Aku melihatnya,
dia menangis di kegelapan malam itu, malam telah mendapatkan paginya, namun dia
ku lihat masih mendapatkan malamnya sendiri, ku menemaninya dan ku perhatikan
dari jauh.
Sejak saat kemarin hatinya memang
sudah tak tenang, saat ia tahu kalau Dewi Keumala telah bertunangan dan
akan segera menikah, memang selama ini dia sering melamun dan menyendiri,
belakangan ini semakin banyak, ku tak dapat berbuat banyak, aku pastikan dia
menikmati waktunya sendiri.
Dewi Keumala, mungkin engkau memang
seorang dewi yang sangat sempurna dihadapannya, ia sering ceritakan padaku
betapa hebatnya dirimu, tiada sedikitpun celah cacat padamu, bahkan disaat
engkau tak memilihnya ia masih sangat memujamu, aku sangat heran, inikah cinta
yang dijadikan prinsipnya, ku kehabisan kata.
Ku lihat ia sekarang melangkahkan
kakinya, menyaksikan bulan yang sembunyi lebih ke pinggir, kau tahu Dewi
Keumala, sejak malam yang terjadi saat itu, ia sering datang kemari, entah
sudah berapa kali, ia mungkin mengharapkan kehadiranmu di sampingnya.
Ia sering menulis tentang mu Dewi
Keumala, ku telah membaca tulisannya “Untuk Manusia”. Ia ceritakan kota yang
indah ini dengan wanitanya yang terindah, dirimu, alangkah indah memang cinta
yang tercipta.
Saat
ku bersamamu, ia sering katakan sampaikan salamnya padamu dengan
permintaan maaf jika memiliki kesalahan, ku tahu ia tak ingin kalau
kehadirannya mengganggu hari-hari mu.
Ia juga sering katakan padaku kalau
engkau adalah sahabat terbaiknya yang pernah ia miliki, ia ingin menjadi
sahabat yang berarti untukmu.
Ia juga katakan padaku, kalau ia
ingin sekali menghapus rasa nya untukmu, tapi, aku rasa itu sangatlah sulit,
aku sangat yakin semua berjalan dalam waktu yang sangat lambat, ku ingin engkau
mau membantunya, dengan jadikan ia sahabat juga, bukan dengan semakin menjauh.
Aku pernah juga dapati ia sedang
pandangi fotomu, ku katakan padanya bagaimana ia akan melupakanmu jika seluruh
kenangan tentangmu masih ia simpan. Aku sering melihatnya menjadi seperti tak
semestinya.
Sakitnya tidak hanya dari fisik,
hatinya yang terdalam juga sudah berdarah dan tak pernah kau beri dengan
penawar luka, Dewi Keumala, ia titipkan rindunya tak pernah henti padamu, dan
sedikit catatan ini, mungkin disaat engkau nanti akan dapati ia telah jauh.

0 komentar:
Posting Komentar