Terbitlah sang fajar dari ufuk timur, seperti biasanya, burung yang ada di dedaunan pun mulailah berceloteh, alangkah indahnya alam. Seorang marco ini pun bangunlah dari tidurnya, aku merasa hidup kembali dari kematian yang berkali-kali, ku akan memulai kesempatan-kesempatan yang ada pada ini hari, sama seperti sebelumnya masih. Hidup memang sebuah kesempatan, karena semua terjadi bukan hanya sebuah kebetulan, benar memang adanya sesuatu yang telah terbiasa menjadi wajar, dan jika engkau telah berbicara sesuatu itu atas nama Tuhan, berhentilah ia.
Kini ku sudah menapaki tanah Sunda Kelapa, ibukota negaraku tercinta, ku saksikan saudara di depan mataku, gedung-gedung tinggi menjulang, tingginya pun bervariasi saudara, seperti kotak-kotak sabun, berkali-kali ku lihat mobil-mobil mewah lewat di depan mataku, orang di dalamnya tak tampak sama sekali, keangkuhan telah menjadi biasa, diantara sesamanya yang tidak sederajat dengannya, kemerosotan moral dan agama di tengah mereka mengumandangkan tingginya nilai moral dan agama.
Aku berjalan sendiri di kota ini, terasing diantara keramaian, kesunyian diantara sorak sorai manusia, aku tak tahu arah, ku hanya melangkahkan kemana saja kaki ini mau, hingga akhirnya ia berhenti diatas tanah yang gersang, tanah yang tak pernah dibahasi oleh air hujan, walaupun turunnya berkali-kali.
Sebenarnya terlalu sedih aku harus meninggalkan tanah kelahiranku, tanah jawi di ujung timur pulau ini, betapa tidak, ku telah meninggalkan para sahabatku yang terbaik, ku telah tinggalkan kedua orang tua yang membesarkanku,ku juga telah tinggalkan wanita yang ku puja, yah, air mata ini pun sudah tak bisa lagi ku jatuhkan dari kedua bola mataku, . . . . cinta.
Sunda Kelapa mempunyai sejarah yang sangat panjang, entah berapa kali ia berganti pemerintahan, bahkan sempat ku mendengar nya ia menjadi pelabuhan yang cukup penting di dunia, mungkin tidak berlebihan lah kalau ku katakan kota ini memang sudah jaya sejak dahulunya, bahkan sampai tuanya.
Negeriku Dwipantara ini termasuk negeri mahsyur di dunia, di puja ia oleh setiap manusia, terkenal ramah manusianya, terkabar indah dan permai alamnya, entah seperti bagaimana nantinya jika disaksikan dengan sendiri, namun bagiku sendiri, suatu negeri akan menjadi kokoh dan kuat bahkan dapat bertahan sampai kiamat tiba, jika adanya keadilan dalam masyarakatnya, . . . . . . ku masih belum melihatnya.
Maaf sebelumnya, ini merupakan karya ku yang pertama, jika tulisan-tulisan yang tertera tidaklah tertata maafkanlah, karena ku juga tidak terlalu mahir dalam bercerita, ku hanya menuliskan dan mengabarkan apa yang aku rasakan sendiri, mungkin terkadang aku menggurui, tidak, tidak pernah terbesit sama sekali itu.
Salam dunia pada bumi ku Dwipantara, manusia negeriku sangat beraneka, nanti saja aku akan meneruskannya, aku sebenarnya ingin menemui sahabat lama ku di tanah Sunda Kelapa ini, kuliah kedokteran akhir kabarnya ku terima, semester akhir pelengkapnya, ku ingin bercerita banyak padanya, . . . . . . .