*#

|

Ikhlaskah engkau sayangku
Bermanja dan bersandar di dadaku melupakan sejenak masalah
Cintakah engkau kasihku
Bersumpah demi Tuhan tiada akan meninggalkan
Sayangku padamu tak berbagi
Cintaku padamu tak akan ingkari
Biarlah takdir ini mengikuti
Harus pasrah menghadapi
Jalani

Untuk Manusia (4)

|
        Dewi Keumala, ku teringat padanya, wanita yang tercantik di zamannya bagiku, wanita terindah di hatiku, sayang, dia bukanlah seorang yang dapat termiliki olehku, dia telah memiliki seorang lelaki pilihannya sendiri, tapi ku terus berjanji, akan tetap menantinya di suatu hari, disaat ia sendiri, walaupun ku tahu itu pasti tidak pasti, . . . .  Wanita inilah yang sering mewarnai hari sepi ku, ia hadir dengan bayangan dan mimpi, bukankah bulan juga dipuja tanpa termiliki, ku hanya ingin senyuman yang abadi dari wajahnya, hanya itulah yang menjadi harapanku padanya, memang cinta adalah sebuah keikhlasan yang tidak di beli dengan apapun, . . . .  Dewi Keumala dengan Yojo adalah sesuatu yang berarti buat hidup ku, ku harus tuliskan dan melaksanakannya dengan perbuatan, aku harus memperjuangkan keduanya, . . .  suatu saat nanti karya ini akan kuberikan pada keduanya, aku berjanji dalam hatiku, aku berjanji.
            Matahari telah tenggelam seperti biasanya, rembulan pun segera hadir menggantikannya, hidup memang sebuah perjalanan yang sangat panjang, banyak kesempatan yang terjadi di setiap detiknya, demikianlah kehidupan, banyak tanda-tanda yang terjadi sebelum terjadinya kesempatan itu, terkadang ada yang menyadari namun kebanyakan tidak pernah menyadarinya, aku ingat perkataan temanku Tono, ia pernah mengatakan bahwa, “manusia adalah seindah ciptaan dan merupakan makhluk yang unik”, ku menyadarinya, sangat menyadarinya, dari pengalaman yang terlewatlah aku dapat memahaminya.
            Manusia memang makhluk ciptaan, namun sering sekali manusia mencoba menjadi pencipta, kesombongan lah menjadi akhir yang dapat di tebak, manusia memang memiliki nafsu yang tidak dapat dijabarkan bagaimana ia jika di kemukakan, manusia juga memiliki hati nurani yang jernih, yang mampu mengendalikan nafsu dan fikirnya, . . . .  ada juga sebagian manusia menjadi manusia pilihan, manusia yang dipilih tentunya telah melewati berbagai rintangan yang tidak biasa dilewati oleh manusia lainnya, . . .  Tuhan adalah pencipta yang tidak mungkin sama dengan ciptaannya, . . . . 

Untuk Manusia (3)

|
        Langkahku akhirnya berhenti juga, setelah melewati jalanan penuh debu dan sengatan matahari yang membakar, ku temui juga tempat persinggahan sahabat lama ku ini, setelah beberapa kali bertanya pastinya, sebab alamat yang di berikannya memang benar-benar ada di pinggiran, bahkan mungkin dapat dihapuskan atau di ganti karena memang terlau pinggirnya, huuuuh, peluh ku pun terbayar sudah.
            Pintu rumah yang sangat sederhana ini pun ku ketuk, hingga muncul lah sosok sahabatku, ya, sahabatku yang sudah sangat lama tak pernah ku tatap wajahnya, . . . .  “Marco, masuklah, aku sudah menunggumu dari tadi, masuklah”, dengan cepat aku mengangguk malas, ku bumbui pula dengan senyuman, . .  “Ada apa sahabat?, aku kira seorang marco pastilah memiliki masalah sangat besar hingga dia harus datang kemari, hahahaha, benarkan?, kau tampak tua sekarang marco, raut wajahmu menutupi usiamu, oh ya tunggulah sebentar akan ku ambilkan minum, pastilah ku tahu kau sangat haus dari jalanan sana, ditambah lagi keruwetan Sunda Kelapa ini, tunggulah sebentar”, . . . .  Ku lihat ia masuk ke dalam bilik sebelah, ku tahu memang kedatanganku telah merepotkannya, yah dia adalah sahabatku saat kecil, saat ku belum mengenal sekolah ku sudah berteman dengannya, hingga akhirnya ia berangkat dari kampung halamannya untuk mengejar cita-citanya, seorang dokter yang berguna buat manusia, ia sering bercerita dahulu padakau, kalau kita hidup harus memberikan manfaat bagi orang lain, memang sungguh cepat waktu berlalu hingga saat ini, hampir sepuluh tahun lamanya ku kira ku tak menatap wajahnya kembali hingga hari ini.
            “Ini minumlah”, , , ,  ia meletakkan segelas air dingin di hadapanku, sepertinya ia memang telah menyiapkannya sebelumnya. “Bagaimana kabarmu marco?, sudah lama memang ku tak mendengar kabarmu, jauh memang dari Yojo kemari, bagaimana kabar saudara kita disana? Pastilah mereka yang dulu kecil sekarang sudah besar bahkan mungkin hampir tak ku kenal, hahahaha”, ia mencoba kenangkan apa yang terlewati, . . “masih biasa sepertimana engkau tinggalkan, akh kau ini, seperti telah lama saja kau meninggalkan Yojo”, . .  “Yah, 6 tahun sudah cukup lama juga marco, oh ya bagaimana kabar pujaan hatimu yang selalu membuatmu tak berdaya, gadis yang membuatmu kehilangan kata-kata, hahahaha, siapa namanya? Dewi Keumala benarkah?”, . . .  aku mengangguk pasrah, . . .  “ Marco, marco, kenapa ketika berbicara cinta kau sangat pasrah, seperti kehilangan gairah, cinta itu bukan di dapat secara instan, karena ia membutuhkan berjuta penafsiran, ingatlah jika engkau mencintainya marco, relakanlah, Cinta itu perasaan yang mulia, Sebab ia keikhlasan yang tak dapat engkau beli sekalipun”. “ Ya, Mr. Cokro Hadikusumo, Aku paham, aku paham” aku pura-pura tahu apa yang telah dikatakannya sekaligus mengangguk di setiap ucapannya. . .  “Hahaha, apa yang telah engkau pahamkan? Ketidakberdayaanmu?, haha, baiklah, yang perlu kau ketahui, wanita itu adalah manusia mulia, bukankah manusia dilahirkan dari kandungannya,  jangan pernah engkau menyakitinya sedikitpun”.
            “Baiklah, apalah sebenarnya tujuanmu datang ke gubukku ini, yah seperti yang engkau dapat saksikan sendiri”, . . .”Begini, aku datang ke kota mu untuk memperjuangkan keistimewaan daerah kita, Yojo yang saat ini sedang di ganggu keistimewaannya dengan peraturan yang tidak memihak kepada Yojo, aku hanya ingin kau ikut membantunya Cokro”, . . “Marco, Marco, kau inilah yang lebih mengerti masalah itu, aku ini apalah, hanya seorang calon dokter yang terombang-ambing, seperti perahu dalam buasnya lautan, kau ini yang paham masalah itu, salahlah kau jika bertanya padaku, sebab kau lah yang sekolah mempelajari tentang peraturan, kuliah hukum lah tepatnya,  . .  yah memang aku sedikit mengikutinya, ingatlah, Negeri ini butuh banyak praktek nyata, Bukan bagaimana bagaimana cara mewacanakan sesuatu, . . . Yojo memang daerah istimewa Marco, sangat istimewa, bahkan sebelum engkau dilahirkan, disaat bumi Jawi ini ada bahkan telah itimewa, . . .Tahukah kau, Yojo merupakan kerajaan di Jawi yang tersisa satu-satunya, ia lah yang dapat mewarisi tahta pendahulunya dahulu, Matraman, rakyatnya begitu mempercayai rakyatnya, bukan seperti sekarang ini Marco, ku lihat rakyat hanya dapat mempercayai pemimpinnya jika pemimpin tersebut memiliki uang, yah, uang dapat membeli apa saja Marco, seharusnyalah apa yang telah dijanjikan dilaksanakan, bukan menjadi bualan, . . . .  Yojo sangat ku cintai Marco, ia merupakan kota yang tak akan pernah ku lupakan, lihatlah merapi menjulang di utaranya, Kraton kokoh di pusatnya, Pantai yang indah di selatannya, keramahan manusianya, kehalusan tutur katanya, tiada perpecahan, aman dan damai, tak pernah ku lihat kota setenang itu Marco”, . . . . . “Terimakasih Cokro, ternyata kita juga sepaham, terimakasih, ku harap kau ikut denganku besok, besok acara audiensi dengan parlemen”. . . . . . . . . . . . 

Takdir yang Terhempas

|
Datang...
Datang lah padaku
Peluklah tubuhku
Selimutilah aku
Hapuslah air mataku
Genggam lah tanganku

Ini semua jasad ku
Yang kau peluk dan kau cium
Dan yang selalu kau banggakan
Aku tak lebih dari sebuah bangkai

Datang……….
Datang lah padaku
Dan tampar lah wajahku yang hina ini
Yang selalu kau banggakan
Aku tak lebih dari sebuah bangkai

Aku kah dia
Yang terlahir ke dalam dunia
Yang tak dapat ku tebak langkah
Yang terjadi
Padaku dan padamu
Aku dan kamu
Satu
Dalam takdir yang satu
Dan, lalu, bila
Akan terhempas
Jauh dan tak kembali

Palestine di Persimpangan

|
Bawa kemanakah sebuah arah
Arah sujud dan tangisan
Arah darah yang mengalir diatas tubuh syuhada
Kemenangan milik siapa?
Al- aqsa buat siapa?
Ku harap tak ada jawaban apa-apa

Untuk Manusia (2)

|
      Terbitlah sang fajar dari ufuk timur, seperti biasanya, burung yang ada di dedaunan pun mulailah berceloteh, alangkah indahnya alam. Seorang marco ini pun bangunlah dari tidurnya, aku merasa hidup kembali dari kematian yang berkali-kali, ku akan memulai kesempatan-kesempatan yang ada pada ini hari, sama seperti sebelumnya masih. Hidup memang sebuah kesempatan, karena semua terjadi bukan hanya sebuah kebetulan, benar memang adanya sesuatu yang telah terbiasa menjadi wajar, dan jika engkau telah berbicara sesuatu itu atas nama Tuhan, berhentilah ia.
            Kini ku sudah menapaki tanah Sunda Kelapa, ibukota negaraku tercinta, ku saksikan saudara di depan mataku, gedung-gedung tinggi menjulang, tingginya pun bervariasi saudara, seperti kotak-kotak sabun, berkali-kali ku lihat mobil-mobil mewah lewat di depan mataku, orang di dalamnya tak tampak sama sekali, keangkuhan telah menjadi biasa, diantara sesamanya yang tidak sederajat dengannya, kemerosotan moral dan agama di tengah mereka mengumandangkan tingginya nilai moral dan agama.
            Aku berjalan sendiri di kota ini, terasing diantara keramaian, kesunyian diantara sorak sorai manusia, aku tak tahu arah, ku hanya melangkahkan kemana saja kaki ini mau, hingga akhirnya ia berhenti diatas tanah yang gersang, tanah yang tak pernah dibahasi oleh air hujan, walaupun turunnya berkali-kali.
            Sebenarnya terlalu sedih aku harus meninggalkan tanah kelahiranku, tanah jawi di ujung timur pulau ini, betapa tidak, ku telah meninggalkan para sahabatku yang terbaik, ku telah tinggalkan kedua orang tua yang membesarkanku,ku juga telah tinggalkan wanita yang ku puja, yah, air mata ini pun sudah tak bisa lagi ku jatuhkan dari kedua bola mataku, . . . .  cinta.
            Sunda Kelapa mempunyai sejarah yang sangat panjang, entah berapa kali ia berganti pemerintahan, bahkan sempat ku mendengar nya ia menjadi pelabuhan yang cukup penting di dunia, mungkin tidak berlebihan lah kalau ku katakan kota ini memang sudah jaya sejak dahulunya, bahkan sampai tuanya.
            Negeriku Dwipantara ini termasuk negeri mahsyur di dunia, di puja ia oleh setiap manusia, terkenal ramah manusianya, terkabar indah dan permai alamnya, entah seperti bagaimana nantinya jika disaksikan dengan sendiri, namun bagiku sendiri, suatu negeri akan menjadi kokoh dan kuat bahkan dapat bertahan sampai kiamat tiba, jika adanya keadilan dalam masyarakatnya, . . . . . . ku masih belum melihatnya.
            Maaf sebelumnya, ini merupakan karya ku yang pertama, jika tulisan-tulisan yang tertera tidaklah tertata maafkanlah, karena ku juga tidak terlalu mahir dalam bercerita, ku hanya menuliskan dan mengabarkan apa yang aku rasakan sendiri, mungkin terkadang aku menggurui, tidak, tidak pernah terbesit sama sekali itu.
            Salam dunia pada bumi ku Dwipantara, manusia negeriku sangat beraneka, nanti saja aku akan meneruskannya, aku sebenarnya ingin menemui sahabat lama ku di tanah Sunda Kelapa ini, kuliah kedokteran akhir kabarnya ku terima, semester akhir pelengkapnya, ku ingin bercerita banyak padanya, . . . . . . . 

Shubuh Jatuh

|
Masih memekik merdeka negeriku
Terdengar beberapa puluh tahun lalu
Dingin menusuki tubuh serdadu
Kisah itu
Jogja belum jatuh
Di waktu shubuh

Mentari belum menyapa
Namun burung terlalu cepat berkata
Embun mengantarkan dingin
Air hangat dalam wudhu
Berjama’ah dalam surau

Ku kira kau masih ingat ketika itu
Saat angin mengantarkan kerinduanku
Yang ku lakukan lewat sujud pertamaku
Aku dan kau terpisah jarak waktu
Rindu padamu telah ku mulai saat shubuh jatuh

Lihat sekarang bangsa kita merdeka
Telah ada persiapan yang tak biasa
Jangan ingkari tanah Jogja istimewa
Sebab kisah itu menjadi lakon utama

Shubuh jatuh diantara kita
Mari kita berdo’a bersama
Semoga di perkenankannya