23 Januari 2012, - , - , -

|

Ini adalah sebuah pijakan
Kala itu mentari terbit masih terlihat jelas
Pada senja dapatkah terlewati

Terdiam bukan tak berikan ucapan
Memberikan ucapan juga tak selamanya terdengar
Ada yang mempunyai makna dan ada yang absurd
Terlewat sudah, malam-malam, hari – hari, bulan- bulan, tahun – tahun
Semua adalah ukuran
Ukuran untuk berikan batasan
Lalu kemudian di beda-bedakan
Kenapa pula ditanyakan mengapa

Kenapa harus lari jika telah terjadi
Kenapa harus diam jika tak tahu apa yang ditunggu

Hari ini adalah hari yang ku tunggu
Pasti demikian juga padamu
Kebahagian pada kekasih adalah lebih pada diri sendiri

Haruskah pertanyaan membutuhkan jawaban
Jika keduanya telah memahami

Semuanya telah ada saatnya
Hingga sampai saat ini juga
Di hari yang sama-sama kita mengerti
Tak harus ada air mata dan tawa bahagia

Biarkan senyuman dengan penuh makna

Diantara, -

|
Membicarakan tentang ketuhanan adalah kefanatikan, Biarkanlah bayi terlelap dalam susuan ibunya, langit mendung katakan kedamaian dan kemakmuran, Amarah adalah biasa namun bukan menjadi pemarah, dalam satu bab lalu telah terfikirkan pelukan dan kehangatan, api-api itu berada dalam sanubari kita, kitalah yang mampu mengontrolnya dan memadamkannya, biarkan menjadi harmoni seperti yang telah terjaga, dalam dekapan cinta ada sebuah perdamaian, dengan senyuman saling mengasihi antara sesama manusia, antara kita dengan alam raya, dengan keseimbangan, Tuhan tak akan marah, apalagi murka, bencana adalah dari kita sendiri jika pun terjadi,

Surat dari Kaleng

|
Aku hantarkan sebuah kisah
Ku harapkan engkau baik-baik saja wahai pembaca
Telah lama kufikirkan dan ku impikan ku bahagia di bumi Indonesia
Sampai akhirnya ajal jua yang memisahkan semua
Hai pembaca yang tercinta
Lewat surat inilah ku ingin bercengkrama dengan tulisan yang terindah

Kemiskinan deritakan kelaparan dan keinginan makan
Apa yang harus dilakukan jika lapar datang menghadang wahai kawan
Pencurian apakah sebuah kejahatan
Manfaatkah sebuah keadilan bagi hamba yang kesusahan
Lalu semua bangsa ini berkata hukum adalah untuk keadilan
Adakah sebuah keadilan bagi hamba yang kemiskinan dan kelaparan
Tak lebih hanya sebuah nasi bungkus yang meringkukkan ku dalam benturan dan tendangan

Wahai pembaca ku yang tercinta
Layakkah ku membicarakan sebuah bahagia
Air mata berdarah-darah menemani di setiap sela
Pantaskah ku masih menaruh harapan pada kenyataan yang ada
Setiap detik maut mengikutiku dan kemudian dipaksakan tersenyum ramah

Aku melihat mereka bicara kemiskinan dan kelaparan di hotel-hotel mewah
Aku mendengar mereka berdebat tentang hukum yang berkeadilan diantara tangisan dan rampasan hak dengan paksa

Untuk cintaku pada sejarah ku ingin ucapkan
Aku mencintai negeriku dengan terjajah
Bukan ku tak mencintai negeri ini dengan sepenuhnya
Namun balasanlah yang tak sepatutnya

Cahaya putih dan harapan penuh cita
Hanya terlihat pada batas langit
Hanya terasa di titian surga
Dimana kebenaran memang menjadi sebuah pedoman
Dan Tuhan bukan menjadi mainan



Dari seorang sahabatmu
Yang telah berselimut kafan

Pada Mata Ibu

|
Di keheningan malam ku hantarkan rasa rinduku
Rasa rindu yang selalu membara dalam hidupku
Senja telah pulang di dermaga
Kapal-kapal telah berlabuh
Kicauan burung-burung yang membawa harapan pada anak-anaknya
Tlah lah alam berikan begitu banyak pelajaran

Pada mata ibu ku lihat harapan yang luas terbentang
Untuk anaknya yang telah lepas menatap hari depan yang datang
Hujan terlihat pada mata ibu
Menimbun coretan yang tak terungkapkan

Pada mata ibu
Lautan diam tak bergeming
Pada mata ibu
Bahasanya tak dapat di ucapkan dengan kata
Pada mata ibu
Bunga-bunga bermekaran dengan indahnya
Pada mata ibu
Pelangi beraneka warna
Pada mata ibu
Rekaman jejak anaknya ia pendam jua
Pada mata ibu
Kelabu jingga pada senja
Pada mata ibu
Keheningan dan ketengan jiwa, -