Lihat, beberapa bola mata menghiraukanku
Seperti tak ada sesuatu
Padahal ada aku, ya jasadku
Atau memang tak mau mengganggu
Ah, baiklah biarkan ku tuliskan puisi ini untukmu
Ku akan mulai dengan melihat rembulan
Oh ya, aku menulis puisi ini di Malioboro selatan
Ditengah keramaian yang ku ubah menjadi sepi
Tak lebih agar ku dapat konsentrasi pada isi hati
Dapat ku rasa rembulan yang kutatap memberikan senyuman
Seperti senyuman yang tak pernah engkau berikan
Sebentar, banyak orang berlalu-lalang
Ia ingin membuyarkan konsentrasi yang telah aku fokuskan
Kasih, aku rindu padamu sampai kapan pun
Walau engkau takkan pernah peduli sekalipun
Cinta memang adalah sebuah keikhlasan
Waaah, ada wanita menggangguku
Huuusy, aku tak ingin kena rayuan
Baiklah, akan ku lanjutkan
Aku banyak berharap padamu
Tapi sudahlah biar menjadi harapan tak tentu
Rembulan masih gagah di cakrawala
Ia sedang penuh purnama
Aku bermimpi kita berdua di tepi pantai malam ini
Menatap purnama indah di laut selatan jawa
Masih dalam mimpi, ku membawamu ke atas awan
Kita bermain dalam awan
Heiiii, . . . . . Sinar lampu mobil membuyarkan lamunanku
Disini sangat banyak kendaraan datang dan pergi
Aku akan pindah tempat duduk sebentar saja
Baiklah akan kulanjutkan
Sekarang ku tepat berada di depan sebuah istana seorang presiden
Lampunya indah kemilauan tidak seperti tadi, namun disini ku tak dapat melihat rembulan
Karena ia tepat berada di atas belakangku sekarang
Ku ingin bermimpi lagi sekarang
Kasihku, lihatlah istana itu milik kita sekarang
Bagai raja dan ratu dalam istana mewah
Masih dalam mimpi, ku menjadi presiden dan kau ibu negaranya
Jika rakyat sengsara kitalah yang lebih merasakannya
Jika rakyat bahagia kitalah yang lebih merasakannya
Hmmh, kini suara pengamen buyarkan lamunanku
Padahal baru sebentar saja aku bermimpi lagi
Kasih, aku sangat rindu padamu
Biarlah ku peluk malam ini dan tinggalkan tangisan
Masih, di Malioboro selatan
0 komentar:
Posting Komentar