, berbohong apalagi menggurui”. Kelebat
bayangan disudut cahaya putih terlihat berwarna pelangi, ia bersuara diantara
langit yang diharapkan akan hujan.
Hai
kekasih, sudahkah engkau pergi tanpa memberikan kasih putih yang dahulu ku
citakan, memeluk kesepian adalah kenyataan yang tak dapat dihindari, bahkan
sesal tak akan kembali, baik-baik saja bukannya seperti itu yang kita selalu
impikan.
Ada
kesempatan, ada fajar yang cerah dan senja terindah, bagaimana saja melewati
dengan senyuman tanpa tangisan luka, jikapun terluka kita berjanji akan
menguatkan bersama.
Hai
kekasih, memiliki cinta, cita dan asa, semuanya melengkapi, lelaplah dalam
mimpi indah.
Kekasih,
tak mungkin dirimu kucurangi, karena aku menyangimu seperti ku menyayangi
diriku sendiri, terkadang aku berbohong pada diriku sendiri namun tak bisa pula
ku tak banyak jujur atas diriku sendiri. Cinta jadikan lelah dengan semangat
bertubi, kekuatan sejati memberikan kehidupan, kepastian diketidakpastian,
antara kita, adakah yang terlewatkan. Antara kita adalah kepercayaan.
“Ketika diam adalah jalan keluar dari setiap
permasalahan, bukannya hanya menghadirkan bayangan-bayangan ketakutan yang tak
akan ada hentinya, kamu, aku, dia, kita adalah lingkaran masalah, adanya itu
keindahan yang tak terkira, kedewasaan hasil yang tertempa, ketika bicara
adalah jalan keluar dari setiap permasalahan, janganlah menyakiti, berbohong
apalagi menggurui”. Lonceng berdentang, orang-orang berdatangan, merpati
kemuruyuk hadirkan tanya, orang-orang berdesakan menuju satu pintu, bayangan
putih tersenyum kibaskan sayapnya, terbang entah kemana.
#Saudara
“Bagaimana Michael, sudah bulatkah
seluruh tekadmu untuk bergabung dengan kami, demi menggulingkan ketitahan
Jabriel di singgasananya yang terlalu empuk untuk mengatur seluruh bawahannya,
jika memang kamu telah sepenuhnya ingin bergabung dengan kami, maka kami akan
membeberkan rencana rahasia yang akan kami lakukan”. Malaikat bermata satu
menyapa malaikat Michael dengan helaan nafasnya, terasa dingin disekitar, saat
itu hanya sekitar lima ratus prajurit yang menyaksikan pertemuan itu.
Michael berjalan menyusuri tempat
itu, tidak terlalu besar bagi ukuran dunia, hanya terdiri dari beberapa helaian
sayap-sayap para malaikat yang patah dan tampak sebuah terompet besar dan
berdebu duduk persis ditengah-tengah ruangan. Teringat ia ketika ia masih merupakan
bagian dari Jabriel, Jabriel selalu mengajarkannya tentang kebajikan,
melaksanakan perintah tanpa membantah.
Michael mulai berkhayal tentang
kisahnya, sesekali ia mengepakkan sayapnya memandang jauh angkasa yang memiliki
milyaran jumlahnya, beberapa bayangan kemudian terlintas dalam benaknya yang
membuat ia kemudian terduduk dan terdiam.
“‘Pagi itu, di suatu hari dengan
fajar menyingsing, embun seperti biasa hentakkan dingin yang menyelimuti, kali
ini di musim kemarau yang sangat panjang akan selesai dengan harapan yang
datang, hujan. Dibutuhkan beribu manusia disana, katanya mereka telah melakukan
ritual demi tetesan air langit ini, ada saja macam caranya, namun dilangit,
masih terlihat sang fajar belum mengakhiri
Kelebatan sayap bersiaga menantikan perintah, pemberi perintah itu masih
belum memberikan titah, mereka masih menari diudara, dilangit masih bercahaya.
Suara-suara mengaduh, mengeluh
kemudian memisuh, kepada langit mereka dongakkan kepala, bertanya kemana semua
arti sesaji ataupun ritual yang telah siap dan selesai, kata-kata makian
terlontar dalam-dalam, awan masih putih dengan semangat cahaya matahari. Tanah
retak seperti tak memiliki masa depannya menjadi basah, makanan sudah tak bisa
lagi untuk memuliakan panen, air simpanan telah habis sebulan lalu, hama-hama
juga telah tertidur dibaliknya untuk selamanya. Terduduk disana diatas kumpulan
awan putih, dengan sayap tak lagi terbang, menunggu titah daripada pemimpinnya,
menjatuhkan air langit. Saat itu secepat kilat sesosok makhluk hadir dihadapannya
yang memaksanya untuk berdiri dan menebarkan senyum. Jabriel telah datang jawab
seribu prajurit seketika menjadi ramai.
“Hujan
Michael, Tuhan telah menurunkan titah, aku hanya menyampaikan, sebenarnya tanah
ini tak terlalu menjadi hirauanku, karena kau tahu sendiri negeri ini sering
mengingkari risalah-risalah tentang kita, meskipun begitu Tuhan tetap baik
memberikan karunianya, bukan karena mereka memberikan beribu sesaji, inilah
cara Tuhan menyapa hambanya Michael”.
“Hahaha,
kamu seperti biasa Jabriel, selalu begitu, masih ingatkah kau saat kita
tercipta, kita masih sama saat itu, bermain bersama saling mengingatkan,
menguatkan, hingga akhirnya kita diberikan tugas saat adanya manusia, kita
lebih cepat dari waktu hingga waktupun tak bisa memisahkan kita, hahahaha,
Jabriel, tenanglah, sebentar lagi mereka akan bahagia, lihat saja apa yang akan
aku lakukan”, -
“Bersabar
menantikan sesuatu mendapatkan sesuatu yang berlimpah Michael, bersabarlah
saudaraku, hujankanlah Michael mereka pasti akan senang sekali, dengan kisaran
waktu yang wajar saja, terlalu lama tak pernah baik. Sesuatu yang terlalu lama
menjadi bencana Michael, sebelum itu tunggu sebentar Michael aku akan
menyelamatkan anak yang sedang terlihat murung disana itu, wajahnya mirip
dirimu, hahahaha”. Suara Jabriel membahana, ribuan pasang mata prajurit
malaikat terheran menyaksikannya.
“Kamu
adalah pimpinan tertinggi dari seluruh malaikat disini Jabriel, apakah engkau
mempermalukan dirimu sendiri didepan mereka” Michael mencoba untuk menghentikan
langkah Jabriel yang akan turun dari atas awan.
“Adakah
malu untuk kehidupan?, untuk kelangsungan hidup ciptaan Dia yang Maha Segala
Tahu, aku yakin juga Izra tak menjemputnya saat ini, aku akan menjemputnya
sekarang Michael, anak itu sungguh tak ingin menunggu ku terlalu lama” Secepat
kilat anak yang sedang murung ditepi jurang yang hampir saja menenggelamkan
dirinya dan kini anak itu telah terlihat terduduk diatas tanah yang lebih
tinggi dimana banyak manusia melihatnya.
“Tumbuhlah
besar Ethan, semoga kelak engkau menjadi ciptaan yang beruntung, Michael
lakukanlah sekarang juga, air langit yang mereka nantikan” Setelah itu Jabriel
menghilang diikuti oleh ribuan malaikat diiringi suara hujan yang turun dan
sorak sorai oaring-orang yang berada disana.
Disana
tanah yang kering menjadi basah, air langit telah tumpah, air mata mereka kini
berganti bahagia, sejenak peperangan dalam diri dan badan terhenti, ucapan
syukur tiada henti, diatas tanah nenek moyang mereka, diatas tanah suci, anak
kecil tadi masih berdiam diri. –“’
“Jabriel,
kelemahanmu adalah welas asih, tak pernah sedikitpun engkau berfikiran, aku tak
tahu apakah keabadian padamu masih berlaku sebelum seluruhnya menjadi luruh, kau
tahu kan kejahatan dan kebaikan akan selalu adan berimbang, kali ini aku akan
menunjukkan kalau hal itu tidak selalu ada Jabriel, hari ini adalah takdir
kita, garis yang harus dilaksanakan”.
“Jabriel!
Tenanglah, berdirilah dengan tenang, berdiamlah dengan bimbang, kematianmu
adalah tujuan yang akan datang, istirahatlah dengan tenang, Jabriel! Darah putihmu adalah kemuliaan, mari maju
seluruh malaikat, jatuhkan istana Malapura, tindas kesewenangan”
#Obituari
Sudah
pagi ternyata, ini pagi terakhir ku menyaksikan mentari terbit di hidup ini,
suara azan pertanda ku menghitung detik terakhir ku menjadi ciptaan Tuhan, dan
engkau pasti tahu Michael, semua ini takdir daripada-Nya, sang Pencipta. Aku
tahu kau akan datang dengan ribuan pasukan terbaik, para malaikt yang katanya
inginkan perubahan namun tak pernah mengerti makna dari ucapannya.
Malam
tadi aku tak bisa lagi beristirahat seperti biasanya, kejadian ini memaksaku
untuk tak menangisinya, kau pasti tahu bukan sang Yang Tenang memanggilku untuk
mengatakan ini sebelum semuanya terjadi, pagi ini Michael, engkau telah
melakukan bagian dari takdirku dan takdirmu.
Aku
adalah pimpinan dari seluruh malaikat, semoga dengan kehilanganku kalian kelak
akan mendapatkan yang baik dari yang terbaik, carilah yang sesuai dengan kemauan
kalian, pastinya semua bergantung pada sisi cara pandang penafsiran, adapaun
yang terbaik tentulah buruk bagi sebagian.
Matahari
tersenyum memberikan salamnya yang terakhir untukku, kelak aku hanya ingin
kisah ini akan dikenangkan dengan cerita tanpa ada kebohongan didalamnya,
pertempuran ini awal perubahan dunia ini, semoga kalian kelak mengenangnya
dengan nama “darah malapura”, beritakanlah seluruh alam, cerita dengan fitnah
terekayasa oleh kabut tebal dengan topeng pelindung.
Michael,
membunuhku bukan berarti engkau kelak menjadi pahlawan yang tak terlupakan,
beberapa dari mereka pasti akan mengetahui mata yang basah saat tubuhku rebah,
saat Izra melakukan tugasnya, dan engkau tahu semuanya bukan, kita adalah
pesuruh, apapun itu, walau dengan pemimpin ataupun tanpa pemimpin kita tetap
makhluk ciptaan, untuk apa kehormatan dengan jabatan jika menimbulkan
kedendaman, cahaya memang pernah bersinar, namun ia akan redup jika sudah
waktunya, ini bagian dari tubuhku, sudah waktunya untuk pulang, terimakasih,
doaku padamu kupanjatkan,-
#Malapura
Apa
yang membawa dendam hingga tak berkesudahan, apa yang membawa masalah hingga
tak termaafkan. Alam raya sedang duka, seperti tak berniat lagi melanjutkan
kehidupan, apa yang membawa pengkhianat tanpa kepercayaan sedikitpun, adakah
takdir jawaban seluruhnya, bunga-bunga melati berguguran seperti turut
mengantarkan duka, dicatatkan sudahkah pengkhianatan atas dendam yang tak
berkesudahan, hingga masalah yang ada tak termaafkan.
Malapura
tinggal puing tegak kosong tanpa secuilpun perhatian, di setiap sudut patung tanda
kekuasaan telah dirubuhkan. Malapura saat itu telah kosong tanpa apapun, hanya
terliaht sebuah kursi dengan riasannya tanpa diduduki sesuatu apapun,
selebihnya penuh dengan genangan kesedihan yang dibawa oleh bawahan yang setia.
Disana,
kelebat bayangan putih turun dari langit, lengkap dengan sayapnya yang berkilau
keemasan, ia diikuti beberapa prajurit yang lahir dari percikan bulunya,
disebelah lengannya kitab, sebelah kirinya adalah tasbih yang selalu bergerak,
ia melepaskan pandangannya kepada keadaan sekitar, Ia mengelilingi Malapura
sebanyak tujuh kali, di kali terakhir ia sadari bahwa ia tidak menemukan apa
yang ia cari.
Izra
terlihat sangat menderita, raut wajahnya berubah murung atas peristiwa takdir.
Suara ampunan kepada yang Maha Pengampun dilakukannya hampir tak berhenti, air
matanya menjadi sayatan bagi siapapun. Angin bertiup menuju ke selatan, seolah
memang kematian menjadi keinginan, telah terlewatkan, semua akan kembali,
ciptaan menjadi kenangan.
#Kepercayaan
Para
nabi berkumpul kembali, kali ini terjadi sidang yang lebih lama dari biasanya,
sudah satu purnama berlalu namun mereka belum juga menyelesaikannya, salah satu
penyebab adalah peristiwa yang terjadi di Malapura, penulis dan periwayat
akhirnya mencuri dengar, kisah yang dianggap kebenaran, kepercayaan, demikianlah
yang mereka dengar dari sidang yang berlangsung lama dan belum selesai itu.
“”Semuanya
bermula dari suatu cahaya, cahaya dicampurkan kedalam tanah, jadilah ia
manusia, cahaya dicampurkan kedalam zat yang terbuat dari cahaya, jadilah ia
malaikat, cahaya dcampurkan kedalam api, jadilah ia satan.
Tersebutlah
ia Adam, nama manusia pertama yang diberikan oleh Yang Maha Agung, ia dibentuk
dari sari pati tanah, dan kemudian dikisahkan kalau ia sangat ingin memiliki
pasangan karena ia tak sanggup menjalani sepi, lalu diambillah sebuah tulang
dari rusuknya, dan terciptalah seorang manusia kedua, diberikanlah namanya Eva.
Adam
sebagai lelaki pertama dan Eva sebagai wanita pertama, dari keduanya lahirlah
keturunan yang sangat banyak hingga akhirnya masa, dan silsilah yang tercatat
mereka memiliki putra yang lahir bersamaan dengan putri yang masing-masing
disebut kembarannya.
Begitulah,
manusia akhirnya beranak dan bercucu, dikisahkan selanjutnya ketika Nuh
mengaharungi bahtera, membawa seluruh orang-orang yang mempercayainya, dan
beberapa hewan tumbuhan, saat itu terjadi banjir yang sangat besar hingga
menenggelamkan dunia hampir seluruhnya, peristiwa ini terjadi karena Yang Maha
Pemberi memperingatkan orang-orang yang tak mempercayai manusia yang mencoba
mengenalkan ia, Yang Maha Tinggi.
Kemudian
lahirlah ia penerus keturunan yang besar, namanya adalah Abrahama, ada yang
memanggilnya Ibrahim, ada pula hanya dengan Abraham, pelafalan dialektika
antara manusia yang satu dengan yang lainnya yang berbeda, ia memiliki dua
orang istri, pertama bernama Hajar dan yang kedua bernama Sarah, Hajar dan
Sarah saling menghargai sebagai istri dari lelaki yang dikasihinya, walaupun
terkadang cemburu merajai.
Perpecahan
bangsa yang besar dimulai saat era ini, penerus yang tergerus kemudian memisah
sendiri, padahal leluhurnya tak menginginkannya, generasi itu memisah besar
dari kedua keturunan besar, Ismaili dan Ishaki.
Ismaili
menurunkan suku arabi yang melahirkan kepercayaan besar mengenai Yang Maha
Tunggal, kepercayaan itu disampaikan oleh manusia yang diberikan gelar utusan
terakhir, sehingga dengan demikian kepercayaan ini menghabiskan seluruh utusan
yang pernah ada.
Ishaki menurunkan suku dan ras –ras yang
sangat besar, tercatat ada dua kepercayaan besar mengenai Yang Maha Tunggal,
kepercayaan itu disampaikan oleh manusia yang masing-masing diberikan gelar
sang raja, dan sang penyelamat.
Tentu
saja perbedaan cara pandang mengenai Yang Maha Tinggi semakin melebar,
masing-masing saling membenarkan, masing-masing saling mendikte, dengan
kerajaan yang telah mewah dan megah, tentu saja menimbulkan kekuasaan dan
kepentingan.
Saat
ini masing-masing memiliki pemahaman yang sangat timpang, tentu saja penuh
kepentingan, tercatat sudah beberapa kali terjadi pertumpahan darah, darah yang
sama, menginginkan kematian tanpa pernah pedulikan asal kehidupan.
#Perbedaan
“Batu
ini berbentuk lonjong, bukan bulat apalagi persegi, namun bagaimanapun batu ini
dapat beberntuk apa saja, tergantung bagaimana kita memandang dan membentuknya.
Aku dan kamu memliki pribadi sendiri-sendiri, watak tersendiri, kepercayaan sendiri,
beberapa dari kita berkelompok dengan mencoba menyamakannya, itu saja terkadang
terpecah-pecah, asal, memiliki hal yang tidak pernah sederhana”.
Kira-kira
seperti itulah para penulis dan periwayat dengarkan dan coba kabarkan pada khalayak,
tak sedikitpun menambahi ataupun menguranginya, seperti bak disihir, mereka mendengarkan
dan menuliskannya tanpa kurang sepatah kata pun.
To Be Continued . . . . . . .