Untuk Dia (Petikan Akhir)

|
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………


            Pada titik 0, semuanya bermula dengan awalnya tersendiri, ku kisahkan padamu rembulan yang indah dari maha Kuasa, cinta akan datang lagi padamu Marco, cinta akan berganti padamu Marco, aku bukanlah yang terbaik, karena ku tak pernah ada di saat engkau membutuhkanku, tak pernah ada di saat engkau menangis seperti saat ini, ku harapkan kita adalah sahabat yang terbaik.
            Cinta adalah sebuah pilihan, sungguh sulit untuk memilih bukan, inilah yang terbaik untuk aku dan dirimu, -
            Tepat hari itu, di pagi hari indah, telah berlangsung sebuah akad, jodoh ku adalah dengannya Marco, semua telah ditentukan oleh Tuhan, usia ku tepat 23, Januari telah berlalu, namun ternyata kamu tak datang memenuhi undanganku, kamu dimana?
            Ku bahagia hari ini Marco, saat ini kunantikan seumur hidupku, kita masih sahabat bukan? Ku harapkan kehadiranmu, -
            Saat itu akhirnya tiba, engkau datang dengan tersenyum, hari tu telah lewat seminggu ku mulai kehidupan baruku, kata Mas Jiwo engkau telah lama menungguku, memang ku telah mulai bekerja kembali, Mas Jiwo katakan engkau telah menunggu ku sejak siang, kalian terlihat sangat akrab Marco, ku yakin engkau telah mengikhlaskanku, ku lihat engkau tersenyum bahagia saat berjabat tangan denganku, kamu terlihat semakin lemah Marco, terlihat dari sorot matamu yang kini sayu, ku tak menanyakannya.
            Masihkah engkau menulis ku Marco?, menuliskan kembali cinta sejati yang selalu ku impikan? Masihkah engkau menyebutkan namaku lagi, kamu dimana? Kenapa ku harus mencarimu marco?, kembalilah, ku masih suci, kembalilah Marco, aku membutuhkanmu sekarang, kembalilah, . . . . . . . . .

       Terisak wanita itu, namun kemudian ia tersenyum kembali, dilihatnya waktu telah shubuh, segera ia mengambil wudhu, ia telah berjanji hari ini akan menemui seorang lelaki, lelaki pilihannya yang terbaik, semoga, - . . . . . . . . . .

Suatu Tentang

|
           Bersama sebuah mimpi adalah seperti ilusi, datang menghantui, dapat saja kau temukan bukan, ia datang menghampiri tanpa engkau kehendaki, saat tidur atau dalam termenung dia hadir lagi.
          “Kau sudah datang, ku tunggu kau dari hari ke hari, apa bekal yang engkau bawa?, ceritakanlah, katakanlah kepadaku, apakah disana engkau mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang selalu ku ajukan?”.
            “Terwujud sebuah mimpi, datang sebagai bayangan perlahan, hinggap begitu jelas, hingga ku menjadi takut, sangat takut, di saat ia menjadi harimau dan sampai memangsa mimpi ku, aku tak bisa, tak bisa ku kembali bermimpi, apa jadinya hak bermipi telah di rampas, tak ku saksikan lagi mereka pulas dalam tidurnya, sudah tak memiliki mimpi apalagi impian, Bung, kau tahu apa yang kudapatkan?, persis, sebuah kemuduran yang membawa kehancuran sampai kematian,, apa yang akan ku ceritakan padamu?”.
            “Oh, bedebah, sudah berapa lama ku tertidur tak mendapatkan mimpi, tak mungkin ku mencuri dan memberikan pada mereka, betapa hebatnya mereka sampai merampas hak bermimpi, ilmu apa yang dipakai, Sialan !!! “.
            “Mimpi menjadi barang mahal, ketakutan itu yang memaksa, perut lapar dan kosong tiada harapan, hari esok hanya menanti santunan, bagaimana dapat bermimpi jika tak memiliki apa-apa, tak dapat kuberikan apa-apa, karena ku juga tak memiliki apa-apa, ku tak akan berbicara seperti pemimpi, pemimpi yang tak tahu apa yang di mimpikannya, Bung, hidup bukan hanya yang tampak, bahkan yang lebih indah yang tak tampak, karenanya menjdai barang yang mahal”.
            “Sungguh sakti memang dia menjadi manusia, Mimpi pun di curi, dengan bayangan ketakutan, kasihan mereka, hak yang paling mungkin pun telah dicuri, apalagi gunanya mereka hidup, Bunuh diri juga tak dapatkan kebahagiaan, agama yang mereka peluk hanya tawarkan keindahan nanti, mereka saudara kita juga bukan?, mereka ada di pinggir-pinggir kota, tak terharapkan, di emperan trotoar ia hanya bisa tidur tak bermimpi, mereka ada di bawah jembatan untuk melayani nafsu binatang, semua hanya kata-kata tentang Keadilan, Milik siapa itu kata, sangat dekat itu kata untuk setumpuk uang, uang menjadikan semua kuasa, ia bahkan membeli mimpi, Bangsaaat, ini zaman apa, ada masalah tapi seolah tidak terjadi apa-apa, Munafiik, Sungguh teramat, sangat menjijikkan”.
            “Mereka dipaksa menjadi liar, tak ada yang memperhatikannya Bung, sampai engkau di bunuh sekalipun tak akan ada yang peduli, siapa yang mengenal? Siapa yang disalahkan Bung?, Si kaya yang memiliki uang membeli segala, pastilah ia akan katakan ini adalah hartaku, aku telah berusaha sekeras mungkin dalam hidup, hanya Si miskin yang malas bekerja, ini adalah zaman kita, ada diantara kita jelas sekali Bung, kita juga sering melihatnya dan tak hiraukannya”
           “Kau benar, Yah ku rasa mungkin mereka adalah kita, telah ada dimana-mana, Tolong ambilkan minuman itu, aku ingin minum dan pecahkannya ke kepalaku”

**


            Yang terindah adalah cinta, menyatukan kedua hal yang berbeda, mendamaikan setiap jiwa, memberikan harapan. Berbahagialah jika cinta masih ada, kepedulian, saling merasakan, saling memberikan kehidupan, yang terindah adalah cinta.
             “Sudah mulai ya?, ehm, baiklah sahabat-sahabat saya, saya akan menunjukkan pada anda apa itu Cinta, atau mungkin ada yang dapat menunjukkan pada saya?, Mungkin wanita yang anggun di depan saya ini, silahkan Mbak,”.
          “Cinta aku dapatkan begitu mudah bapak, dengan uang aku medapatkan segalanya, untuk wanita kaya dan anggun seperti saya, setiap lelaki yang memandang pastikan jatuh cinta”
            “Terimakasih jawab yang cukup baik, saya minta tepuk tangannya untuk wanita yang anggun dan terhormat ini”
            “Cinta bukan penghalalan sebuah nafsu, karena cinta itu bukan nafsu, ia berbentuk unik, tiada juga dapat engkau beli dengan uang, atau bahkan dapatkah kita membalas semua jasa cinta ibu kepada anaknya?, tidak sama sekali, Cinta itu keikhlasan, kita hidup tenang dan damai ini karena rasa cinta itu sendiri”.
            “Cinta mempengaruhi apapun juga, alam yang nyata, kesadaran dan antara kesadaran serta ketidaksadaran anda semuanya, ia menggerogoti setiap liku laku anda, namun berbahagialah, karena ia tak berbahaya, bahkan ialah obat yang ditunggu datangya, menjadikan bahagia jika menikmatinya”.
        “Cinta bukan mainan kata murahan, bukan sebuah kata gampangan, dia dibentuk dari kebudayaan yang panjang, kita bersahabat, karena cinta, semuanya karena cinta, dan segalanya tentangnya sampai akhir zaman ini, bukan kah begitu Bapak yang sedang melirik waktu yang berjalan ditangan kiri”.
               “Ku tak paham, apakah ia mengenal waktu atau bukan, apakah cinta harus berbatas?”
            “Apa jadinya jika ia berbatas?, apakah jadinya jika ia mengenal waktu, sedetik saja cinta itu tak ada kehidupan pun akan sirna, Cinta merupakan keseimbangan, demikian Bapak yang dapat saya katakan, semoga mendapatkan pemahaman dan terlaksanakan”

**

             Daun akan tumbuh dengan sendirinya jika cukup dan berkecukupan hidupnya, kecukupan akan datang bersamaan kesederhanaan, akan lebih indah jika menjadi biasa, biasa tak terlihat mencolok dari yang luar biasa apalagi dari yang kurang biasa, namun akhirnya semua berlomba-lomba menjadi luar biasa hinggga menjadikan adanya kurang biasa sehingga biasa menjadi tabu, nafsu sendiri yang menyebabkan semuanya, pertentangan kelas yang di buat sendiri, memang harus?, lalu disebut sesuatu yang bernama agama menjadi penawar yang ada, kenapa? Harukah ku diam dan menyaksikan, semua telah lahirkan yang bernama perbedaan.
            Perbedaan menjadi aneka, bukankah sangat bosan menyaksikan sesuatu yang sama, namun terkadang di butuhkan juga kesamaan, di dalam permusyawarahan misalnya, perbedaan menjadi perdebatan, membuat masalahnya sendiri, ada yang katakan hidup memainkan peranan, dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan dalam pertunjukkan, apakah engkau merasa heran?, sungguh ku juga berdecak bergumam.
            Kehadiran yang berbeda jadikan sesuatu dapat berkaca dan pembelajaran, perbedaan menjadi anugerah, anugerah semesta terindah, .

**
           
           

Januari

|
Sekitar beberapa tahun yang lalu, ingat persis saat itu, ketika engkau menangis dipelukanku, berjanji tak akan pernah melupakanku, engkau memelukku sangat erat, di luar hujan masih gerimis, kita hitung bersama air yang jatuh, di kafe itu, januari terindah sebelum musim hujan berganti.
Bersemi air mata yang mengalir, sangat deras dengan hujan yang jatuh, berderai seirama, januari yang datang kini telah berbeda, engkau dengannya, engkau ucapkan kata yang sama di dekat telingaku, di depan mataku, alunan melodi memanggilku ku untuk pergi, -
Kita tak bersama kini, hujan januari membasahiku hadirkan berjuta kenangan, ku tahu bahkan engkau mungkin pun akan mengerti, betapa tidak mudah menghapuskan berjuta kenangan yang telah ada, saat itu kedua pasang mata kita saling bertatap, lalu saling menundukkan dan tak pernah ucapkan apa-apa, -
Sore ini adalah Januari terakhir di tahun ini, engkau telah tinggalkan ku menyepi disini, di tempat dahulu kita berbagi, disisi pantai ini, matahari pulang perlahan, ku nikmati sendiri, sampai malam terakhir di Januari ini berakhir.
Seperti ini cinta yang pertama dan terakhir, kisah yang seharusnya telah berakhir di Januari ini yang terpilih, ku akan melupakannya, menjadi nyanyian dalam tidurku, dalam hilangnya kesunyian yang tak pernah terbayangkan, . . . . . .  di hati ini masih ada nama mu, ku tak peduli walaupun Januari kini telah pergi, dan ku akan memulainya kembali di tahun depan, menunggumu adalah selalu, selalu mencoba untuk melupakanmu, masih ada namamu sampai kapanpun, tak pernah ku bohongi rasaku untukmu, -
Januari ini datang lagi, dengan hujan yang sama, baru saja terdengar gegap gempita orang-orang berpesta pora, melupakan masa lalu, dan melupakannya di tahun yang baru, Januari ini tak hanya berkesan bagiku, mereka juga, mungkin para pejabat yang sudah hampir habis masa berlakunya, semuanya dibatasi oleh waktu, mungkin kepada tahanan yang akan segera bebas, ia merasa girang, karena Januari merupakan bulan pertama yang menggantikan tahun.
Berikan sedikit waktu, untuk ku dapat melupakanmu, menghapus senyummu, hujan januari turun perlahan, masih ditempat yang sama, seperti beberapa tahun lalu, kita melewatinya berdua, aku denganmu, denganmu, -

Januari telah engkau meninggalkanku, hujan juga belum berhenti, matahari belum tampakkan sinarnya, engkau telah pergi dengan sesalan, apakh engkau dapat mengikhlaskan, hujan belum berhenti, saying kau tak disini, kalau tidak mungkin kita telah menghitungnya bersama-sama lagi, namun hujan masih belum berhenti, Februari sebentar lagi,-
Aku hanya lelaki yang punya hati, haruskah aku selalu menantimu, tanpa ada hati sedikitpun terberi, ku lelaki yang punya hati, perlukah jiwaku terus menari diatas ketidakacuhan dirimu, Februari telah datang, hujan telah berhenti, kemarau masih sama seperti kemarin, saat kita duduk berdua di tepi ini, ombak berlari begitu cepat, kita larut di senja itu, dikala mega menutupi senja, ku menatap wajahmu, engkau menatap wajahku, kita diam tanpa kata, masih saja hening, kita larut, -
Katakan padaku Januari belum pergi, bisikkan padaku hari ini masih Januari, kenapa sampai kini engkau tak berbicara juga, aku rindu padamu, air mataku menetesi fotomu yang tersimpan dari balik jemariku.
Engkau adalah wanita yang ku pilih, engkaulah yang terpilih, biarkan aku kembali menunggu Januari, dan mengucapkannya kemudian memberikannya padamu, kita tak bersama lagi, . . . . . . 

Januari ku tinggalkan padamu kenangan, bagaimana cara untuk mu mengingatnya atau melupakannya.
Aku mencarimu di tempat yang biasa kita bertemu, walaupun hujan telah menghapus langkahmu, tetapi dalam jiwa ini terukir namamu, walaupun esok hari engkau tak akan datang kembali, tetapkah jiwamu ini bergeming? Tak mungkin jawaban perasaaan ku pertanyakan.