Berlari-larian, ia masih saja begitu, walau tak tampak harapan di depan matanya, . . . . . Mendengus, sesekali memaki, berdo'a, do'a suci yang ia panjatkan pada Tuhannya, Penciptanya, . . . . . . Menangislah ia sejadi-jadinya, Ayah dan Ibunya mati di hadapan matanya, Mendendamlah dia, tangannya di kepal nya kuat-kuat, tak ada suara yang di keluarkan oleh mulutnya, . . . . . . . . . . . . . . Adik-adiknya ada 5 ku hitung, Ialah paling besar diataranya, tak pernah dapat kubayangkan bagaimana hari depannya, . . . . . . . Di usapnya lah sudah airmata yang mengalir di pipinya, sedangkan lukanya, lukanya tertup sedikitpun belum, Ia terkena tembakan kemaren malam, saat kedua orang tuanya menemui ajalnya, . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Ia masih saja berlari, belum berhenti, Ku tahu fisiknya terlalu lemah, jantungnya tak mungin akan kecang begitu lama, Akhirnya loncatlah ia, . . . . . Loncatlah ia dari sebuah tembok yang perkasa, Tembok yang menjadi tempat meratapi dosa, . . . Dosa yang diperbuat karena manusia, Pembunuhan terhadap sesama yang tiada henti-hentinya. . . . . . . . .
Adzan maghrib telah datang menyapa, air mata dalam muka belum lagi di seka, adzan al-aqsa masih di dengarnya di telinga, . . . . . . Entah akan berapa lama akan bertahan, ditengah ketidakpedulian sesama, ditengah kerubuhan moral kemanusiaan, . . . . . . . . . . . Menghilang ia di saat remang senja, malam ku kira akan tiba dengan suasana masih yang sama, . . . . .
Adzan maghrib telah datang menyapa, air mata dalam muka belum lagi di seka, adzan al-aqsa masih di dengarnya di telinga, . . . . . . Entah akan berapa lama akan bertahan, ditengah ketidakpedulian sesama, ditengah kerubuhan moral kemanusiaan, . . . . . . . . . . . Menghilang ia di saat remang senja, malam ku kira akan tiba dengan suasana masih yang sama, . . . . .