Bunga untuk Dian

|


Seperti yang sudah berjalan
Ada beberapa tatapan, senyum yang terlewatkan
Rasa pahit, manis getir kehidupan
Langit gerimis
Saat tinggalkan kau menangis
Romansa jiwa suatu kisah
Senja bawa duka yang terpendam

Seperti yang akan berjalan
Hadapilah kehidupan
Percayakan tanpa kepenuhan
Percayalah dengan keteguhan
Mekarlah menjadi bunga yang mewangi
Sekitar turut diterangi
Untuk hidup yang sebentar ini

Bunga-bunga jadilah keindahan
Tumbuhlah dengan kewaspadaan
Bunga jadilah harapan
Teruntuk padamu seorang

23 untuk 23

|


Oh, terlalu dini akan beranjak
Tanah masih retak saat berpijak
Tangisan duka menyayat luka
Terbuka mengantarkan jiwa

Lautan bergelombang
Hanyutkan pikiran bimbang
Teriakan semangat dikobarkan
Tak lelah menghantam karang dihadapan

Banyak cara mengisi hari
Mencari bahagia akhir yang dinanti
Tak mau mengingkari nurani
Inginkan terkadang menjadi bayi
Tak akan pernah dibiarkan air mata mengaliri pipi

Hai Tuhan lelahkah berikan jawaban
Setiap harapan yang dipanjatkan
Bertanya karena lelah mungkin juga bosan
Satu persatu akan pulang jua keperaduan

Oh, adakah waktu mencemooh
Pertanyaan tanpa jawaban yang selalu banggakan dengan angkuh
Bilakah perjalanan tersampaikan
Pada tujuan yang tersamarkan

1 Mei

|

Aku datang tanpa ingin
Kehadiran tanpa harapan
Marilah berdoa diam diam

Aku pergi tanpa kehilangan
Kepergian tanpa kenangan
Marilah berdoa diam diam

Bila saja, bertemu untuk mencari titik temu
Cinta saja, bersemi untuk selamanya

Aku datang dengan ingin
Kehadiran dengan harapan
Peluklah perlahan, -
Do’akan diam – diam

Bintang

|

Meremang malam temaram
Lampu minyak redup oleng dengan hembusan
Rindu untukmu menyelinap
Terdengar menyahut sayup

Dedaunan basah
Pipi dialiri airmata
Keputusan cinta adalah kita
Bukan berpisah tak bersama

Cinta ku temukan pagi dirimu
Doakan sepanjang hari
Nafsuku adalah cinta padamu
Bawakan setiap tumpukan hati

Disini untuk kita
Disana untuk mereka
Bertahanlah dengan ataupun tanpa
Jarak yang terpisah

Jalanmu Menikung

|


Bias cahaya melewati kasa-kasa
Debu mencari-cari letaknya
Terkadang kita pura-pura tak mengerti
Untuk suatu hal-hal pasti

Suara suara bergema di udara
Bisikan bisikan memekakkan telinga
Mengantarkan buruk rupa menggenggam bulan
Terpanah asmara jatuh di peraduan
Lihat ibu membuai anak dalam susuan
Nyanyikan harapan masa depan
Doa’ do’a di selipkan untuk namamu di balik malam
Berharap di atas awan malaikat turut mengaminkan

Kemana lagi akan melangkah
Kaki dan mulut penuh dusta
Jalan mu adalah buruan
Nafsu kedewaan
Menikam tajam padaku
Berbicara seolah-olah tak pernah engkau lakukan
Adalah kenyataan tak pernah sepaham

Ada jalan
Suatu tujuan


Jalanmu menikung

23 Maret

|

Terimakasih, dari ku penuh kasih
Berikan padamu untuk abadi
Agar rindu dalam genggaman dapat sampai
Terimakasih atas segala rasa yang bersemi
Untukmu kekasih
Kita akan tak mungkin memutar kembali
Titian senja yang telah pergi

Hampa akan menemani hari
Tanpamu apa arti

Sekarang adalah sendiri
Jiwa ini terasa mati
Melepaskan merpati terbang tinggi
Tak mengerti jalan kembali

Aku dan kamu adalah sepasang
Yang tak di inginkan
Dipertemukan
Kemudian dipisahkan

Titisan mu adalah bayangan
Setiap senja di balik peraduan
Diantara malam dengan kenestapaan

Selamat tinggal
Selamat jalan
Kasih adalah kisah
Tanpa bertanya

Sisi

|

Sepasang koin terlempar ke udara, deru haru debu selalu merindukan kebebasan, selalu melintasi kesempatan yang diberikan. Tadi pagi engkau telah tinggalkan pesan untuk terakhir kalinya, sepucuk surat engkau tinggalkan saat ku terpulas, lelah yang engkau berikan malam tadi.
Sepasang koin terjatuh di lantai, memecahkan keheningan, membuyarkan khayalan, saat aku dan kamu bercengkrama, melintasi malam indah dengan bintang bulan berkelipan, aku tak tahu apa kemudian yang terselipkan hingga aku dan kamu begitu erat.
Sedari tadi bir ku teguk sampai matahari ku lihat tak mau pergi dari timur pepohononan ini, namun panasnya ku rasakan memanggangku tepat di atas kepala, kepalaku terasa sangat berat, tak ku duga memang hantaman botol yang engkau berikan terasa meresahkan.
“Aku akan berhenti bermain dengan kelaminmu, kamu tak pernah mau tahu perasaan aku bagaimana jika hanya nafsu saja yang kamu keluarkan, seperti aku boneka saja”, aku tak mengerti arti ucapannya, padahal setahu aku hubungan aku dengan dia adalah selingkuhan yang baik-baik saja, sampai pagi ini, saat ku lihat matahari yang tak pernah beranjak dari timur pepohonan ini, namun panasnya sangat membakar tepat diatas kepala.
Bir ku teguk lagi,  dengan harapan ia kembali, aku tak habis pikir, apa hubungannya antara kelamin dengan hubungan ku padanya, sejauh ini aku merasakan semuanya baik-baik saja, aku dan dia merasakan nikmat yang sama, tak kurasakan ada yag janggal dalam hubungan ini, hanya saja memang pada malam itu ia ingin memakaikan pengaman di kelaminku, entah apa maksudnya, aku hanya menjawab dengan menolaknya, aku katakan saja, kita kan selalu melewatiya tanpa hal yang seperti itu.
Sebuah koin ku putarkan, sepasang mataku mengikuti arah putarannya yang berhenti di gelasku, membentur kegundahan, mengendurkan kepenatan. Menegak belasan teguk alkohol hanya berikan ilusi dan kepercayaan yang sulit ku kendalikan, aku merasa sangat marah, sangat kecewa, tepat saat engkau membenturkan botol sambil kau katakan, cinta mu adalah pada kelaminmu, nafsu mu yang selalu memburu dan kau katakan itu cinta, dan aku adalah yang ingin selalu kau cumbu, aku adalah pemuas nafsu, aku adalah cinta itu.
Aku harus melepasmu, aku yakin darah yang mengalir ini akan selalu mengingat tentangmu, apalah lagi hal yang akan timbul dari hasil persenggamaan, aku tahu engkau juga menikmati, aku tahu, aku tahu adalah darahku yang kini bersemayam pada rahimmu, aku tahu, aku tahu, . . . . . . . . .  aku juga tahu, bukan hanya aku, bukan hanya aku, bukan hanya aku, . . . .