Sang Guru

|

Adakah ilmu yang didapat dari hasil celotehan yang tak berguna, celotehan masih terus dilakukan haruskah didengarkan, bukan untuk menghina karena ini juga celotehan ynag mungkin tak berguna, ia masih saja bercoloteh walaupun kini orang-orang sudah mulai bosan mendengarkannya karena tak ada sesuatu pun yang nyata dilakukannya.
“Ingat ini baik-baik ya, kalau, . . . . . . 
Kusadari dari tadi karena ku duduk tepat tak seberapa jauh dari hadapannya, sehingga telingaku agak lesu dan harus dipaksakan mendengarkannya karena tak ada lagi penghalang untuk menyumbatnya sedikitpun, dari tadi ku lihat orang-orang disekelilingku mengangguk entah mengiyakan atau menidakkan, yang tau adalah benaknya masing-masing.
Ia cukup disenangi atau dibenci, kehadirannya entah membawa rahmat atau bencana, yang ku dengar banyak mulai menganggapnya adalah sosok luar biasa sehingga apapun yang akan terjadi harus melalui celotehannya terlebih dahulu, walaupun untuk hal yang sekecil apapun tak pernah luput.
Setujukah engkau jika ku sebut dia Sang Guru, sebab apapun yang akan ditanyakan padanya ia pasti akan menjawab dengan celotehannya yang merdu seperti biasa, walaupun ku tahu ia tak paham dan seperti biasa nya juga ia pasti menutupinya dengan kebenaran hanya akan menjadi milik Tuhan, banyak yang mulai tergoda dengannya, ikut dan meninggalkannya kemudian, itulah yang tak kuhitung jumlahnya.
Seperti seorang Guru pada umumnya, ia memiliki beberapa “murid”, atau memang dia sendiri yang mengangkat beberapa orang yang mendengarkan celotehannya dengan seksama menjadi murid atau orang suruhannya, aku rasa dia Sang Guru yang kesepian.
Sering juga ku lihat ia memanggil para muridnya dan  kemudian dia kembali melakukan celotehannya yang tanpa waktu, aku sekali-kali pernah mendengarkan,, lama sekali saat itu, namun entah apa yang dapat ku ingat, tiada.
Kini aku dapati ia sendiri, dengan minumannya, tengah tertidur pulas, mulutnya penuh busa, tak kuangkat, kudiamkan saja, lalu aku pergi mengenyahkan dan berkata penuh keyakinan dan kebulatan tekad, Munafik.

0 komentar:

Posting Komentar