Puisi satu

|
Aku tertidur diatas pasir merbabu
Seorang teman bangunkanku saat shubuh
Beduk dan suara azan tak terdengar mendayuh
Aku teringat negeriku
Bentangkan bendera merah dan putih
Nyanyikan Indonesia Raya dengan berapi api
Disebelahnya, terduduk pelacur jalanan langganan sepi
Disampingnya, pengangguran bermuka lusuh tak dapat mencuri
Aku teringat bangsaku
Berbeda-beda namun bersatu
Disebelahnya, perbedaan paham saling membunuh
Disampingnya, minoritas menjadi musuh

Aku terjaga diatas pasir glagah
Seorang teman denganku melangkah bersama
Camar dan ombaknya bernostalgia
Aku nyalakan api
Angin meliukkannya sangat rapi
Terbentuk bayangan berganti-ganti
Disebelahnya, seorang nenek memanggul beban beberapa kilo untuk sesuap nasi
Disampingnya, seorang eksekutif muda korupsi untuk anak bini

Dia berjalan diatas pasir Jakarta
Aku temani dia dengan menggandeng tangannya
Asap dan terik matahari tak terasa karena terbiasa
Aku teringat dia
Menangis dan tertawa
Disebelahnya, ayahnya ajarkan kesejatian, ketegaran
Disampingnya, ibunya ajarkan welas asih, keprihatinan

Aku dan dia
Perpisahan dan pertemuan dengan air mata

0 komentar:

Posting Komentar