Gerimis

|
Mencintaimu menjadikanku bahagia
Tetap menjadi suka apapun duka
Lepas waktu apa saja

Kau selalu ucapkan tetap setia
Kau selalu hembuskan angin untukku dapat merindu
Dengan cinta lewat kata kau ulangi berkali 

Dibalik rinai gerimis membasahi
Air yang jatuh tak akan mampu menghalangi
Kau pergi
Kasih

Gerimis, Jatuhkan lembayung di mataku
Tiada yang memayungi kegundahanku
Menangis, Air mata jatuh di pelupukku
Engkau pergi kasihku

Nafas rindu
Nafas cinta
Nafas hidupku
Ku akan selalu mengenangmu




Omong-Omong

|
Mari kita omong-omong tentang apa saja
Dengan santai, lembut dan terbuka
Mulai pada pagi, siang, sore, dan malam
Kita omong-omong sesuatu yang terjadi yang telah kita lewati

Berbicara harus bertutur
Dengan kata yang keras dengan nada yang lemah
Harus menjadikan ia biasa

Omong-omong,di negeri ku, Rakyat sengsara biasa, Rajanya lupa rakyat telah lumrah, Urusan perut tiada penawaran, Rakyat yang miskin karena dimiskinkan
Omong-omong, ku dengar ada mahasiswa, teriak lantang menentang penguasa, ketika ia menjadi penguasa, sedikitpun ia tiada pernah melaksanakan kata-kata ia pada saat menjadi mahasiswa
Omong-omong, di negeriku, sesuatu dianggap ada jika di nilai dengan uang, uang begitu berkuasa atas segalanya, bahkan dapat pengaruhi hati nurani
Omong-omong, di negeriku, orang-orang lebih percaya isu daripada fakta sebenarnya, dapat aku lihat betapa mudahnya berwacana di negeriku
Omong-omong, semuanya telah rancu, bahkan semakin kabur dan tiada kejelasan, hanya sebuah do'a-do'a yang di panjatkan selalu dan selalu

Dengan omong-omong lebih mudah untukku berteori, dan harus juga mudah untuk melaksanakannya

Sajak Untuk Merapi

|

Telah Cukupkah?


Bumi telah lama sepi
Menanti kabar dari langit
Langit telah lama sepi
Menanti kabar dari yang menegakkan langit tanpa tiang
Gerimis yang datang membawa petaka
Hujan yang datang membawa bencana
Pergerakan bumi membawa musibah
Angin yang bertiup ingin membawa cerita
Belum cukupkah?
Gunung yang menjulang membawa panas
Api menyala dan menjilati
Telah cukupkah
Anak menjerit 
Setiap masalah ia bawa pada Tuhannya
Telah cukupkah?
Dosa yang kita perbuat 

=()=2



Hapus air mata itu
Saudaraku
Semua adalah kehendak-Nya

Terlalu banyak dosa yang kita lakukan
Terlalu banyak kebohongan yang kita katakan
Terlalu banyak kemunafikan yang kita agungkan

Semua adalah sebuah teguran

Tuhan,
Maafkan kami, . . . . . . . . . 

Langgam Merapi


( Wooooooooooooooo)
Kemenyan mengepul, Gamelan bertabuh saling beradu
Penari - penari kepakkan sayap imitasi
(Woooooooooooooooo)
Dalang mainkan lakon
Rokok tinggal separuh
(Woooooooooooooooo)
Ia mengais rejeki halal
Peluh dan bau khas menemani
(Wooooooooooooooo)
Cerita mulai dijalankan
Arjuna mati di tangan rahwana
Ia terlalu sombong untuk hidup
(Woooooooooooooooo)
Bunga kembang tujuh rupa di semaikan
Sesaji di letakkan


(Duh Gusti)
Salah apa ini
Suara tawa berubah tangis
Angin yang dingin menjadi panas
Keramaian menjadi kegaduhan

(Duh Gusti)
Lari-lari dan lari
Sekejap saja berlalu
Kabut tebal meyelimuti
Semua mulut terkunci
Mata tertutup
Hening, . . . .. . . 

=()=4


Tuhan
Disini kami tertunduk pasrah
Semua ketentuanmu akan kami terima
Tuhan
Setiap hati kami telah berjanji
Namun terlalu sering kami ingkari
Tuhan
Terkadang kami terlalu menyombongkan diri
Terlalu sering kami berkata ini milik sendiri
Tuhan
Nun jauh disana di sebuah dusun mereka mengucap asmamu
Tuhan
Nun jauh disana di sebuah kota mereka acuhkan asmamu
Tuhan
Mengapa Engkau memberi bencana kepada mereka orang kampung dan desa
Dimana asma-Mu di sebutnya tak terhingga
Mengapa Engkau tak memberikannya pada orang kota, tempat dimana dosa selalu berada
Tuhan apa dosa ini
Tuhan apakah ini teguran
Atau kemurkaan
Tuhan
Disini kami tertunduk dan pasrah

Ketika Hari Menjadi Pagi

|
ketika hari menjadi pagi
Muncul harapan-harapan baru dengan mentari
apakah ia menjadi suka atau duka
tiada yang dapat mengerti dan memahami


ketika hari menjadi pagi
tadi malam, dan hari lalu telah menjadi kenangan
yang akan menjadi sejarah atau dilupakan
banyak yang dapat dikerjakan dan dilakukan


ketika hari menjadi pagi
semua makhluk mencari rezeki
disetiap penjuru bumi
kemungkinan mewujudkan mimpi
yang telah ia lewati dari malam sebelum hari


Setiap pagi
Setiap hari
adalah waktu yang memiliki rahasianya sendiri
ia dapat menjadi saat kelahiran
ataupun kematian



"Bongkar" (Iwan Fals)

|

Kita harus berani merubah cara pandang kita
Kita harus berani membongkar ketakutan yang selama ini menghantui hari-hari kita
Sudah tak bisa lagi kita memaklumi keserakahan yang mencokol di hati kita
Hati kita adalah sarang setan yang sesungguhnya
Tempat segala macam kejahatan
Revolusi harus terjadi
Perang ini perang abadi
Musuh kita adalah diri kita sendiri
Tidak akan berhenti sampai kita mati
Selamat berjuang kawan,
Bongkar, . . . .

Di batas Awang, Di batas Asa

|

Keabuan yang menyelimuti, Tiada henti sebagaimana nyatanya, Beribu wacana yang telah di telurkan tiada juga guna, Negeriku, dengan segala seluk beluknya, Dengan segala kepintaran dan kebodohannya mengarah ke awang-awang.
Masih menggelitik dalam fikirku, Ketika Udin di Bantul di hentikan jalur hidupnya karena kuasa, Atau tentang cerita Munir yang entah kemana, Atau ketika seorang nenek yang hanya mengambil beberapa biji kakau harus meringkuk di dalam rumah besi yang terkurung, tiada angkasa diatasnya, . . . . 
Mereka saling menasehati, saling menggurui, seakan lebih faham dan mengerti, Tetapi ia masih menjadi kaku, bahkan sudah hampir tak bisa diasah kembali, . . . . . . 
Apalah kira yang dapat kuharap pada negeri yang telah membesarkan ibu ku ini, sampai kini membesarkan cucu-cucunya, Kemiskinan masih diselingi sang kaya dengan corak yang begitu kontras, Harapan-harapan mengisi di setiap kepala manusia yang ada di bumi Negeriku, di setiap doanya, bahkan di setiap ia memperingati hari besar agamanya, . . . . . 
Hukum ku yang milik pribadi, Berbakti pada yang memliki materi, . . . . . . Terlalu manis yang diwacanakan, bahkan sang menteri hanya berteori, apalagi para dosen dan mahasiswanya, . . . . . . . . . .  Tiada keadilan di bumi manusia pribumi, . . . . . . .  Hanya di batas asa, Setiap apa yang ada, Masih mengarah pada langit yang luas, awang-awang, . . . . . 

1966, 1998

|
Berangkatlah kawan
Teriaklah dengan lantang
Semua tentang penipuan, penindasan yang terus dilanjutkan
Berangkatlah kawan
Kabarkanlah kebenaran
Setelah kita reguk nikmatnya kopi hari ini
Entah apa kabar hari nanti

Wajahmu terpampang di media massa
Disamping bendera yang engkau kibarkan setengah tiang
Engkau tetap gagah berani walau dianggap buronan
Banyak waktu yang harus di selesaikan

Berangkatlah kawan
Ku tahu beberapa butir peluru telah bersarang di dadamu
Suaramu abadi oleh dunia
saksi bisu seluruh penjuru bumi

Kabarkanlah kawan
Engkau masih melemparkan senyum
Dengan mulut yang telah berdarah
Belum sempat ku dengar engkau mengucap doa
Kebenaran untuk penguasa
Itu yang utama

Telah lama penindasan
Cukup muak ketidakadilan
Kabarkanlah kawan
Perjuangkanlah kawan
Semangat mu akan abadi
Abadi

Ayolah kita mulai

|
Dari sini

Dari Bumi Hindia ini, Kita pasti akan bisa merubah dunia, Di mulai dari diri sendiri, Tiada guna kita caci memaki, kesaudaraan dalam kebhinekaan, kita bukan bangsa yang munafik, . . . Banyak yang kita telah buktikan, zaman dahulu dikala Majapahit menggapai kemashyurannya, Dikala Sriwajaya, memegang armada asia, . . . . . . . . . . . . Mari Negeriku, tiada kata bertiikai kembali, Harus bersatu di bawah naungan, Bersatu cita utama, jangan berpecah belah lagi, Tiada guna darah dari saudara sendiri, Marilah kita mulai, Ayolah kita mulai

Untuk Pram

|
Bumi ini masih berjalan semestinya
Dengan waktu yang terlalu cepat berputar bagi sebahagian mereka
Dengan waktu yang terlalu lambat bagi sebahagian mereka
Sedang diriku tiada diantara keduanya
Hanya agak sedikit ragu antara surga dan neraka
Entah akan dimana
Timur dan barat hanya sebuah arah
Yang mengakibatkan peradaban berbeda
Sedang ku juga tidak terletak di keduanya
Ku bukan diantara semuanya
Ku seorang yang lahir di Bumi Manusia
Menjadi Anak Semua Bangsa
Yang akan meninggalkan Jejak Langkah
Menuju peradaban Rumah Kaca