Puisi Delapan

|

Dengan tanda tanya
                        Bertanya tanya
Sejauh manakah impian mampu bertahan
                        Bila di tekan-tekan
Dengan tanda seru
                        Berseru – seru
Sejauh manakah niat tersampaikan
                        Bilakah laksanakan

Hingar bingar, rakyat luka dinganga duka
Bertahan pada pinggiran
Menunggang kesewenangan
Nasib kemanusiaan
Urusan penindasan

Hanya saja kau tau
Hidup tak selalu seperti diajarkan
Apalagi dicitakan
Ringkih impian

Dengan tangan tenadah
                        Berdoa doa
Sejauh manakah harapan terkabulkan
                        Bila tanpa kesungguhan
Dengan kepala tertunduk
                        Terisak isak
Sejauh manakah pahala dan dosa
                        Membentuk keseimbangan

Puisi Tujuh

|

Sepertinya aku diam
Dan engkau berbicara
Lewat apa
Suara didengarkan

Menjadi kamu
Seperti aku
Dengan apa
Bersatu

Foto buram kenangan
Pikiran masa depan
Seperti apa dilewatkan

Sana
Ujung mata nanar berdarah
Tangan tergenggam memerah
Sini
Tangisan dalih keceriaan
Saling fitnah penuh kebencian

Kesenian
Menentang penindasan
Kesewenangan
Memperingatkan

Sepertinya aku diam
Dan engkau banyak bertanya
Lewat apa aku memberikan jawaban

Menjadi kamu
Tanpa aku
Percayalah penuh

La la la la la la la la la la la
Kenapa bertanya begini
La la la la la la la la la la la
Mengapa melakukan begitu
La la la la la la la la la la la

Dimana kesenian
Menentang penindasan
Kesewenangan
Memperingatkan
Pesanan
Pepesan

La la la la la la la la la la la
Untuk apa merenung
Jika dapat tersenyum dengan topeng
Maksud terselubung
La la la la la la la la la la la

Buat apa kesenian
Menentang penindasan
Kesewenangan
Memperingatkan
Pencaharian
Kekenyangan