-, SKETSA, -

|

Diamlah,
Rasakan alam yang bergerak
Tertawalah
Menangislah
Seluruhnya ada jawabnya

Untukmu seluruh rindu

Kemiskinan dan kelaparan bertalu
Syahdu merangkak dalam hari-hari dan tak tersentuh
Air mata menaruh
Memasuki membisiki kalbu

Padamu seluruh rindu

Orang-orang berdesakan berteriak dengan lantang
Kebenaran, keadilan yang telah lama hilang
Mereka turun ke jalan-jalan tembusi alang-alang
Menjadi pahlawan bukanlah soal gampang

Seluruh rindu untukmu

Potret wajah kaum pinggiran menjadi mata uang
Dibutuhkan sesaat kemudian dibuang
Setiap jengkal adalah kepentingan
Kepentingan yang butuh tunggangan

Seluruh rindu padamu

Negeri yang penuh kepura-puraan
Banyak memainkan peran
Kebaikan menjadi kejahatan
Mungkinkah menjadi kebalikan

Untukmu seluruh rindu
Padamu seluruh rindu
Seluruh rindu untukmu
Seluruh rindu padamu

Tanah airku, -
Dalam sketsa

Suatu Tentang, . . . . . . . . 2

|
         Tepat pukul dua belas, mahasiswa berteriak dengan keras, tepat matahari di ubun mereka menyinari dengan panas, mikrofon lengkap dengan speaker di dadanya ia bergerak, bersama berteriak, bersama dalam satu perjuangan.
           Aku lewat di hadapan mereka dengan mobil mewah di temani oleh supirku yang telah lama ku sewa, “Lihatlah pak keringat mereka, mengucur tanpa pamrih, untuk suatu yang bernama ibu pertiwi”.
            Lalu ku katakan pada supirku, “Lihat saja kedepan, perhatikan saja jalan, mereka jangan hiraukan”
         Dari mereka apakah seharusnya ku ucapkan terimakasih, untuk sebuah reformasi yang telah ku rasakan kini?, atau apakah ku harus mengumpat mereka karena hanya idealis ketika menjadi mahasiswa namun ketika telah menjadi yang memiliki wewenang sama busuknya.
       “Aku dahulu pernah menjadi seperti mereka Pak, tapi begitulah pak, hidup memang harus mempelajari keadaan, jika kita tak bisa kita akan lenyap dari sejarah”, Ku perhatikan Supirku hanya manggut-manggut entah paham atau mengerti.
            Sampai di ujung jalan ku lihat polisi anti huru-hara telah bersiap dengan pagar betisnya, aku hanya percaya, hidup manusia adalah saling mengingatkan antara sesamanya mengenai kesabaran dan kebenaran, -

Jogja Istimewa

|

Tulisan pertama untuk Jogja

Jogja Istimewa

Ngayogyakarto Hadiningrat, demikianlah nama lengkapnya, kesultanan ini resmi menjadi bagian dari republik Indonesia setelah adanya "Ijab Kabul" antara kedua penguasa pada saat itu, yakni penguasa negara yang baru saja merdeka, Republik Indonesia, dengan penguasa  Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat, adapun yang melakukan Ijab adalah Republik Indonesia sendiri, ia melakukan penawaran kepada kesultanan pada tanggal 19 Agustus 1945, yah baru saja beberapa hari merdeka, yang kemudian di Kabulkan oleh "Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalogo, Abdurrahman Sayidin Panotogomo Kahlifatullah Ingkang Kaping IX".  Hal itu dilakukan pada 5 September 1945 yang kini disebut Piagam Kedudukan    5 September, yang selanjutnya pemerintah republik memberikan dasar hukum yakni UU NO. 3 Tahun 1950 tentang pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) atau Yogya, ataupun Jogja adalah ibukota negara Republik ini pada tahun 1946 - 1949, perpindahan ibukota RI dari Jakarta menuju Yogyakarta ini dilakukan karena tidak memungkinkannya situasi pemerintahan dilakukan di Jakarta saat itu dikarenakan adanya Agresi Militer Belanda, Perpindahan ini berlangsung tepatnya saat Presiden Republik tiba di Yogyakarta, Soekarno tiba pada 5 Januari 1946 yang kemudian berakhir pada tanggal 27 Desember 1949. Yogyakarta adalahMataram Islam yang tersisa, masih berdiri kokoh hingga kini, dengan menempatkan Hamengku Buwono sebagai pemimpin tertinggi dengan di bantu oleh Sri Paku Alam, Yogyakarta dengan Merapi pada utara dan Parangkusomo di Selatannya adalah suatu garis yang tak dapat terpisahkan, mempunyai keseimbangan tersendiri dengan berbagai kisahnya.
            Lantas, apakah aku atau kamu dapat menggurui atas sesuatu yang terjadi disini, hanya seseorang yang baru lahir lalu kemudian protas-protes dan ingin ini dan itu dalam keistimewaan, Keistimewaan itu diakui bukan tanpa dasar. Ku tak akan berbicara padamu tentang apa itu demokrasi yang di dengung-dengungkan, ku hanya tahu intinya demokrasi aadalah pemimpin yang di inginkan oleh rakyat, rakyat yang menginginkan ini semua, bukan tanpa dasar.
          Apakah kamu kemudian datang lalu katakan semuanya adalah salah dan harusnya keinginanmu yang harus terlaksanakan, Anak sendiri melukai Ibunya, Ibunya yang telah membesarkannya dan menyusukannya, datang kemudian membawa belati meminta darah pada Ibunya, sungguh durhaka.
            Sesuatu yang berharga bukan sebatas pengakuan, ia akan hidup dalam setiap jiwa yang berkembang, apapun yang terjadi masih berada pada sini, hati rakyat yang terdalam yang tak akan pernah melupakan Ibunya sendiri yang menyusukannya dan membesarkannya.
         Jogja telah kembali, Jogja telah kembali, terngiang jelas ditelinga saat TNI bersama rakyat merebut kembali Jogja dari penjajah pada berpuluh tahun lalu, aku yakin benar semua adalah inisiatif dari pemimpin yang benar-benar diakui saat itu, bahkan hingga kini, Raja yang bertahta dengan kedaulatan rakyat, lalu sejarah kemudian mencatatnya dengan penuh kontroversi.
        Meregang ribuan nyawa untuk perjuangan, seorang tokoh bak pahlawan kemudian mengatakan ia adalah pahlawan utama, diajarkan kebohongan dan kepura-puraan kepada rakyat yang menerima dengan ketakutan, rezim, -
          Sadar betul ia berbalas budi, tak pernah ia ganggu keistimewaan yang telah berjalan dari pendahulunya, namun saat ini, dewasa ini, seseorang bak pahlawan muncul lagi, namun kali ini ia memperdebatkan apa yang sudah dilangsungkan berabad-abad.
          Masalah itu di mulai disini sahabatku, di saat anak itu mempertanyakan kenapa Ibunya begitu istimewa, cemburu pada ibu sendiri,
           

Kidung Sunyi

|
Temukan dirimu dalam kebisuan
Malam hanya antarkan kenangan
Kita tak akan bersama lagi, sudah terasa
Namun air mata darimu tak ada
Rinduku yang menggebu telah tinggal menjadi debu
Dalam hati ia bertalu-talu

Ku nyanyikan tanpa syair dan lagu
Ku berikan pada tepi waktu

Harusnyakah ku dendangkan padamu dalam kesunyian
Ku tahu engkau tak akan mengerti
Nyanyian ini telah menjadi miliknya
Biarkanlah kepadanya yang telah memberikan bahagia untukmu

Kidung sunyi
Ku nyanyikan seorang diri
Tersusun rapi seperti puisi
Apakah pada telingamu telah sampai