Aku telah jatuhkan pilihanku, bukan tanpa dasar, banyak pertimbangan yang telah ku fikirkan, hingga akhirnya ku sampai disini, kota ini yang terpilih untuk masa depanku, bukan tak hanya sebatas mainan, bukan sebatas kata sia-sia, ku telah menentukan pilihan, untukku sendiri.
Sahabat menjadi bagian penting untuk hidupku, ia ada disaat apa saja, disaat kekacauan dalam fikirku, disaat air mata mengalir di pipiku, terimakasih tak terhingga, ku ingin berbagi segalanya untuk kalian, baik suka maupun duka.
Menjadi wanita bukan sebuah pilihan, karena Tuhanlah yang menentukan, menjadi kodrat yang paling asasi, tercipta dengan rasa welas asih yang tinggi, membuatku terkadang rapuh melewati segalanya.
Yogyakarta, aku datang padamu, segalanya telah ku persiapkan, sebuah Universitas terkemuka telah ku temukan, dan mata kuliah pilihanku juga ada disana, ku bercita nantinya aku kan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi tidak di negeri ini.
Hujan gerimis menyambutku untuk pertama kali di kota ini, tak pernah terbayang olehku sebelumnya berada di tempat ini, rasa nya bebas tak terkira, seperti bayi yang baru lahir ku rasakan, ku hirup aroma kebebasan setelah hampir demikian lamanya ku terkekang oleh ketidakadaan kesempatan. Air yang jatuh dari cakrawala membawa kesegaran tersenidir untuk tubuhku yang terlalu rapuh ini, ku butuh seseorang yang setia, dan menemaniku di setiap waktuku, namun bukan dia yang sekarang, bukan dia, bahkan sangat jauh dari yang ku impikan, namun seseorang itu belum ku temukan.
Menurutmu bagaimana jika ku ucapkan, luar biasa, terhadap rasa yang hadir dalam jiwa dan yang tertuang dalam nyata, sungguh istimewa bukan, disetiap sudut ini ku rasakan udara yang begitu segar mengalir tiada taranya, seorang wanita yang masih kecil dan lugu itu kini telah dewasa, sudah mampu hidup dengan kehendaknya, sudah dapat menentukan masa depannya sendiri, terimakasih tiada henti ku pujikan untuknya selalu pada pencipta kehidupan.
“Rin, kamu pasti bisa, dan kamu harus bisa, karena semua akan biasa jika kamu telah melaluinya”, suara sahabat itu selalu terngiang di telingaku, memutari seluruh isi kepalaku, iyam, dia sedang apa sekarang, dimana dia?, sudah cukup lama ku tak berjumpa dengannya, terakhir kali pun ku tak menatap mukanya, di saat itu, saat ku harus pergi dari kota ku ini, Yogyakarta, air mata mengalir belum terhenti hingga kini.
, -----------------------------------
Yogyakarta, 2009
Ku berpijak di halaman orang, angin bandara membawaku pada arah masa depan, suara bising pesawat yang menepi pun tak ku hiraukan, kutelusuri jalanan ini menuju sebuah harapan. Tercatat dalam angka, setelah kulewati beberapa waktu lalu, ku geluti untuk masa depan, terlalu lelah juga mengingatnya karena melihat hasilnya yang tak seirama, namun semua haruslah syukur pada yang kuasa, cerita hidupku, setiap langkahnya ku pilih di kota ini, Yogyakarta.
Wanita penuh dengan rasa yang peka dan selalu mengalah. Perjalanan telah banyak yang terlewatkan olehku, kehidupan memang sulit jika kita berfikir kalau itu sulit, sebenarnya tergantung bagaimana kita menyikapi sesuatu itu, goretan itu akan datang dan berganti, cukup menambah wawasanku.
Ku datang ke kota ini tidak sendiri, bersama dengan mereka sahabatku yang kutemukan dan kudapatkan dari bimbingan belajar yang sama, tak banyak memang, tak seramai saat itu, karena yang memilih kota ini hanya sebagian mereka, namun disini juga kusangat jarang bertemu mereka, memang manusiawi, menemukan hal baru akan sedikit demi sedikit melupakan yang lama, hanya kenangan yang akan datang, namun komunikasi tetap terjaga.