Ku Bercerita dengan Pena

|
Coba hitung air mata yang telah ku jatuhkan
Dapatkah engkau menghitungya dengan tatapan
Rindu hanyalah dengan angan dan fikiran
Wajahmu akan menjadi pigura terindah yang tak akan terlupakan

Ku goreskan lagi kertas dengan pena yang telah macet
Beberapa kali pena terjatuh dan mencoba mengalirkan tintanya kembali
Ingin sekali untuk menulis kertas putih agar ada suatu yang tersampaikan
Tapi apa yang kini akan terdengar
Bahkan mata pena yang terlalu tajam telah merobek kertas
Tinta tak ada yang tumpah

Jangan panggil lagi wanitaku
Jangan kenang lagi perempuanku
Semuanya telah berlalu
Semuanya telah lalu

Ada dan Tiada

|
Aku ada diantara kau tak ada
Aku tiada diantara kau ada
Aku tak mau ada dengan mengada-ada
Aku tak mau tiada dengan kau anggap ada
Aku hanya ada diantara tak ada
Aku hanya tiada diantara ada

Aku hanya ketidakadaan
Ketidakadaan ada

Abirasa

|
“Diamlah Ranggawasa, kau tak tahu bagaimana duka”
“Cukuplah Abirasa, aku tahu apa yang kau fikirkan, biarkanlah sudah, Dewi telah milik Batara, apa lagi yang engkau harapkan?”
“Harapan Ranggawasa, harapan itulah yang membentang panjang dan membuatku meniti waktu yang panjang dengan senyuman”
“Senyuman kepalsuan, cukuplah lama kemunafikan jangan membunuh diri sendiri, Pertikaian telah menjadi dalam dirimu, -“

Dewi datang dengan membawa angin malam memecah suara mereka berdua, ia datang dengan angin, mungkin membawa kehidupan atau apalah,.
“Benar Abirasa, ikutilah apa yang telah di ucap oleh Ranggawasa, sebab tak ada keabadian di bumi Dewata, ku harap kau mengerti, masih luas lautan yang membentang, kehidupan juga haruslah berjalan”

Abirasa terhenyak dan terdiam menggantung asa, bayangan aneh semakin membayangi, berputar-putar baying Dewi dengan Batara, mereka bercumbu seakan memaki Abirasa,

“Abirasa bangunlah, setiap esok masih banyak kesempatan, jangan pernah kau memaki masa lalu mu, hari ini jadikanlah pelajaran”

“Abirasa, jangan simpan asa jika kesempatan tak ada, lakukanlah hal yang berguna, buat jiwamu, hatimu, dan mereka di sekitarmu, masih membutuhkanmu”

Abirasa memanggil manggil nama Dewi yang telah lalu bersama Batara, Ranggawasa pun hilang dalam pandangannya,

Dalang yang sejak tadi memainkan lakon pun sedih dengan cerita yang dibuatnya sendiri, tak terasa air matanya mengalir, sedang penonton pun tak mengerti, -

Kepadamu

|
Angin malam memberontak kepalaku
Menguliti isi fikirku
Kenangan yang selalu membuat berat melupakan

Senyuman racun terindah
Menjadi madu menusuki hatiku
Tinggallah sebuah nama

Kau tak akan pernah kembali

Zaman di Antara Kita

|
Anak zaman datang pada saatnya
Membuka mega yang mendung mengucapkan salam
Kebersamaan dalam keragaman

Kepincangan dalam alam raya
Manusia memiliki hakikat yang sama
Harusnya kah mereka saling membunuh saudara

Kepercayaan menjadi kebencian
Kepercayaan menjadi penyebab kebencian
Kepercayaan menjadi ketidakpercayaan

Layar akan terkembang dengan keterpaduan
Angin yang membawa tak selalu ada dan menjadikan
Kita sendiri lah yang akan melakukan
Dengan hakikat kemuliaan

Anak zaman datang pada saatnya
Membuka mega yang mendung mengucapkan salam
Kebersamaan dalam keragaman

Pelacur

|
Tawanya masih terasa
Di saat antara aku dan kau
Sangat mudah
Hanya setiap bergantinya waktu
Senyuman palsu yang selalu terima
Harusnya kah ku kembali padamu

Baru saja keremangan senja
Tiba malam engkau telah lupa

Ku minum jua
Alkohol yang engkau tuangkan

Biarkanlah ku bertanya entahlah
Mungkin masih mengenal diri
Diatas tumpukan lelaki
Ku puja juga

Kegilaan ku tidaklah salah
Masihkah ada sebuah asa

LIngkaran Hening

|
Hilang, . . . . .
Berputar, -
Semakin samar, . . . . .
Gelap,. . . . .
Sunyi, . . . . . .
Sepi, . . . . . .
Bisu, -
Ada cahaya,
Bicara, . . .

Mulai lagi