Cerita dari Palestine

|
            Berlari-larian, ia masih saja begitu, walau tak tampak harapan di depan matanya, . . . . .  Mendengus, sesekali memaki, berdo'a, do'a suci yang ia panjatkan pada Tuhannya, Penciptanya, . . . . . .  Menangislah ia sejadi-jadinya, Ayah dan Ibunya mati di hadapan matanya, Mendendamlah dia, tangannya di kepal nya kuat-kuat, tak ada suara yang di keluarkan oleh mulutnya, . . . . . . . . . . . . . .  Adik-adiknya ada 5 ku hitung, Ialah paling besar diataranya, tak pernah dapat kubayangkan bagaimana hari depannya, . . . . . . .  Di usapnya lah sudah airmata yang mengalir di pipinya, sedangkan lukanya, lukanya tertup sedikitpun belum, Ia terkena tembakan kemaren malam, saat kedua orang tuanya menemui ajalnya, . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  Ia masih saja berlari, belum berhenti, Ku tahu fisiknya terlalu lemah, jantungnya tak mungin akan kecang begitu lama, Akhirnya loncatlah ia, . . . . .  Loncatlah ia dari sebuah tembok yang perkasa, Tembok yang menjadi tempat meratapi dosa, . . .  Dosa yang diperbuat karena manusia, Pembunuhan terhadap sesama yang tiada henti-hentinya. . . . . . . . .
         Adzan maghrib telah datang menyapa, air mata dalam muka belum lagi di seka, adzan al-aqsa masih di dengarnya di telinga, . . . . . .  Entah akan berapa lama akan bertahan, ditengah ketidakpedulian sesama, ditengah kerubuhan moral kemanusiaan, . . . . . . . . . . .  Menghilang ia di saat remang senja, malam ku kira akan tiba dengan suasana masih yang sama, . . . . .

Untuk Manusia (1)

|
             Mencoba untuk menemukan diri, apakah ia ada diatas tempat-tempat suci, diatas tempat ibadah misalnya; atau diriku berada dalam tumpukan sampah yang terbuang, terbuang sia-sia tanpa arti apa. Yah aku disebut manusia, makhluk ciptaan paling mulia, sering ku dengar khotbah-khotbah sejenis itu, dan kulihat juga di berbagai kitab-kitab suci agama-agama. Aku dilahirkan menjadi laki-laki, ku tak mengetahuinya, hanya merekalah berkata demikian, karena fisik yang berbeda mungkin dari sebuah makhluk yang sejenis denganku juga yang menurut kesepakatan disebut wanita.
              Aku dilahirkan di bumi Dwipantara, bumi yang telah merdeka secara de facto dan de jure katanya, memiliki kesuburan yang sangat berlimpah pada buminya, namun di tanah tempat ku dilahirkan ini lah, kesuburan itu tak berarti apa-apa, banyak yang mati karenanya, entah ku tak paham penyebabnya apa, sekali ini ku baru mengetahuinya, di bumi ku ini orang-orangnya sangat senang dan sangat menjadi budaya suatu penyakit korupsi namanya. Ketidakadilan di negeriku sungguh amat luar biasa, sesuatu sangat di nilai dengan benda, atau materi, menjadi wacana yang tiada habis-habisnya sampai pada cucuku nanti mereka tetap memperdebatkannya, yah hukum tentang ketidakadilan itu.
              Mereka memanggilku Marco, entah darimana mereka bisa memanggilku seperti itu, entah karena kebiasaanku yang tak henti-hentinya merokok dengan label Marcopolo, entahlah, yang pasti nama panggilan itu telah mereka berikan padaku sejak sekolah paling dasar di negeri Dwipantara ini. Aku berada di pulau Nyowo, pulau ini merupakan pulau yang tak terlalu besar dibandingkan pulau-pulau lain yang terdapat di bumiku Hindia ini, namun pulau tempatku ini berada sangat padat penduduknya di bandingkan pulau-pulau lain, ku kira wajar adanya, dikarenakan ibukota negeriku berada disini, dan disinilah pembangunan yang sangat pesat itu dilakukan yang di ikuti perputaran uang yang begitu cepat. Tepatnya tempatku berada saat ini, saat aku hidup dan banyak menghabiskan hari-hari sejak aku dilahirkan bernama Daerah Yojo, daerah yang istimewa yang di akui oleh negeriku sampai saat ini, walau terkadang mereka masih memperdebatkannya mengenai istimewanya, tempatku ini merupakan kerajaan yang masih ada sampai kini, masih dipertahankan di tengah modernisasi yang semakin menggila di bumi ku Dwipantara.
              Usiaku belum terlalu tua, namun ku juga tidak terlalu muda, bisa di bilang aku masih pemuda, masa-masa yang paling banyak memberikan kesan dalam kehidupan manusia, yang tak akan pernah bisa diulangi kembali semasa hidupnya.tentunya banyak peristiwa hebat-hebat di waktu ini, dan waktu ini yang sangat berpengaruh untuk waktu yang akan datang, memang demikianlah menjadi sebuah usia, dilewati, tanpa dapat di ulangi.
             Aku di lahirkan tanpa gelar RM. Gelar yang cukup terhormat pada adat ku, walaupun ayahku seorang abdi dalam istana, tapi aku tak mendapatkan imbasnya sama sekali, atau aku memilikinya, entahlah, ku pastikan setelah membaca akta catatan, memang benar adanya, gelar itu ditiadakan untukku, namun yang menjadi aku terheran, mereka memanggilku dengan sebutan itu, yah siapa lagi kalau bukan temanku, dan pastilah jika memanggil dengan gelaran terhormat itu ada maksud sesuatu denganku, entah apa saja, maka lengkapnya jadilah aku RM. Marco, setidaknya inilah yang menjadi tersirat kemana-mana, padahal tersurat sekali pun tidak.
            Demikianlah senyata-nyatanya manusia, ia memiliki nafsu dan tidak tertutup untuk munafik, dilahirkan dengan kelamin, yang mempunyai hormon merangsangnya saling menyuka terhadap lawan jenisnya. Tak luput juga aku, Marco yang doyan merokok ini juga sedang jatuh cinta pada seorang wanita, Wanita memang sosok yang sungguh luar biasa, ia mampu untuk memiliki perasaan yang sangat dalam jika sedang jatuh cinta, ia pulalah yang melahirkan sosok-sosok luar biasa dalam bumi ini, segenap ku menaruh hormat seluruh pada makhluk Tuhan ini. Namanya adalah Dewi Keumala, yah, wanita ini dapat ku kenal dari teman ku Tono, Tono ini sahabatku telah lama, Ia pulalah sahabatku yang menjadi tempat cerita, baik cerita apa saja, bahkan ia pernah mengatakan kalau cerita-cerita yang pernah ku katakan padanya akan ia tulis dan di jadikan sebuah buku, dan langsung ku balas dengan ucapan kau terlalu berlebih dan ia membalas dengan tertawa, entah tertawa untuk apa.
           Pernah ku jatuh cinta? setiap manusia pastilah juga, berjuta puisi dan sastra-sastra akan dilahirkan jika rasa ini ada, Dialah Amelia, gadis perawan ini memang ku kagumi sejak lama, wajahnya sangat lembut jika ditatap, suaranya begitu merdu jika didengar, pernah ku berjabat padanya, tangannya begitu halus, sehalus kain sutra yang pernah ada, memang benar adanya, jika orang jatuh cinta, hilanglah seluruh akal sehat yang ada padanya, dan hanya tentangnyalah, yah tentang seorang yang di cintalah selalu fikirnya, demikian jugalah aku adanya.
      




Sebuah Coretan

|

Setetes cinta kau berikan padaku
Dapatkah ku ambil di kepenatanku
Dirimu mimpiku
Akankah tetesan cinta itu untukku
Aku tidak mempunyai mawar untuk membalas tetesan yang telah hilangkan dahagaku
Aku tak pantas untukmu
Ku harap cintaku untukmu
Tetaplah begitu
Dirimu tetaplah jadi mimpi indah untukku


Ku sangat mencintaimu
Memelukmu adalah hasratku
Yang telah menggebu dalam dada ku
Tapi dirimu miliknya
Tetap aku hanya pemujamu yang tak pernah kau tahu
Aku mencintaimu



Mungkinkah dirimu untukku
Cintamu padaku ternyata palsu
Kau tikam diriku
Ketika ku berharap ku ingin memilikimu selamanya
Selamanya

Aku tak pandai berkata
Yang ingin ku ucap hanyalah
Aku mencintaimu selamanya
Walau pun aku atau dirimu telah tiada

Ku pendam dalam perasaanku padamu
Karena ku takut rasa ku padamu
Tak sebesar rasamu padaku


Aku rindu padamu kekasihku
Seperti rinduku pada Tuhanku


Sang malaikat cinta tersenyum padaku
Dan langit pun ikut mempesona
Saat kau terima cintaku padamu

Inilah hatiku
Tak akan hilang
Walau aku telah tiada
Diakan slalu mencintaimu slamanya

Sepi hatiku
Saat mataku tertutup untuk cinta

Cinta itu adalah sebuah kertas putih
Tinggal bagaimana seseorang itu menyanjung cinta
Karena ia bisa bernoda, robek, bahkan terbakar

Tak ada yang menggantikan bahagia dunia
Jika kedua insan jatuh cinta
Cinta itu dapat muncul dengan sendirinya
Seperti halnya manusia memikirkan penciptanya

Allah azza a jallla
Telah memberikan pasangan bagi setiap hambanya

Cinta tak mungkin dapat membuat dosa
Namun pemeran nya bisa

Lihatlah diriku disini kekasih
Sebelum aku pergi untuk selamanya

Menangisi hari kemarin
Adalah hal terbodoh yang pernah dilakukan

Ada kematian di setiap kelahiran

Hidup adalah sebuah permainan
Yang penuh dengan peran

Cinta itu suci
Karena itu dia mahal harganya

Betapa agungnya seorang wanita
Ia dapat melahirkan manusia sempurna sepanjang masa

Dalam jiwa sepi
Tak dapat berpikir jernih
Karena ia tak dapat lagi berkata

Sebuah hidup
Adalah penuh dengan perjuangan

Tersenyumlah setiap ada masalah
Karena masalah tak pernah menangisi dirimu

Hujan kali ini
Teringat kisah kemarin
Tentang jiwa yang sepi
Dan tentang jiwa yang hampir mati

Ajarkan aku cara memburu cinta
Agar aku dapat mengejar cinta

Hidup ibarat sebuah cerita
Yang mempunyai awal dan akhir

Apa yang di kejar, belum tentu di dapatkan

Apa yang ada dalam dunia
Tak akan habis di dalam nafsu

Nafsu dunia
Adalah sumber penderitaan dunia


Katakan lah apa yang ada dalam pikirmu
Sebelum semua hilang

Semua akan kembali pada Nya
Yang telah menciptakan manusia

Kehidupan itu pahit
Sepahit nya empedu

Tak ada yang bisa menolak kuasa takdir
Karena ia akan berputar dan tak akan berakhir

Hapuslah air mata
Karena tak ada yang perlu di tangisi dalam hidup
Hanyalah sebuah ketentuan

Musuh yang paling besar adalah waktu yang telewati dengan sia sia

Maafkan untuk segala yang ada
Agar diri tak pernah terbebani

Hidup kami hanya milikmu ya Allah
Kami takkan lari apalagi bersembunyi

Haruskah cinta tebuang tanpa cinta?

Kehidupan adalah sebuah ketetapan

Waktu telah memberikan banyak kenangan
Hari yang lalu takkan bisa terulang lagi
Hari esok tak pernah bisa di harapkan lagi
Hari ini adalah saat kita mulai berbenah

Raga yang sepi
Tertunduk menatap langit
Kapankah waktu izrail memanggill

Biarkan cinta mencari pasangannya
Pergi entah kemana
Walau
Kita tak tahu

Maafkan segalanya
Yang telah terlewat dan akan datang

Sebuah Kematian

|
              Singgahlah sejenak di alam kematian ku ini, rasakan  perih yang menjadi hasil perbuatan ku di alam fana, tempat manusia dan makhluk-makhluk lainnya ada, masuklah kemari pada sebuah kematian yang pasti adanya bagi yang merasa pernah ia punya nyawa, lihatlah jasad ku yang hanya diam membisu, membujur kaku, diam ia tak bergeming diatas gundukan tanah yang baru saja disirami air mawar yang mewangi, namun sebentar lagi, bisa dihitung dengan hari, ia akan membusuk dan menjadi bau tengik yang sangat menjijikkan, jasadku yang ku banggakan akan ditemani sejuta belatung, jasadku yang tampak zahir itu kini telah tiada, lenyap bersama dengan merosotnya permukaan tanah.
             Entah masih ada yang dapat mengenangku, sekiranya masih ada yang melihatku saat ku menghembuskan nafasku yang paling akhir, Entah masih adakah yang peduli mengantarkanku, mereka yang berjasa memikul bebanku dalam keranda, entah pun aku mereka mandikan atau shalatkan menurut kepercayaanku dan mereka, aku tak dapat berbuat apa-apa. Pasrah telah kulakukan sejak ku masih manusia, apalagi setelah menjadi Ruhnya manusia
              Abstrak bagiku, melihat alam yang berbeda dari sebelumnya, ku seperti dalam mimpi yang tiada terbangun, yang terjebak dalam mimpi, tak bisa ku keluar dan tetap dalam mimpi yang panjang selamanya.
              Ku lihat para pengantar jenasahku telah berpulang, kini tiba saatnya ku di interogasi oleh para malaikat yang siap-siap tertawa dan marah-marah bahkan memberikan siksaan, ku tak bisa untuk melakukan apa-apa, hanya menjawab sebisa mungkin, sudah tak bisa lagi ku lakukan tawar menawar seperti di dunia kulakukan.
               Tak tahu harus berbuat apa aku sekarang, terdiam, bisu, padahal aku tahu bahasa, alam ini sungguh beda, sangat beda, amat sangat aneh, bagiku, aku terasing dalam sepi ini, ku terhentak ketika sesosok makhluk menyentuh pundakku dan berkata " pulanglah!! belum saat nya kau ada disini" aku terkejut dan takut, ku coba menoleh menatap wajahnya, belum lagi selesai kulakukan ia telah menghilang seketika dan ku tersadar, aku masih di dunia, di bumi manusia dengan segala permasalahannya yang tiada habis-habisnya, . . . . . . .