Tepat pukul dua belas, mahasiswa berteriak dengan keras, tepat matahari di ubun mereka menyinari dengan panas, mikrofon lengkap dengan speaker di dadanya ia bergerak, bersama berteriak, bersama dalam satu perjuangan.
Aku lewat di hadapan mereka dengan mobil mewah di temani oleh supirku yang telah lama ku sewa, “Lihatlah pak keringat mereka, mengucur tanpa pamrih, untuk suatu yang bernama ibu pertiwi”.
Lalu ku katakan pada supirku, “Lihat saja kedepan, perhatikan saja jalan, mereka jangan hiraukan”
Dari mereka apakah seharusnya ku ucapkan terimakasih, untuk sebuah reformasi yang telah ku rasakan kini?, atau apakah ku harus mengumpat mereka karena hanya idealis ketika menjadi mahasiswa namun ketika telah menjadi yang memiliki wewenang sama busuknya.
“Aku dahulu pernah menjadi seperti mereka Pak, tapi begitulah pak, hidup memang harus mempelajari keadaan, jika kita tak bisa kita akan lenyap dari sejarah”, Ku perhatikan Supirku hanya manggut-manggut entah paham atau mengerti.
Sampai di ujung jalan ku lihat polisi anti huru-hara telah bersiap dengan pagar betisnya, aku hanya percaya, hidup manusia adalah saling mengingatkan antara sesamanya mengenai kesabaran dan kebenaran, -
0 komentar:
Posting Komentar