Puisi Sembilan

|

Jaya nusantara
Raharja alam manusianya
Gunungan budaya
Karya seni berlimpah

Tuhan maha cipta
Titipkanlah bijaksana
Jauhkanlah marabahaya
Amin harapannya

Membawa cinta di bara api meregut sisa
Matahari membiaskan bayang atas telaga
Bulan murung bermuram
Payung hitam
Mata hitam
Harapan hitam
Masa lalu hitam

Lukisan Tuhan terpojok pada dinding abu-abu
Menanti cemas kematian kelabu
Wajah membumi berharap kasih
Dosa kah terampuni

Duduk di pojok
Derai gerimis ada disana
Tetesannya membukakan luka
Kenangan terserak

Kasih, lukisan Tuhan terpojok pada dinding abu-abu
Tebal dan berdebu
Wajah rindu hantarkan pilu
Diantara kapal dengan dermaga yang berlabuh

Aku bersujud padanya
Sudah tak ku kira kali berapa
Kemudian ingatanku tertuju padamu
Mencoba mengikhlaskanmu

Ku kecewa pada diriku sendiri
Mencintaimu terlalu penuh arti
Kasih,
Masih sepikah hatimu untuk diri ini

Membawa cinta berada di kawah candradimuka
Menantikannya tetap dan mengapa
Pujangga diam
Hatiku hitam
Mataku hitam
Telingaku hitam
Lenganku hitam
Harapanku hitam
Kasih . . . . . . . putih

Tuhan maha cipta
Titipkanlah bijaksana
Jauhkanlah marabahaya
Amin harapannya

Kirana Kiranya*

|

Dia menatapku dalam-dalam, terlihat ada beban yang tak mampu dikatakan, matanya seperti berbicara, sepasang bola itu ingin mengucapkan berjuta, yang ku ingat hanya derai, hati yang terpisah telah terlalu dalam mengisi. Tapi itu hanyalah ingatanku yang terbentuk dari mulut orang, bukan mulut pemilik bola mata itu, atau mulut bola mata itu sendiri. Dan di malam yang basah karena hujan, aku masih menerka-nerka tentang beban dari tatapan sepasang bola mata itu.
                Siang  kemarin aku telah mengantarkan, dia masih saja diam, tak mau merelakan perpisahan dari pertemuan, genggamannya sangat erat ku ingat, kau tahu bukan, banyak kekasih yang mendekat, tapi mengapa hanya dialah yang mengikat, aku telah membuang jauh, cibiran mereka yang menatap kami seperti musuh, aku masih mencoba mengerti beban dari tatapan sepasang bola mata itu. Beban yang mungkin tercipta karena keputusanku.
                Maafkan aku, hai, pemilik sepasang bola mata terindah. Bicaralah, supaya perpisahan ini menjadi indah. “Ku tak ingin melepasmu, ku ingin selalu bersamamu, aku ingin memelukmu, aku ingin menciummu, aku ingin menyetubuhimu, aku ingin . . . .  aku ingin . . . . . . . . “ Gelegar, suara petir menyambar membuyarkan khusyuk lamunan ku, rokok yang tadi ku hisap kini telah mati dengan api yang lenyap. Sepi, kenapa ia tak pernah bicara.
                Entahlah, darimana datangnya suara petir itu. Padahal dia diam. Aku diam. Sepi. Namun tiba-tiba bergemuruh. Mungkin kata benakku sendiri. Dan meski malam semakin malam, namun dia belum kunjung bicara. Buatku jadi gila; berbicara dengan prasangka.
                Aku menutup lembar diari, berharap kenangan pergi tak datang lagi, tapi sepasang mata itu selalu menghampiri dalam mimpi, salah apa, kutukan apa hingga kini aku sealu berhalusinasi, bibirnya yang tersenyum tak pernah bicara, sejak itu, setelah itu, malam gerimis itu. Pelukan yang belum pernah melingkar, ciuman yang tak pernah memagut, dari seorang bermata indah yang kucintai, biarlah menjadi kisah yang belum bisa dilanjutkan lagi. Dan aku harus menutup lembar diari… sementara ini.
                Bukan karena cibiran yang membuatku menutup diari, dan bukan karena status yang membuatku mengakhiri. Tapi karena aku benar-benar mencintainya. Kirana, perempuanku yang bermata indah, perempuanku yang menyembunyikan diri dalam lumpur, biarkan aku mengambil jarak darimu. Aku berjanji; suatu saat aku akan kembali dan menyelamatkanmu.
                Kirana dan aku bertemu di suatu waktu, disaat kekalutanku tak menyatu, cinta apa yang telah ku berikan diatas ranjang, senyuman setan dan nama Tuhan yang kupersumpahkan, aku berjalan tanpa tujuan, terhenti saat Kirana meminta suatu keputusan, sedangkan sepasang bola mata telah basah, ia menatap ratusan lelaki dengan menyimpan satu hati. Ya, aku tahu benar ia menyimpan satu hati, dan itu adalah hatiku yang juga menyimpan hatinya meski baru pertama bertemu.
                Aneh, ketika mataku dan matanya beradu pandang, aku seperti merasa sudah mengenalnya. Entah dimana, kapan, di kehidupan mana. Mungkin sebuah de javu. Dan aneh, bagaimana aku bisa dengan cepat menyimpan hatinya saat pertemuan pertama, di suatu waktu itu.
                Aku masih ingat betul, di suatu waktu itu, malam berjalan begitu lambat. Sampai ketika mulutnya bicara, menghentikan aksi pandangan mata.
                “Sudah satu jam. Jadi pake saya nggak?” Suara berat dan canggung keluar dari mulut Kirana, minta keputusan. Aku hanya diam. Tak berani memutuskan. Lalu dia diam. Aku dan dia berdiam-diaman lagi.
                Baru sampai saat matanya basah, aku mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Meletakkan diatas meja. Lalu bilang; besok aku kemari lagi…, dan memutuskan untuk melenggang pergi.
Sepasang bola mata yang basah terlalu banyak bicara, seolah-olah tau arah dan maksud kemana, sejak itukah, saat tumpukan rupiah  ditubuhnya aku  mulai mencintainya, ataukah sejak sepasang bola mata cokelat itu basah.
“Aku tau aku bukanlah orang yang pertama, aku hanya ingin menjadi yang terakhir untukmu” saat kukatakan hal itu matanya masih basah, malah semakin menjadi, ia hanya berucap sambil memelukku “Aku telah mendengar seribu janji yang telah diingkari, biarkanlah kita tetap begini”.
Dia menatapku dalam-dalam, terlihat ada beban yang tak mampu dikatakan, matanya seperti berbicara, sepasang bola itu ingin mengucapkan berjuta, yang ku ingat hanya derai, hati yang terpisah telah terlalu dalam mengisi. Tapi itu hanyalah ingatanku yang terbentuk dari mulut orang, bukan mulut pemilik bola mata itu, atau mulut bola mata itu sendiri. Dan di malam yang basah karena hujan, aku masih menerka-nerka tentang beban dari tatapan sepasang bola mata itu.
                Siang  kemarin aku telah mengantarkan, dia masih saja diam, tak mau merelakan perpisahan dari pertemuan, genggamannya sangat erat ku ingat, kau tahu bukan, banyak kekasih yang mendekat, tapi mengapa hanya dialah yang mengikat, aku telah membuang jauh, cibiran mereka yang menatap kami seperti musuh, aku masih mencoba mengerti beban dari tatapan sepasang bola mata itu. Beban yang mungkin tercipta karena keputusanku.
Tapi aku harus menutup diari, tentang catatan kisah yang tak pernah terjadi. Dan diari harus tertutup tatkala aku sadar. Tatkala efek pil dari diskotik semalam telah berakhir. Efek yang membuatku gila; menatap cermin, memandangi bola mataku sendiri, dan membuat cerita yang kukarang-karang dari halusinasiku.
“Kirana…. Kirana….” Kudengar sayup-sayup suara Ibu memanggilku.

*Bersama Rahman Yaasin Hadi