Sekitar beberapa tahun yang lalu, ingat persis saat itu, ketika engkau menangis dipelukanku, berjanji tak akan pernah melupakanku, engkau memelukku sangat erat, di luar hujan masih gerimis, kita hitung bersama air yang jatuh, di kafe itu, januari terindah sebelum musim hujan berganti.
Bersemi air mata yang mengalir, sangat deras dengan hujan yang jatuh, berderai seirama, januari yang datang kini telah berbeda, engkau dengannya, engkau ucapkan kata yang sama di dekat telingaku, di depan mataku, alunan melodi memanggilku ku untuk pergi, -
Kita tak bersama kini, hujan januari membasahiku hadirkan berjuta kenangan, ku tahu bahkan engkau mungkin pun akan mengerti, betapa tidak mudah menghapuskan berjuta kenangan yang telah ada, saat itu kedua pasang mata kita saling bertatap, lalu saling menundukkan dan tak pernah ucapkan apa-apa, -
Sore ini adalah Januari terakhir di tahun ini, engkau telah tinggalkan ku menyepi disini, di tempat dahulu kita berbagi, disisi pantai ini, matahari pulang perlahan, ku nikmati sendiri, sampai malam terakhir di Januari ini berakhir.
Seperti ini cinta yang pertama dan terakhir, kisah yang seharusnya telah berakhir di Januari ini yang terpilih, ku akan melupakannya, menjadi nyanyian dalam tidurku, dalam hilangnya kesunyian yang tak pernah terbayangkan, . . . . . . di hati ini masih ada nama mu, ku tak peduli walaupun Januari kini telah pergi, dan ku akan memulainya kembali di tahun depan, menunggumu adalah selalu, selalu mencoba untuk melupakanmu, masih ada namamu sampai kapanpun, tak pernah ku bohongi rasaku untukmu, -
Januari ini datang lagi, dengan hujan yang sama, baru saja terdengar gegap gempita orang-orang berpesta pora, melupakan masa lalu, dan melupakannya di tahun yang baru, Januari ini tak hanya berkesan bagiku, mereka juga, mungkin para pejabat yang sudah hampir habis masa berlakunya, semuanya dibatasi oleh waktu, mungkin kepada tahanan yang akan segera bebas, ia merasa girang, karena Januari merupakan bulan pertama yang menggantikan tahun.
Berikan sedikit waktu, untuk ku dapat melupakanmu, menghapus senyummu, hujan januari turun perlahan, masih ditempat yang sama, seperti beberapa tahun lalu, kita melewatinya berdua, aku denganmu, denganmu, -
Januari telah engkau meninggalkanku, hujan juga belum berhenti, matahari belum tampakkan sinarnya, engkau telah pergi dengan sesalan, apakh engkau dapat mengikhlaskan, hujan belum berhenti, saying kau tak disini, kalau tidak mungkin kita telah menghitungnya bersama-sama lagi, namun hujan masih belum berhenti, Februari sebentar lagi,-
Aku hanya lelaki yang punya hati, haruskah aku selalu menantimu, tanpa ada hati sedikitpun terberi, ku lelaki yang punya hati, perlukah jiwaku terus menari diatas ketidakacuhan dirimu, Februari telah datang, hujan telah berhenti, kemarau masih sama seperti kemarin, saat kita duduk berdua di tepi ini, ombak berlari begitu cepat, kita larut di senja itu, dikala mega menutupi senja, ku menatap wajahmu, engkau menatap wajahku, kita diam tanpa kata, masih saja hening, kita larut, -
Katakan padaku Januari belum pergi, bisikkan padaku hari ini masih Januari, kenapa sampai kini engkau tak berbicara juga, aku rindu padamu, air mataku menetesi fotomu yang tersimpan dari balik jemariku.
Engkau adalah wanita yang ku pilih, engkaulah yang terpilih, biarkan aku kembali menunggu Januari, dan mengucapkannya kemudian memberikannya padamu, kita tak bersama lagi, . . . . . .
Aku mencarimu di tempat yang biasa kita bertemu, walaupun hujan telah menghapus langkahmu, tetapi dalam jiwa ini terukir namamu, walaupun esok hari engkau tak akan datang kembali, tetapkah jiwamu ini bergeming? Tak mungkin jawaban perasaaan ku pertanyakan.
0 komentar:
Posting Komentar