Kehidupan akan terus berjalan, masa lalu
adalah kenangan, masa depan adalah tantangan, hari ini adalah kenyataan,
terimalah apa yang telah Tuhan berikan, bukan begitu bukan?, hal terpahit
ataupun terbahagia sekalipun adalah suatu tantangan, berliku, sangat liku,
menyebabkan linu. Terguling menjadi satu.
“Hei,
kamu, ya kamu yang sedang berdiri sana, mendekatlah,”
“Saya?,
kenapa harus saya?, masih banyak diantara saya? Kenapa mesti saya?”
“Kamu
yang terpilih, kemarilah, ku akan membawamu ke suatu tempat, ayo berkemaslah”
“Ku
tak mau, oh, tapi kenapa kaki ini turut, berhenti, berhenti!, berhenti kataku,
tidaaaaak !!!!, hei, jelaskan padaku, ada apa denganku”
“Mari
ulurkan tanganmu, kita akan menuju kepada suatu tempat, ku berikan nama ia
dengan Dunia, disini terdapat sejuta kebaikan dan sejuta keburukan, tempat
terindah dan terburuk, jadi pilihlah pilihanmu, kau akan terlahir dengan
nama, dan mati dengan nama, ayo cepatlah!!!”
“Lalu,
apa yang harus ku lakukan disana, apakah engkau menemaniku?, hei dasar makhluk
bermuka rata, apa yang kau lakukan, hei, tunggu, pembicaraan kita belum
selesai, heiii, tunggu, jangan engkau campakkan ku, lingkaran ini begitu
memusingkan, tunggu”
“Jangan
banyak bertanya, ikuti saja, nanti engkau akan tahu juga”
Disana,
jauh dari keramaian, meskipun tak terlalu ramai memang, beberapa orang
harap-harap cemas, ternyata kecemasan itu sirna mendengarkan rengekan bayi yang
telah disusui wanita yang kelak akan di panggilnya ibu.
**
Hujan
hadirkan kenangan kata orang-orang, ku pandangi air yang jatuh dari langit menuju
bumi ini sampai terhenti, suatu sore saat itu, tersisa memang suatu bayangan
yang kucoba lupakan, kuulurkan tanganku mengambil sedikit air yang jatuh
seperti berwudhu, ku basuhi wajahku, basah memang sekujur tubuhku, .
Terlihatkah
kehidupan dari setetes air hujan? Atau karena ia beraninya keroyokan menjadi
kebanjiran?, bencana salahkah alam?, atau memang kita yang sukanya mencari-cari
kesalahan, angkuh ingin selalu dibenarkan, cermin hanya menutupi dosa yang tak
tampak, aku rindu pada hujan.
Hujan
membasahi sekujur tubuh ku ini, mengkisutkan jemari ku, sangat keriput menggigil
kedinginan, alangkah indah di kala dingin datang dan menggoda, minuman hangat
akankah tersedia, aku melihat hujan masih menari dari tirai jendela, tubuhku
kini tidak basah lagi, tepat pukul tujuh kudengarkan juga suara adzan bertalu,
ku tutup tirai perlahan, hujan masih hadirkan kenangan.
Memiliki
perasaan tak semudah mengatakan, aku takkan bicara suatu tentang, ada yang
mampu untuk ku lupakan, ada juga yang mungkin ku laksanakan, masih bergulir air
kehidupan, memberikan penghidupan, jadikan kenyataan dalam impian.
Sempat
ku meminta kepadamu, tolong hujan engkau hentikan lalu engkau menjawab ku tak
mampu, akh, kenangan, engkau mengapa hadir selalu disaat yang tak ku butuhkan,
mataku pejam perlahan, dentang suara dua belas kali mengantarkan, di luar masih
hujan, -
**
“Haa?,
apaaaa????, kau ini berbicara apa?, dia
orang baik kawan, lihat saja mukanya yang lemah lembut, tutur katanya yang
sopan, tega nian engkau tuduh dia seperti itu”
“Aku
berani bersumpah, memangnya aku sepanjang yang kau kenal seorang penipu?,
benar, dialah penyebab semua ini, percayalah”
“Ku
mengenalnya lebih lama daripada mu, bagaimana kepercayaanku bisa penuh padamu,
lagi pula ia juga sahabat terbaikku, atau memang engkau tak suka padanya dari
dahulu, ku memang telah merasakan mata curigamu.”
“Ya
sudahlah tiada guna aku berbicara sampai berbuih sekalipun, kepercayaan mu
padanya sangat penuh, manusia bukan nabi, sedangkan nabi juga manusia, memiliki
pahala dan dosa,”
“Nanti
bukan penantian, kembanglah kematian kehidupan, biarkan
waktu yang berikan jawaban, tidak boleh melampaui batas, manusia yang berbatas,
memiliki batasan dalam ketidakbatasan, tidak boleh melampaui, “
“Prasangka
merusak kepercayaan, harusnyalah prasangka mendukung percaya, karena yang baik
akan mengalahkan yang buruk, “.
**
Pelukanmu
masih terasa meskipun engkau telah pergi sejak seminggu lalu, masih terasa
tetesan air matamu saat ucapkan pisah, bukankah cinta yang menyatukan dan
memisahkan kita, aku dan engkau hanya sebuah dari berjuta kisah cinta manusia.
Datang
dan berganti setiap saatnya begitu, kalau ada yang pergi mestilah ada yang
datang, itu adalah kepastian yang benar-benar nyata, tak perlu dipertanyakan,
jangan di kira-kirakan karena sudah lah pasti terlaksanakan.
Lalu
untuk apakah menangisi masa lalu?, atau karena belum lah siap untuk hidup
dimasa kini dan hadapi masa depan, aku dan kamu mungkin bukan saatnya bercinta
untuk kisah diantara berjuta kisah cinta di dunia, jangan lagi berbinar mata
itu, apalagi meneteskannya di pundakku, karena, ku pastikan turut, .-
**
Masih tentang cinta
yang memiliki berjuta tafsiran, terjebak selalu pada kisah yang sama, siapa
saja, semakin di coba berlari semakin menghampiri, itulah kenyataan yang telah
ku alami, berkutat silih dan berganti, dengan prang yang berbeda namun tetap
sama.
Cinta yang menyatukan,
cahaya cinta juga menyinari dunia, dunia menajdi seperti surga yang di citakan,
keindahan, taburan kasih sayang, kedamaian, satu keseimbangan, saling bernyanyi
syair kehidupan,saling berbagi, -
Cinta itu nyata
memasuki setiap pikiran manusia, tersenyum saling melengkapi, cinta bukan
khayalan yang abstrak, temukanlah, dapat ia temukan dari keluargamu,
pasanganmu, masyarakat yang ada disampingmu, bahkan negeri ini menaruh cinta
padamu.
**
Kesedihan
menampar pada lembah dalam yang berputar, hikmah yang tersembunyi jadikan
putaran tak selalu bundar merubahnya menjadi bersegi lalu membentuk sebuah
senyuman. Merasakan dan peka terhadap rangsangan adalah kuasa dari kita,
mengertikan serta mengartikan, dijalani saja niscaya akan terlewati dengan
harapan-harapan yang bermakna, -
**