Diam, tiada suara yang dapat ku keluarkan dari mulut ini, ia terbata, dalam ingatan ingin memaki takdir, Tuhan telah di rasa tak adil, kosong, dan terkadang hampir gila jika mengingat semua kenangan yang telah lama terlewati, mimpi hanya menjadi penenang buat jiwa yang kini sepi.
Entah menjadi apa kini rindu di dalam dada, bersatu padu dengan perihnya jiwa, sakitnya hati tanpa diiringi air mata, yah tiada lagi yang dapat di tangiskan, semua telah terjadi, mencoba ikhlaskan, karena memang sebuah rasa yang ikhlas, bukan sebuah rasa yang mengharapkan balasan.
Aku, yang memang sendiri, menatapi semua kenyataan dengan sebuah senyuman, entah sampai kapan aku mampu untuk menahan, cinta terkadang beriku bahagia, namun tak banyak pula ialah yang memberikan duka, wanita, menjadi cerita yang tiada habis-habisnya, walaupun tidak cepat ku merasakan nya, dan sangat sulit untuk melupakannya.
Setiap perjumpaan pastilah berpisah, hanya melewatinya dengan berbeda, ada yang terlalu dalam dan menjadi akar yang kuat, hingga tiada kerelaan untuk berpisah, Kini itulah yang kurasa, meskipun rasaku padamu sungguh tiada pantas, namun ku sungguh tak bisa untuk berhenti, dan menjadi kan ia berpisah, aku ingin ini semua tiada akhir, aku ingin ku tetap menatap wajahmu di setiap waktu, aku ingin menjadikanmu selamanya bunga walau dalam mimpi ku, . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Aku jatuh cinta padamu, biarlah cinta tak memilliki.......................
0 komentar:
Posting Komentar