Terlupakan

|

Terasa panjang keluhmu saat tambatkan rebah dibahuku
Sudah berapa lama engkau pendam rasa itu
Suara neraka membisu dalam sanubari
Terlalu cepat telah laju matahari

Buratan senyummu tergores lara
Isak mu engkau pelukkan ku
Hai, sungguh sangat manis engkau seperti dahulu
Tenanglah sungguh tak apa apa

Kita adalah sama
Kelamin yang berbeda
Menciptakan dosa yang terindah

Terlalu lamban laju rembulan
Merangkak di kedinginan malam
Telah kita hangatkan dalam peraduan
Senyumanmu dalam kenangan

Kita adalah sama
Kelamin yang berbeda
Menciptakan pahala yang terindah

Awang

|

Cawan cinta direguk airnya diantara kebisingan dan tipu daya
Fajar menghilang tanpa cahaya
Oh, dia pembawa anugerah para dewata
Ayun golek terurai dari tubuhnya
Cawan cinta tertumpah

Ia tak tersebut namanya
Memuja gairah yang selalu membara
Mengaliri setiap sudutnya
Cawan cinta mengalirlah, . . . . . . . . .

Melodi cinta disebutkan
Butuh beberapa pengorbanan
Perlu berapa lagi menjadi korban
Ia, namanya tak patutlah disebutkan

Tergolek lunglai dan lesu
Senyum manis bibirnya merekah
Cawan cinta membatu
Perih dan kenikmatan tiada batasnya

Perasaannya telah lama hilang
Di beli dengan cinta yang terbuang
Ia menari setengah telanjang
Lalu berubah dengan jalang

Ia, sudah terlalu banyak namanya

*****

|
Terasa kembali sentuhanmu dalam kalbuku
Terukir kembali senyumanmu dalam ingatanku
Rindu ternyata tak dapat memisahkan
Tangkai kemarin yang menemukan
Ada waktu yang sangat panjang
Jalan pelan-pelan


P, -

|

Membiarkan nyanyian elegi pengantar mimpi
Penuh rasa cinta dipeluk dalam sentuhan adzan
Jasad jasad terbaring kembali
Semaikan cerita yang sama ini yang kesekian

Sujud dalam keikhlasan mengertikah ujian
Bunga kedamaian menjadi hitam legam
Jatuh sehelai sehelai menjadi darah
Hapuslah dengan sebaiknya

Anak yatim diantarkan piatu
Tangisan diantarkan bisu

Perjuangan masih berapi
Ia berkobar tinggi tinggi
Dengarkan denyut nadinya
Masih berdetak dari nyalanya

Aku adalah Indonesia

|

Saat tanah Papua dikeruki isi perutnya
Kemiskinan diri melanda
Kekayaan ini kami relakan dengan darah
Aku adalah Indonesia

Para dewan rakyat tidur dan marah-marah
Anggaran belanja dicoba untuk dikurangi
Alasan subsidi tak layak huni
Pemerintah adalah pemberi perintah
Aku adalah Indonesia

Jalanan tumpah ribuan mahasiswa
Buruh-buruh berdesakan dibelakangnya
Di pandangan mata selalu sama
Pemerintah dipastikan salah
Aku adalah Indonesia

Saat tanah Jakarta menjadi kaya
Setiap jengkal menjadi gudang-gudang
Pengerukan rapi tersimpan
Aku adalah Indonesia

Mata iri dengki selalu menjatuhkan
Diam menusuki dalam keheningan
Sering juga bercerita tiada henti
Wacana-wacana bertubi-tubi
Aku adalah Indonesia

Darah miskin adalah minuman biasa
Berikan pemanis agar tak terlalu tampak berwarna merah
Aku adalah Indonesia

Agama-agama diisi menjadikan pencaharian
Agama-agama dijadikan topeng dan bahan pertikaian
Aku adalah Indonesia

Aku adalah Indonesia
Ada cinta harapannya
Ada ibu pertiwi meneteskan airmatanya
Ada kebohongan dan kemunafikan
Dijadikan kebenaran dalam bayangan

Aku adalah Indonesia
Indonesia siapakah aku