Sepasang
koin terlempar ke udara, deru haru debu selalu merindukan kebebasan, selalu
melintasi kesempatan yang diberikan. Tadi pagi engkau telah tinggalkan pesan
untuk terakhir kalinya, sepucuk surat engkau tinggalkan saat ku terpulas, lelah
yang engkau berikan malam tadi.
Sepasang
koin terjatuh di lantai, memecahkan keheningan, membuyarkan khayalan, saat aku
dan kamu bercengkrama, melintasi malam indah dengan bintang bulan berkelipan,
aku tak tahu apa kemudian yang terselipkan hingga aku dan kamu begitu erat.
Sedari
tadi bir ku teguk sampai matahari ku lihat tak mau pergi dari timur pepohononan
ini, namun panasnya ku rasakan memanggangku tepat di atas kepala, kepalaku
terasa sangat berat, tak ku duga memang hantaman botol yang engkau berikan
terasa meresahkan.
“Aku
akan berhenti bermain dengan kelaminmu, kamu tak pernah mau tahu perasaan aku
bagaimana jika hanya nafsu saja yang kamu keluarkan, seperti aku boneka saja”,
aku tak mengerti arti ucapannya, padahal setahu aku hubungan aku dengan dia
adalah selingkuhan yang baik-baik saja, sampai pagi ini, saat ku lihat matahari
yang tak pernah beranjak dari timur pepohonan ini, namun panasnya sangat
membakar tepat diatas kepala.
Bir
ku teguk lagi, dengan harapan ia
kembali, aku tak habis pikir, apa hubungannya antara kelamin dengan hubungan ku
padanya, sejauh ini aku merasakan semuanya baik-baik saja, aku dan dia
merasakan nikmat yang sama, tak kurasakan ada yag janggal dalam hubungan ini,
hanya saja memang pada malam itu ia ingin memakaikan pengaman di kelaminku,
entah apa maksudnya, aku hanya menjawab dengan menolaknya, aku katakan saja,
kita kan selalu melewatiya tanpa hal yang seperti itu.
Sebuah
koin ku putarkan, sepasang mataku mengikuti arah putarannya yang berhenti di
gelasku, membentur kegundahan, mengendurkan kepenatan. Menegak belasan teguk
alkohol hanya berikan ilusi dan kepercayaan yang sulit ku kendalikan, aku
merasa sangat marah, sangat kecewa, tepat saat engkau membenturkan botol sambil
kau katakan, cinta mu adalah pada kelaminmu, nafsu mu yang selalu memburu dan
kau katakan itu cinta, dan aku adalah yang ingin selalu kau cumbu, aku adalah
pemuas nafsu, aku adalah cinta itu.
Aku
harus melepasmu, aku yakin darah yang mengalir ini akan selalu mengingat
tentangmu, apalah lagi hal yang akan timbul dari hasil persenggamaan, aku tahu
engkau juga menikmati, aku tahu, aku tahu adalah darahku yang kini bersemayam
pada rahimmu, aku tahu, aku tahu, . . . . . . . . . aku juga tahu, bukan hanya aku, bukan hanya
aku, bukan hanya aku, . . . .