Dia menatapku
dalam-dalam, terlihat ada beban yang tak mampu dikatakan, matanya seperti
berbicara, sepasang bola itu ingin mengucapkan berjuta, yang ku ingat hanya
derai, hati yang terpisah telah terlalu dalam mengisi. Tapi itu hanyalah ingatanku
yang terbentuk dari mulut orang, bukan mulut pemilik bola mata itu, atau mulut
bola mata itu sendiri. Dan di malam yang basah karena hujan, aku masih
menerka-nerka tentang beban dari tatapan sepasang bola mata itu.
Siang kemarin aku telah mengantarkan, dia masih
saja diam, tak mau merelakan perpisahan dari pertemuan, genggamannya sangat
erat ku ingat, kau tahu bukan, banyak kekasih yang mendekat, tapi mengapa hanya
dialah yang mengikat, aku telah membuang jauh, cibiran mereka yang menatap kami
seperti musuh, aku masih mencoba mengerti beban dari tatapan sepasang bola mata
itu. Beban yang mungkin tercipta karena keputusanku.
Maafkan
aku, hai, pemilik sepasang bola mata terindah. Bicaralah, supaya perpisahan ini
menjadi indah. “Ku tak ingin melepasmu, ku ingin selalu bersamamu, aku ingin
memelukmu, aku ingin menciummu, aku ingin menyetubuhimu, aku ingin . . . . aku ingin . . . . . . . . “ Gelegar, suara
petir menyambar membuyarkan khusyuk lamunan ku, rokok yang tadi ku hisap kini
telah mati dengan api yang lenyap. Sepi, kenapa ia tak pernah bicara.
Entahlah,
darimana datangnya suara petir itu. Padahal dia diam. Aku diam. Sepi. Namun
tiba-tiba bergemuruh. Mungkin kata benakku sendiri. Dan meski malam semakin
malam, namun dia belum kunjung bicara. Buatku jadi gila; berbicara dengan
prasangka.
Aku
menutup lembar diari, berharap kenangan pergi tak datang lagi, tapi sepasang
mata itu selalu menghampiri dalam mimpi, salah apa, kutukan apa hingga kini aku
sealu berhalusinasi, bibirnya yang tersenyum tak pernah bicara, sejak itu,
setelah itu, malam gerimis itu. Pelukan yang belum pernah melingkar, ciuman
yang tak pernah memagut, dari seorang bermata indah yang kucintai, biarlah
menjadi kisah yang belum bisa dilanjutkan lagi. Dan aku harus menutup lembar
diari… sementara ini.
Bukan
karena cibiran yang membuatku menutup diari, dan bukan karena status yang
membuatku mengakhiri. Tapi karena aku benar-benar mencintainya. Kirana,
perempuanku yang bermata indah, perempuanku yang menyembunyikan diri dalam
lumpur, biarkan aku mengambil jarak darimu. Aku berjanji; suatu saat aku akan
kembali dan menyelamatkanmu.
Kirana
dan aku bertemu di suatu waktu, disaat kekalutanku tak menyatu, cinta apa yang
telah ku berikan diatas ranjang, senyuman setan dan nama Tuhan yang kupersumpahkan,
aku berjalan tanpa tujuan, terhenti saat Kirana meminta suatu keputusan,
sedangkan sepasang bola mata telah basah, ia menatap ratusan lelaki dengan
menyimpan satu hati. Ya, aku tahu benar ia menyimpan satu hati, dan itu adalah
hatiku yang juga menyimpan hatinya meski baru pertama bertemu.
Aneh,
ketika mataku dan matanya beradu pandang, aku seperti merasa sudah mengenalnya.
Entah dimana, kapan, di kehidupan mana. Mungkin sebuah de javu. Dan aneh, bagaimana aku bisa dengan cepat menyimpan hatinya
saat pertemuan pertama, di suatu waktu itu.
Aku
masih ingat betul, di suatu waktu itu, malam berjalan begitu lambat. Sampai
ketika mulutnya bicara, menghentikan aksi pandangan mata.
“Sudah
satu jam. Jadi pake saya nggak?” Suara berat dan canggung keluar
dari mulut Kirana, minta keputusan. Aku hanya diam. Tak berani memutuskan. Lalu
dia diam. Aku dan dia berdiam-diaman lagi.
Baru
sampai saat matanya basah, aku mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
Meletakkan diatas meja. Lalu bilang; besok aku kemari lagi…, dan memutuskan
untuk melenggang pergi.
Sepasang bola
mata yang basah terlalu banyak bicara, seolah-olah tau arah dan maksud kemana,
sejak itukah, saat tumpukan rupiah ditubuhnya aku
mulai mencintainya, ataukah sejak sepasang bola mata cokelat itu basah.
“Aku tau aku
bukanlah orang yang pertama, aku hanya ingin menjadi yang terakhir untukmu”
saat kukatakan hal itu matanya masih basah, malah semakin menjadi, ia hanya
berucap sambil memelukku “Aku telah mendengar seribu janji yang telah diingkari,
biarkanlah kita tetap begini”.
Dia menatapku
dalam-dalam, terlihat ada beban yang tak mampu dikatakan, matanya seperti
berbicara, sepasang bola itu ingin mengucapkan berjuta, yang ku ingat hanya
derai, hati yang terpisah telah terlalu dalam mengisi. Tapi itu hanyalah
ingatanku yang terbentuk dari mulut orang, bukan mulut pemilik bola mata itu,
atau mulut bola mata itu sendiri. Dan di malam yang basah karena hujan, aku
masih menerka-nerka tentang beban dari tatapan sepasang bola mata itu.
Siang kemarin aku telah mengantarkan, dia masih
saja diam, tak mau merelakan perpisahan dari pertemuan, genggamannya sangat
erat ku ingat, kau tahu bukan, banyak kekasih yang mendekat, tapi mengapa hanya
dialah yang mengikat, aku telah membuang jauh, cibiran mereka yang menatap kami
seperti musuh, aku masih mencoba mengerti beban dari tatapan sepasang bola mata
itu. Beban yang mungkin tercipta karena keputusanku.
Tapi aku harus
menutup diari, tentang catatan kisah yang tak pernah terjadi. Dan diari harus
tertutup tatkala aku sadar. Tatkala efek pil dari diskotik semalam telah
berakhir. Efek yang membuatku gila; menatap cermin, memandangi bola mataku
sendiri, dan membuat cerita yang kukarang-karang dari halusinasiku.
“Kirana….
Kirana….” Kudengar sayup-sayup suara Ibu memanggilku.
*Bersama Rahman Yaasin Hadi