Bersama sebuah mimpi adalah seperti ilusi, datang menghantui, dapat saja kau temukan bukan, ia datang menghampiri tanpa engkau kehendaki, saat tidur atau dalam termenung dia hadir lagi.
“Kau sudah datang, ku tunggu kau dari hari ke hari, apa bekal yang engkau bawa?, ceritakanlah, katakanlah kepadaku, apakah disana engkau mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang selalu ku ajukan?”.
“Terwujud sebuah mimpi, datang sebagai bayangan perlahan, hinggap begitu jelas, hingga ku menjadi takut, sangat takut, di saat ia menjadi harimau dan sampai memangsa mimpi ku, aku tak bisa, tak bisa ku kembali bermimpi, apa jadinya hak bermipi telah di rampas, tak ku saksikan lagi mereka pulas dalam tidurnya, sudah tak memiliki mimpi apalagi impian, Bung, kau tahu apa yang kudapatkan?, persis, sebuah kemuduran yang membawa kehancuran sampai kematian,, apa yang akan ku ceritakan padamu?”.
“Oh, bedebah, sudah berapa lama ku tertidur tak mendapatkan mimpi, tak mungkin ku mencuri dan memberikan pada mereka, betapa hebatnya mereka sampai merampas hak bermimpi, ilmu apa yang dipakai, Sialan !!! “.
“Mimpi menjadi barang mahal, ketakutan itu yang memaksa, perut lapar dan kosong tiada harapan, hari esok hanya menanti santunan, bagaimana dapat bermimpi jika tak memiliki apa-apa, tak dapat kuberikan apa-apa, karena ku juga tak memiliki apa-apa, ku tak akan berbicara seperti pemimpi, pemimpi yang tak tahu apa yang di mimpikannya, Bung, hidup bukan hanya yang tampak, bahkan yang lebih indah yang tak tampak, karenanya menjdai barang yang mahal”.
“Sungguh sakti memang dia menjadi manusia, Mimpi pun di curi, dengan bayangan ketakutan, kasihan mereka, hak yang paling mungkin pun telah dicuri, apalagi gunanya mereka hidup, Bunuh diri juga tak dapatkan kebahagiaan, agama yang mereka peluk hanya tawarkan keindahan nanti, mereka saudara kita juga bukan?, mereka ada di pinggir-pinggir kota, tak terharapkan, di emperan trotoar ia hanya bisa tidur tak bermimpi, mereka ada di bawah jembatan untuk melayani nafsu binatang, semua hanya kata-kata tentang Keadilan, Milik siapa itu kata, sangat dekat itu kata untuk setumpuk uang, uang menjadikan semua kuasa, ia bahkan membeli mimpi, Bangsaaat, ini zaman apa, ada masalah tapi seolah tidak terjadi apa-apa, Munafiik, Sungguh teramat, sangat menjijikkan”.
“Mereka dipaksa menjadi liar, tak ada yang memperhatikannya Bung, sampai engkau di bunuh sekalipun tak akan ada yang peduli, siapa yang mengenal? Siapa yang disalahkan Bung?, Si kaya yang memiliki uang membeli segala, pastilah ia akan katakan ini adalah hartaku, aku telah berusaha sekeras mungkin dalam hidup, hanya Si miskin yang malas bekerja, ini adalah zaman kita, ada diantara kita jelas sekali Bung, kita juga sering melihatnya dan tak hiraukannya”
“Kau benar, Yah ku rasa mungkin mereka adalah kita, telah ada dimana-mana, Tolong ambilkan minuman itu, aku ingin minum dan pecahkannya ke kepalaku”
**
Yang terindah adalah cinta, menyatukan kedua hal yang berbeda, mendamaikan setiap jiwa, memberikan harapan. Berbahagialah jika cinta masih ada, kepedulian, saling merasakan, saling memberikan kehidupan, yang terindah adalah cinta.
“Sudah mulai ya?, ehm, baiklah sahabat-sahabat saya, saya akan menunjukkan pada anda apa itu Cinta, atau mungkin ada yang dapat menunjukkan pada saya?, Mungkin wanita yang anggun di depan saya ini, silahkan Mbak,”.
“Cinta aku dapatkan begitu mudah bapak, dengan uang aku medapatkan segalanya, untuk wanita kaya dan anggun seperti saya, setiap lelaki yang memandang pastikan jatuh cinta”
“Terimakasih jawab yang cukup baik, saya minta tepuk tangannya untuk wanita yang anggun dan terhormat ini”
“Cinta bukan penghalalan sebuah nafsu, karena cinta itu bukan nafsu, ia berbentuk unik, tiada juga dapat engkau beli dengan uang, atau bahkan dapatkah kita membalas semua jasa cinta ibu kepada anaknya?, tidak sama sekali, Cinta itu keikhlasan, kita hidup tenang dan damai ini karena rasa cinta itu sendiri”.
“Cinta mempengaruhi apapun juga, alam yang nyata, kesadaran dan antara kesadaran serta ketidaksadaran anda semuanya, ia menggerogoti setiap liku laku anda, namun berbahagialah, karena ia tak berbahaya, bahkan ialah obat yang ditunggu datangya, menjadikan bahagia jika menikmatinya”.
“Cinta bukan mainan kata murahan, bukan sebuah kata gampangan, dia dibentuk dari kebudayaan yang panjang, kita bersahabat, karena cinta, semuanya karena cinta, dan segalanya tentangnya sampai akhir zaman ini, bukan kah begitu Bapak yang sedang melirik waktu yang berjalan ditangan kiri”.
“Ku tak paham, apakah ia mengenal waktu atau bukan, apakah cinta harus berbatas?”
“Apa jadinya jika ia berbatas?, apakah jadinya jika ia mengenal waktu, sedetik saja cinta itu tak ada kehidupan pun akan sirna, Cinta merupakan keseimbangan, demikian Bapak yang dapat saya katakan, semoga mendapatkan pemahaman dan terlaksanakan”
**
Daun akan tumbuh dengan sendirinya jika cukup dan berkecukupan hidupnya, kecukupan akan datang bersamaan kesederhanaan, akan lebih indah jika menjadi biasa, biasa tak terlihat mencolok dari yang luar biasa apalagi dari yang kurang biasa, namun akhirnya semua berlomba-lomba menjadi luar biasa hinggga menjadikan adanya kurang biasa sehingga biasa menjadi tabu, nafsu sendiri yang menyebabkan semuanya, pertentangan kelas yang di buat sendiri, memang harus?, lalu disebut sesuatu yang bernama agama menjadi penawar yang ada, kenapa? Harukah ku diam dan menyaksikan, semua telah lahirkan yang bernama perbedaan.
Perbedaan menjadi aneka, bukankah sangat bosan menyaksikan sesuatu yang sama, namun terkadang di butuhkan juga kesamaan, di dalam permusyawarahan misalnya, perbedaan menjadi perdebatan, membuat masalahnya sendiri, ada yang katakan hidup memainkan peranan, dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan dalam pertunjukkan, apakah engkau merasa heran?, sungguh ku juga berdecak bergumam.
Kehadiran yang berbeda jadikan sesuatu dapat berkaca dan pembelajaran, perbedaan menjadi anugerah, anugerah semesta terindah, .
**