Sisi

|

Sepasang koin terlempar ke udara, deru haru debu selalu merindukan kebebasan, selalu melintasi kesempatan yang diberikan. Tadi pagi engkau telah tinggalkan pesan untuk terakhir kalinya, sepucuk surat engkau tinggalkan saat ku terpulas, lelah yang engkau berikan malam tadi.
Sepasang koin terjatuh di lantai, memecahkan keheningan, membuyarkan khayalan, saat aku dan kamu bercengkrama, melintasi malam indah dengan bintang bulan berkelipan, aku tak tahu apa kemudian yang terselipkan hingga aku dan kamu begitu erat.
Sedari tadi bir ku teguk sampai matahari ku lihat tak mau pergi dari timur pepohononan ini, namun panasnya ku rasakan memanggangku tepat di atas kepala, kepalaku terasa sangat berat, tak ku duga memang hantaman botol yang engkau berikan terasa meresahkan.
“Aku akan berhenti bermain dengan kelaminmu, kamu tak pernah mau tahu perasaan aku bagaimana jika hanya nafsu saja yang kamu keluarkan, seperti aku boneka saja”, aku tak mengerti arti ucapannya, padahal setahu aku hubungan aku dengan dia adalah selingkuhan yang baik-baik saja, sampai pagi ini, saat ku lihat matahari yang tak pernah beranjak dari timur pepohonan ini, namun panasnya sangat membakar tepat diatas kepala.
Bir ku teguk lagi,  dengan harapan ia kembali, aku tak habis pikir, apa hubungannya antara kelamin dengan hubungan ku padanya, sejauh ini aku merasakan semuanya baik-baik saja, aku dan dia merasakan nikmat yang sama, tak kurasakan ada yag janggal dalam hubungan ini, hanya saja memang pada malam itu ia ingin memakaikan pengaman di kelaminku, entah apa maksudnya, aku hanya menjawab dengan menolaknya, aku katakan saja, kita kan selalu melewatiya tanpa hal yang seperti itu.
Sebuah koin ku putarkan, sepasang mataku mengikuti arah putarannya yang berhenti di gelasku, membentur kegundahan, mengendurkan kepenatan. Menegak belasan teguk alkohol hanya berikan ilusi dan kepercayaan yang sulit ku kendalikan, aku merasa sangat marah, sangat kecewa, tepat saat engkau membenturkan botol sambil kau katakan, cinta mu adalah pada kelaminmu, nafsu mu yang selalu memburu dan kau katakan itu cinta, dan aku adalah yang ingin selalu kau cumbu, aku adalah pemuas nafsu, aku adalah cinta itu.
Aku harus melepasmu, aku yakin darah yang mengalir ini akan selalu mengingat tentangmu, apalah lagi hal yang akan timbul dari hasil persenggamaan, aku tahu engkau juga menikmati, aku tahu, aku tahu adalah darahku yang kini bersemayam pada rahimmu, aku tahu, aku tahu, . . . . . . . . .  aku juga tahu, bukan hanya aku, bukan hanya aku, bukan hanya aku, . . . .