“Diamlah Ranggawasa, kau tak tahu bagaimana duka”
“Cukuplah Abirasa, aku tahu apa yang kau fikirkan, biarkanlah sudah, Dewi telah milik Batara, apa lagi yang engkau harapkan?”
“Harapan Ranggawasa, harapan itulah yang membentang panjang dan membuatku meniti waktu yang panjang dengan senyuman”
“Senyuman kepalsuan, cukuplah lama kemunafikan jangan membunuh diri sendiri, Pertikaian telah menjadi dalam dirimu, -“
Dewi datang dengan membawa angin malam memecah suara mereka berdua, ia datang dengan angin, mungkin membawa kehidupan atau apalah,.
“Benar Abirasa, ikutilah apa yang telah di ucap oleh Ranggawasa, sebab tak ada keabadian di bumi Dewata, ku harap kau mengerti, masih luas lautan yang membentang, kehidupan juga haruslah berjalan”
Abirasa terhenyak dan terdiam menggantung asa, bayangan aneh semakin membayangi, berputar-putar baying Dewi dengan Batara, mereka bercumbu seakan memaki Abirasa,
“Abirasa bangunlah, setiap esok masih banyak kesempatan, jangan pernah kau memaki masa lalu mu, hari ini jadikanlah pelajaran”
“Abirasa, jangan simpan asa jika kesempatan tak ada, lakukanlah hal yang berguna, buat jiwamu, hatimu, dan mereka di sekitarmu, masih membutuhkanmu”
Abirasa memanggil manggil nama Dewi yang telah lalu bersama Batara, Ranggawasa pun hilang dalam pandangannya,
Dalang yang sejak tadi memainkan lakon pun sedih dengan cerita yang dibuatnya sendiri, tak terasa air matanya mengalir, sedang penonton pun tak mengerti, -