Untuk Dia, - (Selesai)

|

                 Aku melihatnya, dia menangis di kegelapan malam itu, malam telah mendapatkan paginya, namun dia ku lihat masih mendapatkan malamnya sendiri, ku menemaninya dan ku perhatikan dari jauh.
            Sejak saat kemarin hatinya memang sudah tak tenang, saat ia tahu kalau Dewi Keumala telah bertunangan dan akan segera menikah, memang selama ini dia sering melamun dan menyendiri, belakangan ini semakin banyak, ku tak dapat berbuat banyak, aku pastikan dia menikmati waktunya sendiri.
            Dewi Keumala, mungkin engkau memang seorang dewi yang sangat sempurna dihadapannya, ia sering ceritakan padaku betapa hebatnya dirimu, tiada sedikitpun celah cacat padamu, bahkan disaat engkau tak memilihnya ia masih sangat memujamu, aku sangat heran, inikah cinta yang dijadikan prinsipnya, ku kehabisan kata.
            Ku lihat ia sekarang melangkahkan kakinya, menyaksikan bulan yang sembunyi lebih ke pinggir, kau tahu Dewi Keumala, sejak malam yang terjadi saat itu, ia sering datang kemari, entah sudah berapa kali, ia mungkin mengharapkan kehadiranmu di sampingnya.
            Ia sering menulis tentang mu Dewi Keumala, ku telah membaca tulisannya “Untuk Manusia”. Ia ceritakan kota yang indah ini dengan wanitanya yang terindah, dirimu, alangkah indah memang cinta yang tercipta.
            Saat  ku bersamamu, ia sering katakan sampaikan salamnya padamu dengan permintaan maaf jika memiliki kesalahan, ku tahu ia tak ingin kalau kehadirannya mengganggu hari-hari mu.
            Ia juga sering katakan padaku kalau engkau adalah sahabat terbaiknya yang pernah ia miliki, ia ingin menjadi sahabat yang berarti untukmu.
            Ia juga katakan padaku, kalau ia ingin sekali menghapus rasa nya untukmu, tapi, aku rasa itu sangatlah sulit, aku sangat yakin semua berjalan dalam waktu yang sangat lambat, ku ingin engkau mau membantunya, dengan jadikan ia sahabat juga, bukan dengan semakin menjauh.
            Aku pernah juga dapati ia sedang pandangi fotomu, ku katakan padanya bagaimana ia akan melupakanmu jika seluruh kenangan tentangmu masih ia simpan. Aku sering melihatnya menjadi seperti tak semestinya.
            Sakitnya tidak hanya dari fisik, hatinya yang terdalam juga sudah berdarah dan tak pernah kau beri dengan penawar luka, Dewi Keumala, ia titipkan rindunya tak pernah henti padamu, dan sedikit catatan ini, mungkin disaat engkau nanti akan dapati ia telah jauh.

0 komentar:

Posting Komentar