Djogdja

|

Dimana kah arti kata, setiapnya perlahan berbicara, lusuh kain bendera menyaksikan semangat perjuangan, sampai juga padamu tentang kisah-kisah kuno para pahlawan yang terkenang di tanahnya sendiri. Ku persembahkan tulisan ini untuk tanah airku, bumi bangsaku, bumi yang tercinta, Merdekalah, -
Permasalahan tak akan pernah habis-habisnya jika selalu di pikirkan, aku meninggalkann jejakku pada Merapi, carilah pada yang tertinggal, berkaca pada peninggalan yang ditinggalakan sesuatu yang penuh penafsiran memang, -
Aku masih menulis, menulisi hidup dan kehidupan, tulisan akan berdiri dengan teman, tak akan mampu sebuah huruf beridiri tanpa kaitan bukan?, kata menjadikan kalimat, seperti kita, antara kita, aku, kamu bahkan mereka, -

Serangan Oemoem 1 Maret 1949
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  .
Yogyakarta, 1949
Di sebuah taman yang terbuka, duduk berdua perwira menengah, ada seorang penjual angkringan sedang menjajakan dagangannya.
Tentara 1 : Sudah kau dengar Yogya telah jatuh ke tangan revolusi? (sambil menuangkan air putih pada tentara 2)
Tentara 2: Haha, ya sudah ku dengar bahkan sejak malam tadi, Harto katanya menjadi pangima, aih, padahal rasanya  baru kemarin aku melihat dia sedang bersama para prajurit, cepat benar rasanya.
Tentara 1: Maksud mu bagaimana?
Tentara 2: Yah, baru kemarin sore dia bersama denganku ini, sekarang dia sudah menjadi seperti panglima yang bertakhta, padahal aku tahu benar apa yang terjadi sebelum serangan itu shubuh tadi, (Mengambil sebungkus makanan, kemudian membukanya perlahan).
Tentara 1: Apa sebenarnya yang sedang jenengan katakan? (Menyulut rokok)
Tentara 2: Hanya dia yang bisa menggerakkan seluruh rakyat yang berada disini, ku pikir kamu paham apa yang ku katakan, sudahlah, biarkanlah sejarah nanti yang menuliskan apa yang terjadi.

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

HB IX : Sudah kamu laksanakan apa yang ku perintahkan?
Harto : Sudah Sinuwun, kini penjajah sudah tiada, Jogja aman untuk beberapa jam ke depan
HB IX : Baiklah, segera laporkan pada Dirman apa yang telah terjadi.
Harto : Baik, Kulo Pamit Sinuwun.

Ngayogyakarta Hadingrat 1 Maret 2011, . . . . . . . .
(Beberapa orang terlihat berdemonstrasi, memakai pengeras suara, suara bising kendaraan menutupi sekali-kali, titik 0 Yogyakarta).
Demonstran 1 : Mari teman-teman sekalian, kita tunjukkan pada Indonesia, kalau Jogja telah istimewa, Keistimewaan Jogja adalah harga mati, Kita akan menjaga sampai titik darah penghabisan, Hidup penetapan, Hidup penetapan, HB Gubernurku, PA Wakil Gubernurku, Setuju !!!!!!!!!!!
Demonstran 2 dan seterusnya, tak terhitung jumlahnya : Setujuuuuuuuuu !!!!!!!!!!

Jakarta, 2011, . - - - - - -
Wakil Rakyat 1 : Apa yang seharusnya kita lakukan untuk Jogja? Bagaimana pendapatmu teman?, ku kira haruslah kita belajar sejarah yang panjang, sangat rumit butuh banyak penyelesaian, RUUK masih sangat jauh, teman-teman juga mungkin banyak yang tak paham ku kira.
Wakil Rakyat 2 : Aku juga bingung teman, semakin hari semakin banyak pergerakan, masih sangat terasa ke kharismaan seorang figur yang ku lihat, mari kita sidang kawan, waktu pending telah habis, .

Ngayogyakarta Hadiningrat, . . . . . . 2011
(Pembicaraan itu bermula atau perpecahan itu bermula, aku juga tidak tahu, mungkinkah ku hanya dapat mengira-ngira)
GBPH XX : Saya adalah pewaris Tahta, adikku mengalahlah, cukuplah warisan itu yang diberikan kakek pada kita HB VIII, terimalah, . . .
GBPH YY : Tidak bisa, saya tak terima, mari kita selesaikan menurut hukum, aku akan membawamu pada pengadilan, kita sama-sama pewaris yang sah.
(Lampu mulai redup perlahan, hening, orang-orang keluar)

Duh Gusti, apa yang terjadi pada tanah yang Engkau berkahi ini, nafsu dunia menggerogoti kami, . . . .
Duh Gusti, ini kah titah Mu pada tanah ini, inikah akhir dari kisah yang panjang ini, masihkah Engkau meridhai, semuanya menjadi demikian pelik, Gusti, . . . .
(Musik Mengeras, bertambah deras)
Ngayogyakarta Hadiningrat 2012, - . –
Kepatihan
Pejabat 1: Perpanjangan kembali kah , RUUK belum selesai juga sampai kini oleh pusat
Pejabat 2: Entahlah, haruskah kita kukuhkan Ngarso Dalem kembali seperti beberapa tahun lalu, tapi perpecahan sudah semakin tampak, aku sungguh tak ingin melihat semua ini terjadi
Pejabat 1: RUUK mungkin menjadi jawabnya, tapi belum lah disepakati, jika pengaturan yang jelas dan terbuka, cobalah dipahami aspirasi dari rakyat sendiri
Pejabat 2:  Raja Tanah Jawi tinggal inilah yang tersisa, semoga masih dapat berlanjut, ku cucuku nanti dengan bangga menceritakan tentang perkasanya Kerajaan ini, dan masih dapat dirasakannya dalam kenyataan, tidak tinggal cerita, kau paham bukan?
Pejabat 1: Yah, engkau benar, aku juga tak ingin demikian,
(Mobil berhenti tepat tak jauh dari mereka, turunlaah seseorang)
Raja HB X berjalan perlahan melewati mereka berdua
Pejabat 1 & Pejabat 2 : Selamat pagi Sinuwun,  (Kepala menunduk). . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
(BABAK 1 Selesai)

------Yogyakarta, Oktober 2012, -------
Gedung Parlemen, Ngayogyakarta Hadiningrat, ………………………………
(Terdengar suara gaduh dan riuh, masing dewan saling berbicara tak menentu,)
-------------- Jakarta, Agustus 2012, ------------------

(Suasana Rapat Paripurna, terlihat ratusan wakil rakyat mengikuti sidang)
Pimpinan Sidang : Bagaimana saudara-saudara semuanya, apakah menghendaki pemilihan atas DIY dengan metode yang telah ada dalam draft RUUK ini?
Fraksi X : Kami setuju pimpinan, karena Gubernur adalah jabatan publik yang tidak di dapatkan secara warisan, oleh karenanya haruslah di idi dengan pemilihan
Pimpinan Sidang : Bagaimana pandangan Fraksi S?
Fraksi S : Kami memandang keistimewaan dari penetapan, kami berpendapat, Sultan telah merelakan tanahnya dimasuki UUPA, kenapa kita harus merampasnya lagi dengan melakukan pemilihan, mohon pertimbangan teman-teman Fraksi semuanya, Ngayogyakarta Hadingrat ini telah ada sebelum negeri ini ada, Terimakasih Pimpinan.
Pimpinan Sidang : Bagaimana Fraksi D?
Fraksi  D: kami tetap seperti semula pimpinan, tetap pada pemilihan
Pimpinan Sidang : Yang terakhir Fraksi G?
Fraksi G : Kami pada penetapan Pimpinan, karena Jogja adalah warisan budaya Indonesia yang harus dipertahankan.
Pimpinan Sidang: Terimakasih, karena masih belum adanya kemufakatan, sidang kita skors !!!!!!
(Palu sidang di ketuk 3x, Sidang selesai)

------Yogyakarta, Oktober 2012, -------
(Mendung langit sore bermuram durja, oh bianglala telah meraja bumi angkara murka, Bumi mataram, mengapakah?)

(Seseorang masuk seperti membaca puisi, rimanya terdengar tersusun rapi)
Tanahku adalah kesuburan dan kerukunan
Padi menghampar pangan berkecukupan
Tanpa pamrih saling membahu di kedepankan
Senantiasa kami lakukan

Kenapa tanahku kini berdarah-darah
Kita saudara bertikai juga
Anyir ini adalah kandungku sendiri
Kenapa setan ini menghinggapi

Mendung langit sore bermuram durja
Oh bianglala merajai bumi angkara murka
Bumi Mataram, mengapakah?

(BABAK II SELESAI)

Monolog
(Monolog diperankan oleh seorang laki-laki dengan pakaian sorjan dan lurik dengan blankon di kepalanya)
Selamat malam para Tuan dan Nyonya
Semoga semuanya di muliakan, di dalam nama Tuhan kita selalu berdo’a untuk hari depan yang indah dan terbaik.
Pertualangan manusia telah dimulai saat ia menyusu pada ibunya, atau bahkan pada saat dia menemukan lingkungannya, berbentuk tubuhnya, mengayam ilmu dia pada sekitarnya.
Tanah ini adalah tempat aku dan kau, kita, mereka, dan saudara, tuan serta nyonya, kita makan dari buminya.
Waktu berjalan semana mestinya, perubahan-perubahan yang terjadi tak dapatlah kita bending, arus-arus, angin-angin yang datang memang akan datang semestinya, Tuan-Tuan serta Nyonya-nyonya dan hadirin yang saya muliakan, inilah yang seharusnya dipertahankan.
Wanita hanyut dalam sendatari Ramayana di bawah bulan purnama, menetes air matanya saat pemeran Shinta itu bertemu Rama, bukankah seharusnya bahagia?, ia teringat kampung halamannya, Ia ingat kedua ibu bapaknya, ia ingat kotanya, ia ingat persis seluruhnya, Yogyakarta, hampir dihabisi tak tersisa.
Ia ingat keikhlasan adalah tugas utama manusia, namun bukan berarti memberi dengan menyakiti, jadikan pelajaran di setiap perjalanan.
Tuan dan Nyonya,.
Negeri ini lah ibukota saat itu, saat orang-orang menyeberang, Negeri inilah yang memapah, negeri inilah yang memberikan tangannya dengan penuh keikhlasan, kini, orang-orang yang si seberang sudah lupa telah menyeberang, mungkin tak pernah lagi di ceritakan oleh kakek nenek mereka, tentu saja mereka akan berkata sejarah adalah sampah.
Negeri inilah tuan dan nyonya, negeri yang memberikan tubuhnya demi Negara, memberikan darah dan air matanya demi persatuan, memberikan keringatnya demi kemerdekaan, . . . . . . .  (Histeris kemudian terduduk lalu menagis terisak isak) . . . . . . . . .
(Lampu redup perlahan sampai padam) - - Monolog Out
(Lampu Nyala kembali)

(Seseorang masuk membawa bendera kemudian menaikkannya setengah tiang memandang sejenak kepada bendera lalu kemudian pergi)
(Lampu redup perlahan kemudian padam)

(Babak III Selesai)



Surakarta Hadiningrat
(Dua orang lelaki sedang berbincang-bincang dengan pakaian Sorjan dan Lurik dan Blangkon dikepalanya ; latar tempat: Alun-alun Keraton)
A : Sudah engkau dengar bagaimana kabar Yojo saat ini kang Mas?
B : Ya, sudah sampai di telingaku kabar itu, Sudah berapa lama memang waktu ini akhirnya tiba juga saat seperti ini.
A : Maaf, maksud kang mas bagaimana?
B : Sastro . . . . Sastro, apalagi yang di cari nafsu manusia selain kekuasaan dan keserakahan, mencuri yang tidak hak terlalu sering, membenarkan yang salah terlalu lumrah, segala yang dilarang dilaksanakan,
A : Semakin aku tak paham mas, kamu ini ngomong apa?
B: Lihat PB telah padam karena apa? (jari telunjuk sedang menunjuk arah keraton), Lihat manusia serakah akan mendapati akhirnya sendiri, kamu tahu kan, jangan pernah kamu katakan kamu tak paham,  . . . .  ya itulah sebenarnya, semua akan musnah dengan sendirinya jika kita sendiri yang tak menjaganya, (Sedikit histeris). . . . . .  Tolong kamu ambilkan kecapi dan kamu mainkan boning itu, cepatlah!
A : Baik kang mas, (Lalu menyerahkan kecapi kemudian A duduk dengan posisi memainkan bonang)
B : (Memetik kecapi lalu bernyanyi)
B :  
(Mulai bernyanyi dengan Langgam)
Dulu aku di ceritakan perkasanya mataram
Aku diceritakan betapa jayanya sultan agung
Kedirgantaraan seakan tak pernah padam
Adakah penghianatan dan sewenang-wenang
Hingga ketamakan dan keserakahan memecahkan
Atas nama rakyat atau siapa saja
Berbagi menjadi dua
Giyanti yang tak terlupakan
Saudara yang terpisah Yojo dan Sala
Oooooooooooooo . . . . . . . .
Mataram ku kini dimana
Indonesia ku kini memaki
Keindahan Mataram ku ini
Cukup sudah Sala yang tak di akui
Kami tak ingin Jogja kami rebut kembali , . . . . .
Ataukah memang  Jogja harus kami rebut kembali, . . . . .

(Lampu padam, orang-orang keluar, musik hilang pelan-pelan)

(Babak IV selesai)

(Musik Jalan Jogja Java Carnival 2010 menjadi backsound, enam orang laki-laki masuk, menari mengikuti musik sekitar 4 menit, lalu keluar)
Seseorang memberikan orasi budaya

Ini adalah bumi mataram
Ini adalah bumi jiwa-jiwa yang menggema
Ini adalah ibukota Negara
Ini adalah kota budaya
Kami hanya ingin tetap istimewa
Istimewa yang butuh penetapan

(Seorang dengan pakaian abdi dalem mengibarkan bendera kraton Ngayogyakarta hadingrat, lalu memberikan penghormatan setinggi-tingginya)
(Musik selesai-Lampu padam)

--Selesai--



0 komentar:

Posting Komentar