Di batas Awang, Di batas Asa

|

Keabuan yang menyelimuti, Tiada henti sebagaimana nyatanya, Beribu wacana yang telah di telurkan tiada juga guna, Negeriku, dengan segala seluk beluknya, Dengan segala kepintaran dan kebodohannya mengarah ke awang-awang.
Masih menggelitik dalam fikirku, Ketika Udin di Bantul di hentikan jalur hidupnya karena kuasa, Atau tentang cerita Munir yang entah kemana, Atau ketika seorang nenek yang hanya mengambil beberapa biji kakau harus meringkuk di dalam rumah besi yang terkurung, tiada angkasa diatasnya, . . . . 
Mereka saling menasehati, saling menggurui, seakan lebih faham dan mengerti, Tetapi ia masih menjadi kaku, bahkan sudah hampir tak bisa diasah kembali, . . . . . . 
Apalah kira yang dapat kuharap pada negeri yang telah membesarkan ibu ku ini, sampai kini membesarkan cucu-cucunya, Kemiskinan masih diselingi sang kaya dengan corak yang begitu kontras, Harapan-harapan mengisi di setiap kepala manusia yang ada di bumi Negeriku, di setiap doanya, bahkan di setiap ia memperingati hari besar agamanya, . . . . . 
Hukum ku yang milik pribadi, Berbakti pada yang memliki materi, . . . . . . Terlalu manis yang diwacanakan, bahkan sang menteri hanya berteori, apalagi para dosen dan mahasiswanya, . . . . . . . . . .  Tiada keadilan di bumi manusia pribumi, . . . . . . .  Hanya di batas asa, Setiap apa yang ada, Masih mengarah pada langit yang luas, awang-awang, . . . . . 

0 komentar:

Posting Komentar