Untuk Manusia (2)

|
      Terbitlah sang fajar dari ufuk timur, seperti biasanya, burung yang ada di dedaunan pun mulailah berceloteh, alangkah indahnya alam. Seorang marco ini pun bangunlah dari tidurnya, aku merasa hidup kembali dari kematian yang berkali-kali, ku akan memulai kesempatan-kesempatan yang ada pada ini hari, sama seperti sebelumnya masih. Hidup memang sebuah kesempatan, karena semua terjadi bukan hanya sebuah kebetulan, benar memang adanya sesuatu yang telah terbiasa menjadi wajar, dan jika engkau telah berbicara sesuatu itu atas nama Tuhan, berhentilah ia.
            Kini ku sudah menapaki tanah Sunda Kelapa, ibukota negaraku tercinta, ku saksikan saudara di depan mataku, gedung-gedung tinggi menjulang, tingginya pun bervariasi saudara, seperti kotak-kotak sabun, berkali-kali ku lihat mobil-mobil mewah lewat di depan mataku, orang di dalamnya tak tampak sama sekali, keangkuhan telah menjadi biasa, diantara sesamanya yang tidak sederajat dengannya, kemerosotan moral dan agama di tengah mereka mengumandangkan tingginya nilai moral dan agama.
            Aku berjalan sendiri di kota ini, terasing diantara keramaian, kesunyian diantara sorak sorai manusia, aku tak tahu arah, ku hanya melangkahkan kemana saja kaki ini mau, hingga akhirnya ia berhenti diatas tanah yang gersang, tanah yang tak pernah dibahasi oleh air hujan, walaupun turunnya berkali-kali.
            Sebenarnya terlalu sedih aku harus meninggalkan tanah kelahiranku, tanah jawi di ujung timur pulau ini, betapa tidak, ku telah meninggalkan para sahabatku yang terbaik, ku telah tinggalkan kedua orang tua yang membesarkanku,ku juga telah tinggalkan wanita yang ku puja, yah, air mata ini pun sudah tak bisa lagi ku jatuhkan dari kedua bola mataku, . . . .  cinta.
            Sunda Kelapa mempunyai sejarah yang sangat panjang, entah berapa kali ia berganti pemerintahan, bahkan sempat ku mendengar nya ia menjadi pelabuhan yang cukup penting di dunia, mungkin tidak berlebihan lah kalau ku katakan kota ini memang sudah jaya sejak dahulunya, bahkan sampai tuanya.
            Negeriku Dwipantara ini termasuk negeri mahsyur di dunia, di puja ia oleh setiap manusia, terkenal ramah manusianya, terkabar indah dan permai alamnya, entah seperti bagaimana nantinya jika disaksikan dengan sendiri, namun bagiku sendiri, suatu negeri akan menjadi kokoh dan kuat bahkan dapat bertahan sampai kiamat tiba, jika adanya keadilan dalam masyarakatnya, . . . . . . ku masih belum melihatnya.
            Maaf sebelumnya, ini merupakan karya ku yang pertama, jika tulisan-tulisan yang tertera tidaklah tertata maafkanlah, karena ku juga tidak terlalu mahir dalam bercerita, ku hanya menuliskan dan mengabarkan apa yang aku rasakan sendiri, mungkin terkadang aku menggurui, tidak, tidak pernah terbesit sama sekali itu.
            Salam dunia pada bumi ku Dwipantara, manusia negeriku sangat beraneka, nanti saja aku akan meneruskannya, aku sebenarnya ingin menemui sahabat lama ku di tanah Sunda Kelapa ini, kuliah kedokteran akhir kabarnya ku terima, semester akhir pelengkapnya, ku ingin bercerita banyak padanya, . . . . . . . 

Shubuh Jatuh

|
Masih memekik merdeka negeriku
Terdengar beberapa puluh tahun lalu
Dingin menusuki tubuh serdadu
Kisah itu
Jogja belum jatuh
Di waktu shubuh

Mentari belum menyapa
Namun burung terlalu cepat berkata
Embun mengantarkan dingin
Air hangat dalam wudhu
Berjama’ah dalam surau

Ku kira kau masih ingat ketika itu
Saat angin mengantarkan kerinduanku
Yang ku lakukan lewat sujud pertamaku
Aku dan kau terpisah jarak waktu
Rindu padamu telah ku mulai saat shubuh jatuh

Lihat sekarang bangsa kita merdeka
Telah ada persiapan yang tak biasa
Jangan ingkari tanah Jogja istimewa
Sebab kisah itu menjadi lakon utama

Shubuh jatuh diantara kita
Mari kita berdo’a bersama
Semoga di perkenankannya

??

|
Mendung, matahari telah terlindung
Ada duka yang tak pernah terucapkan
Cakrawala hitam legam kini warnanya
Ku ingin sejenak sangkakala jatuh ke dunia

Ragaku, jasad ku, . . . . . . 
Sanggupkah kau mengahadapi ia yang datang dalam sepi
Sudah siapkah engkau roh ku, . . . .
Meninggalkan semua ini

Suara guruh berkumandang pada cakrawala
Beradu ia tiada kebosanan
Turunlah apa yang telah dituliskan
Terbangkanlah setiap kemunafikan

Jiwa yang tenang akan kembali tenang

Jatuhlah air langit dengan derasnya
Orang-orang bergegas entah kemana
Masing-masing lari menyelamatkan dirinya

Hening, hening, . . . . . . . kembali, . . . . kembali, . . . .
Seperti mula juga, . . . . .  sepi
Sunyi 

Ketinggian Sebuah Risalah

|
Salam semesta alam
Matahari dan rembulan turut juga melakukan
Bumi dan isinya telah saksikan

Cahaya api telah terpadamkan
Istana menjadi puing reruntuhan
Cahaya putih lengkapkan

Telah sudah diberitakan
Sejak mula alam diciptakan
Masih engkau pandangkah juga meragukan

Oh, pujian
Lihatlah betapa mengagungkan
Manusia yang telah terciptakan

Datang dengan terasing
Pulang dengan ribuan tangisan

Untuk semua golongan
Untuk setiap zaman

Yatim sejak dilahirkan
Piatu dalam buaian

Salam semesta alam
Matahari dan rembulan turut juga melakukan
Bumi dan isinya telah saksikan

Jika ia takkan pernah datang andaikan
Bumi dan isinya mungkin tak akan pernah diciptakan

Malioboro Selatan

|
Lihat, beberapa bola mata menghiraukanku
Seperti tak ada sesuatu
Padahal ada aku, ya jasadku
Atau memang tak mau mengganggu
Ah, baiklah biarkan ku tuliskan puisi ini untukmu
Ku akan mulai dengan melihat rembulan
Oh ya, aku menulis puisi ini di Malioboro selatan
Ditengah keramaian yang ku ubah menjadi sepi
Tak lebih agar ku dapat konsentrasi pada isi hati
Dapat ku rasa rembulan yang kutatap memberikan senyuman
Seperti senyuman yang tak pernah engkau berikan
Sebentar, banyak orang berlalu-lalang
Ia ingin membuyarkan konsentrasi yang telah aku fokuskan

Kasih, aku rindu padamu sampai kapan pun
Walau engkau takkan pernah peduli sekalipun
Cinta memang adalah sebuah keikhlasan

Waaah, ada wanita menggangguku
Huuusy, aku tak ingin kena rayuan
Baiklah, akan ku lanjutkan
Aku banyak berharap padamu
Tapi sudahlah biar menjadi harapan tak tentu
Rembulan masih gagah di cakrawala
Ia sedang penuh purnama
Aku bermimpi kita berdua di tepi pantai malam ini
Menatap purnama indah di laut selatan jawa
Masih dalam mimpi, ku membawamu ke atas awan
Kita bermain dalam awan
Heiiii, . . . . .  Sinar lampu mobil membuyarkan lamunanku
Disini sangat banyak kendaraan datang dan pergi
Aku akan pindah tempat duduk sebentar saja
Baiklah akan kulanjutkan
Sekarang ku tepat berada di depan sebuah istana seorang presiden
Lampunya indah kemilauan tidak seperti tadi, namun disini ku tak dapat melihat rembulan
Karena ia tepat berada di atas belakangku sekarang
Ku ingin bermimpi lagi sekarang
Kasihku, lihatlah istana itu milik kita sekarang
Bagai raja dan ratu dalam istana mewah
Masih dalam mimpi, ku menjadi presiden dan kau ibu negaranya
Jika rakyat sengsara kitalah yang lebih merasakannya
Jika rakyat bahagia kitalah yang lebih merasakannya
 Hmmh, kini suara pengamen buyarkan lamunanku
Padahal baru sebentar saja aku bermimpi lagi
Kasih, aku sangat rindu padamu
Biarlah ku peluk malam ini dan tinggalkan tangisan
Masih, di Malioboro selatan

*&

|
Selamat datang generasi
Bertunaslah dan bersemi
Semuanya mesti berganti
Roda hidup haruslah begini
Kuatlah dalam menghadapi kenyataan
Jangan cengeng dan berlari sembunyi
Pergilah, kejarlah apa yang engkau citakan
Berjuanglah dengan segala kemampuan dan ketidakmampuan
Relakan kami yang memberi nasihat ini padamu
Dengarkanlah jika engkau sukai
Bahwa makhluk hidup ada masanya masing-masing
Ia lahir, tumbuh dan mati

Apa yang Akan Kau Bicarakan

|
Apa yang akan kau bicarakan tentang kemanusiaan?
Tak kau lihatkah di sekitarmu orang-orang menangis kelaparan
Atau saat peperangan yang terjadi di dunia mu engkau hanya diam tak bergeming
Apa yang akan kau bicarakan tentang keadilan?
Tak kau lihatkah orang miskin terpaksa mencuri akibat kesenjangan
Atau saat seseorang tanpa putusan harus mendekam dalam penjara
Apa yang akan kau bicarakan tentang lingkungan?
Tak kau lihatkah bumi ini penuh dengan polutan
Atau saat panas yang makin menjadi
Apa yang akan kau bicarakan tentang kemerosotan moral?
Tak kau lihatkah pemuda-pemudi bercampur tanpa ikatan
Atau saat kehamilan tidak menjadi ketabuan
Apa yang akan kau bicarakan tentang cinta?
Tak kau lihatkah ia menjadi budak syahwat semata
Atau saat ia menjadi dalih untuk peperangan
Apa yang akan kau bicarakan
Ku harap kau berhenti berbicara
Jika tak perlu untuk dibicarakan
Jika tak dapat engkau laksanakan