Malam ini begitu indah, di tepi pantai. Bulan sangat penuh, menjadi terang lelautan seperti cermin yang memantulkan cahaya, disini aku dengan dia tiada sekalipun bertutur kata. Banyak yang ingin kukatakan padanya di bawah bulan malam itu, dengan purnamanya yang menyinari wajahmu, sungguh ciptaan Tuhan yang paling indah.
Senyuman itu seindah rembulan, tak akan pernah dapat dilupakan, walau entah sampai kapan pun, hingga mungkin tiada lagi kesempatan untuk mengingat.
Aku memang terlalu takut untuk bicara padamu, bukan ku tak bisa atau aku enggan, tapi, aku yang terlalu rapuh pada rasaku sendiri, karena aku mencintai mu, aku mencintai mu, beginilah aku, selalu menjadi pengecut jika denganmu, menjadi diam jika bertemu, ku harap pandangku padamu telah banyak berkata.
Aku ingin disampingmu, berkata banyak padamu, mengenggam erat tanganmu, mengusir segala dingin malam itu, . . . . . . . . . . . . . . Tak kulakukan, aku sangat bodoh.
Pada rembulan yang penuh, ku titipkan semua, sajak tentang namamu, Aku sangat bahagia memandang wajahmu di bawah cahaya rembulan, Begitu sempurnanya, diatas pasir putih ini, di sela suara ombak yang memecah.
Ingin ku ucapkan aku sayang padamu, aku takut kehilanganmu, dan kamu menjawab dengan senyuman, seindah rembulan,
Hati yang telah terlewati
Nun, telah sampailah kisah, kabar yang sungguh dinanti, bukan sumpah serapah atau makian dan caci, bukanlah pula sebuah pujian-pujian dan do'a-do'a. Ini hanya sebuah cinta yang biasa bahkan menjadi luar biasa diantara seorang manusia, dan biasa pada manusia umumnya, hati dan perasaan yang selalu menyiksa fikir dan waktu.
Telah ku titip salam padanya, tentang sebuah rasa atau kejujuran isi hati, tidak dinyatakan tetapi di tuliskan, dengan penuh kesadaran tanpa ada paksaan, telah selesai dituntaskan, dan telah menjadi beda, bahkan lebih beda dari semula, cara pandang, cara berkata, menjadi indah dan penuh makna.
Harus direlakan dan memang belum saatnya, terlambat, mungkin memang ia. Ketika cinta memang bukan untuk memiliki, karena ia adalah memberi, keikhlasan tanpa mengharap budi, . . . . . . . . . . Yah, hati ini telah terlewati, jauh, . . . . Jauh sekali terlewati, mungkin kah ia kembali lagi, untuk berbicara kembali, . . . . . . . Menjadi impian bagiku, entah bagaimana dengannya.
Ketika Pada Suatu Ketika
Berlari mengejar ombak yang berlari
Melupakan segala kegundahan dalam jiwa
Engkau rebah dalam pelukku
Menatap Matahari yang akan berangkat pulang
Hening, . . . . . . .. . . . . . .
Suara ombak yang memecah karang
Sinar surya telah temaram
Angin yang berhembus, Sibakkan rambutmu yang terkulai
Mata kita telah banyak berkata
Cinta, . . . . .. . . . . . . . .
Ketika pada suatu ketika
Semua terjadi di saat yang indah
Di tepi darat sunyi
Kau dan aku yang mengerti
Ketika pada suatu ketika
Semoga ku kira
Melupakan segala kegundahan dalam jiwa
Engkau rebah dalam pelukku
Menatap Matahari yang akan berangkat pulang
Hening, . . . . . . .. . . . . . .
Suara ombak yang memecah karang
Sinar surya telah temaram
Angin yang berhembus, Sibakkan rambutmu yang terkulai
Mata kita telah banyak berkata
Cinta, . . . . .. . . . . . . . .
Ketika pada suatu ketika
Semua terjadi di saat yang indah
Di tepi darat sunyi
Kau dan aku yang mengerti
Ketika pada suatu ketika
Semoga ku kira
Sajak Hilang
Kembali mengguncang mayapada
Memekik bebas ke angkasa
Bersemilah bunga-bunga kehidupan
Jiwa-jiwa yang datang dan pergi tenanglah
Temukan kembali pada nurani
Ucapkanlah jika tak mampu engkau pendam
Hidup terlalu sulit untuk kepintaran
Hadapilah dengan sabar dan keikhlasan
Kehidupan adalah sebuah persinggahan
Tidak akan abadi walaupun bagaimana cara
Datang dan pergi memang harus terjadi
Terimalah kenyataan dengan senyatanya
Sore hari kala itu
Telah datang sore, karena siang yang terik telah berlalu, masih seperti biasa, ku hanya dapat berdiam diri, tiada banyak yang dapat kulakukan, hanya menatap layar monitor dengan jari yang selalu beradu dengan sang keyboard. Sore kala itu, tidak biasa, sungguh berbeda, semua terjadi begitu seketika, yah, kembali lagi aku dapat menatapmu dari dekat, tiada batas penghalang yang dapat menutupm pandangku padamu di sore itu, sangat dekat.
Matahari yang akan tenggelam, tak memudarkan wajahmu yang sangat menawan, aku yakin setiap lelaki yang memandang juga pasti akan berkata demikian, kau begitu sempurna, kasih, sayang ku tak bisa menagatakan hal yang sebenarnya padamu, hanya beberapa puisi, yang selalu kutuliskan padamu, di setiap sendiriku, selalu bercerita tentangmu, tiada yang lain.
Sore kala itu, ku lihat kepergianmu, ku tahu waktumu tak banyak untukku, tetapi biarlah, ku telah menikmati setiap detik bersamamu, setiap menit yang kurasa bagai sejam yang kuhitung panjang sekali, terimakasih kasihku, . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Aku hanya bisa mengagumi sejauh ini, mengatakan cinta padamu bahkan ku terlalu takut, sangat takut,. . . . . .
Selepas kau telah hilang dari pandangku, ku pun segera berkemas, merapikan barang agar tiada yang tinggal walau hanya satu. Ku berjalan menyusuri ruangan yang penuh dengan kesejukan akibat dari tehnologi yang makin menjadi, . .. . . . . . Aku pulang ke tempat ku semula dengan sepeda motor yang ku pacu sedikit lamban, . . . . . . . . . . . Wajahmu kasihku, masih selalu menari dalam kepalaku, setiap sudut kota ini seperti engkaulah yang selalu tersenyum padaku, . . . . . .. . . . Ku telah sampai pada tempatku semula, tidak terlalu jauh, hanya beberapa kilometer ukuran jarak, Kembali ku buka komputer jinjingku, sekedar melepas rinduku padamu, ku buka foto-fotomu yang ada dalam media jejaring sosial, dan dapat ku temui status yang ada padamu terbaru saat ini, . . .. . . . Kau telah memiliki seseorang yang kau sebut kekasih, . . . . . . . . . . Kekasih, . . . . . .. . . . . . . . . . . . .. . . Apalah yang dapat ku katakan kembali, Ku mencintaimu begitu cepat, Ku belum memahami arti semua, Kau dan Aku ternyata bukan untuk bersama, Semua begitu cepat, . . . . . . . . ..
Selepas kau telah hilang dari pandangku, ku pun segera berkemas, merapikan barang agar tiada yang tinggal walau hanya satu. Ku berjalan menyusuri ruangan yang penuh dengan kesejukan akibat dari tehnologi yang makin menjadi, . .. . . . . . Aku pulang ke tempat ku semula dengan sepeda motor yang ku pacu sedikit lamban, . . . . . . . . . . . Wajahmu kasihku, masih selalu menari dalam kepalaku, setiap sudut kota ini seperti engkaulah yang selalu tersenyum padaku, . . . . . .. . . . Ku telah sampai pada tempatku semula, tidak terlalu jauh, hanya beberapa kilometer ukuran jarak, Kembali ku buka komputer jinjingku, sekedar melepas rinduku padamu, ku buka foto-fotomu yang ada dalam media jejaring sosial, dan dapat ku temui status yang ada padamu terbaru saat ini, . . .. . . . Kau telah memiliki seseorang yang kau sebut kekasih, . . . . . . . . . . Kekasih, . . . . . .. . . . . . . . . . . . .. . . Apalah yang dapat ku katakan kembali, Ku mencintaimu begitu cepat, Ku belum memahami arti semua, Kau dan Aku ternyata bukan untuk bersama, Semua begitu cepat, . . . . . . . . ..
Kasih
Kasih,
Aku rindu padamu sore ini
Di saat sang surya telah tenggelam
Yang akan segera digantikan indahnya cahaya bulan
Kasih,
Lihatlah hari ini telah menjadi malam
Burung yang terbang telah kembali pulang
Semua harap telah selesai dituntaskan
Sedikit sisa untuk esok hari
Kasih,
Aku disini sendiri
Menjalani takdir dengan senyuman
Terkadang sering aku nafikkan
Jiwa yang tenang terkadang enggan
Kasih,
Udara dingin ini menyelimutiku
Merasuki seluruh persendianku
Ku terlalu rapuh
Bahkan terlalu pilu
Kasih,
Masih senyumkah Engkau padaku
Ku hanya bisa pasrah
Apapun akan ku terima
Aku rindu padamu sore ini
Di saat sang surya telah tenggelam
Yang akan segera digantikan indahnya cahaya bulan
Kasih,
Lihatlah hari ini telah menjadi malam
Burung yang terbang telah kembali pulang
Semua harap telah selesai dituntaskan
Sedikit sisa untuk esok hari
Kasih,
Aku disini sendiri
Menjalani takdir dengan senyuman
Terkadang sering aku nafikkan
Jiwa yang tenang terkadang enggan
Kasih,
Udara dingin ini menyelimutiku
Merasuki seluruh persendianku
Ku terlalu rapuh
Bahkan terlalu pilu
Kasih,
Masih senyumkah Engkau padaku
Ku hanya bisa pasrah
Apapun akan ku terima
Untuk *****
Hujan telah jatuh membasahi bumi
Di malam yang sedingin ini
Hanya kau dan aku, . . . . . . . . . . . .
Berbicara antara hati ke hati
Lewat kata di sela suara ombak yang memecah sunyi
Tiada satupun kata yang lewat, hampir seluruh ku fahami
*****, benarkah ini rasa ku padamu?
Atau hanya sesaat yang ku agungkan
Bila hanya sekejap ku telah cukup bahagia
Maafkanlah saya, . . . . . . . . . .. . . . . . . . . .
Kita cukup dekat
Tetapi kurasa kau dan aku tak begitu dekat
Entah ada sesuatu yang tersembunyi diantaranya yang telah cukup pekat
Aku jatuh cinta padamu
Di malam ini
Tepat sebelum pagi jatuh di bumi
Di malam yang sedingin ini
Hanya kau dan aku, . . . . . . . . . . . .
Berbicara antara hati ke hati
Lewat kata di sela suara ombak yang memecah sunyi
Tiada satupun kata yang lewat, hampir seluruh ku fahami
*****, benarkah ini rasa ku padamu?
Atau hanya sesaat yang ku agungkan
Bila hanya sekejap ku telah cukup bahagia
Maafkanlah saya, . . . . . . . . . .. . . . . . . . . .
Kita cukup dekat
Tetapi kurasa kau dan aku tak begitu dekat
Entah ada sesuatu yang tersembunyi diantaranya yang telah cukup pekat
Aku jatuh cinta padamu
Di malam ini
Tepat sebelum pagi jatuh di bumi
Langganan:
Postingan (Atom)