Sabda Bumi

|

Aku adalah tanah yang engkau perkosa
Cacing kesuburanku engkau taburkan dalam isi perutmu
Aku telah lahirkan berjuta peradaban
Berjuta pujian dan makian bagai deras hujan
Ku berikan tanda-tanda
Bencana diamkan angin segala arah
Terimakasih cintaku pada sang surya
Berikan peilta terangkan sejarah
Sejarah yang membentuk manusia
Tercetak begitu rupa padaku berjalan
Senyuman tasbih ku dengar dan kami lakukan
Masih satu jiwa kita yang murka diantara
Aku adalah bagianmu
Engkau adalah bagianku
Sadarlah dengan kesederhanaan
Lakukanlah dengan kedamaian
Aku merenung
Kami merenung
Ada jingga tersisa di wajah yang menua
Seperti sisa-sisa pertikaian bangkai-bangkai dengan susunan yang satu
Dengarkanlah sebuah sabda
Ketika kau mencintaiku aku lebih menyayangimu
Ketika kau membenciku aku lebih mengutukmu
Kita jalan bersama dalam talian Tuhan pencipta

Tanah ini kita bersama jaga keseimbangannya

*(

|

Kekasihku, engkau memang pelita dalam gelapku, memberi keterangan dan ketenangan di saat kegelapan, cahaya juga akan padam, kegelapan tak akan selamanya,
Tak aka ada yang dipersalahkan, karena datang dengan luar biasa, mengalir dalam arus yang membawa kemanapun langkah,
Telambat, waktu telah datang dengan seharusnya, semua akan terjadi dengan sewajarnya, terimalah ucapanku kekasihku, . . . . . . . . . . . . . . . . Aku pergi.

23

|

Bertanya tentang rindumu padaku kasihku
Adakah asa yang tersisa lewat harapan do’a
Mencintaimu adalah pertaruhan
Pertaruhan tanda-tanda abstrak
Perjudian lambang yang terserak

Kita yang telah dipertemukan
Perkenalan memberikan sebuah kesan dan pesan
Apakah kita berbeda
Di saat kita adalah sama

Ku ingin memelukmu kasihku
Membelaimu dengan mesra yang tersentuh

Di titian ini
Kerinduan ku pasrahkan, -

Kesatria Senja

|
              Selamat pagi kesatria senja, pedang berdarah ditangan kanan telah menjadi beku, tebasan kemarin sore masih tersisa hari ini, engkaulah satu-satunya yang tersisa dari yang ada, dengan gagah kemudian engkau berkata-kata.
            Keberanian adalah kebijaksanaan pilihan, kedamaian hanyalah sebuah impian, membunuh adalah senjata utama hidup, kita adalah manusia pilihan, bergeraklah atau engkau akan mati.
            Congkaknya engkau berkata bagaikan panglima, padahal kupastikan saat lalu engkau masih prajurit ketika akan berlaga, hanya engkaukah yang tersisa?, atau engkau lari dari medan laga, sudahlah tak perlu ku sangsikan darah yang mandi di tubuhmu.
            Aku minta harta, aku minta wanita, aku minta segalanya yang kita punya, serahkanlah, ayo mana pemimpin kita, sang Raja yang duduk diam menunggu serdadunya mati, serahkanlah, puaskan sesaat nafsuku yang hina ini, keluarkanlah.
            Sejuta pasang mata mengawasinya, kini telah menaruh curiga padanya, rasa bangga kini berbuah makna, kesunyian berubah menjadi keramaian, mulut saling berbicara, berkata-kata apa saja.
            Kesatria senja, engkau adalah orang yang kalah, tak perlulah engkau berbangga, karena panglima mu telah tiada, engkau hanyalah orang sisa-sisa, kembalilah kau ke medan laga, binasakanlah dirimu, karena tempat seorang kesatria bukan di disini.
            Sisa panah di lengan kirimu menunjukkan kepengecutanmu, kehentian detak jantungmu menunjukkan ketidakpercayaan dirimu, lenguhan nafasmu adalah ketakutanmu, pergilah, pergilah engkau, sudah terlambat semua yang engkau lakukan, . . . . . . Bawakan padanya keranda, biarkan ia sendiri memasukinya dan meratapinya.

RiN , . . . . (Bagian 1)

|
Aku telah jatuhkan pilihanku, bukan tanpa dasar, banyak pertimbangan yang telah ku fikirkan, hingga akhirnya ku sampai disini, kota ini yang terpilih untuk masa depanku, bukan tak hanya sebatas mainan, bukan sebatas kata sia-sia, ku telah menentukan pilihan, untukku sendiri.
Sahabat menjadi bagian penting untuk hidupku, ia ada disaat apa saja, disaat kekacauan dalam fikirku, disaat air mata mengalir di pipiku, terimakasih tak terhingga, ku ingin berbagi segalanya untuk kalian, baik suka maupun duka.
Menjadi wanita bukan sebuah pilihan, karena Tuhanlah yang menentukan, menjadi kodrat yang paling asasi, tercipta dengan rasa welas asih yang tinggi, membuatku terkadang rapuh melewati segalanya.
Yogyakarta, aku datang padamu, segalanya telah ku persiapkan, sebuah Universitas terkemuka telah ku temukan, dan mata kuliah pilihanku juga ada disana, ku bercita nantinya aku kan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi tidak di negeri ini.
Hujan gerimis menyambutku untuk pertama kali di kota ini, tak pernah terbayang olehku sebelumnya berada di tempat ini, rasa nya bebas tak terkira, seperti bayi yang baru lahir ku rasakan, ku hirup aroma kebebasan setelah hampir demikian lamanya ku terkekang oleh ketidakadaan kesempatan. Air yang jatuh dari cakrawala membawa kesegaran tersenidir untuk tubuhku yang terlalu rapuh ini, ku butuh seseorang yang setia, dan menemaniku di setiap waktuku, namun bukan dia yang sekarang, bukan dia, bahkan sangat jauh dari yang ku impikan, namun seseorang itu belum ku temukan.
Menurutmu bagaimana jika ku ucapkan, luar biasa, terhadap rasa yang hadir dalam jiwa dan yang tertuang dalam nyata, sungguh istimewa bukan, disetiap sudut ini ku rasakan udara yang begitu segar mengalir tiada taranya, seorang wanita yang masih kecil dan lugu itu kini telah dewasa, sudah mampu hidup dengan kehendaknya, sudah dapat menentukan masa depannya sendiri, terimakasih tiada henti ku pujikan untuknya selalu pada pencipta kehidupan.
“Rin, kamu pasti bisa, dan kamu harus bisa, karena semua akan biasa jika kamu telah melaluinya”, suara sahabat itu selalu terngiang di telingaku, memutari seluruh isi kepalaku, iyam, dia sedang apa sekarang, dimana dia?, sudah cukup lama ku tak berjumpa dengannya, terakhir kali pun ku tak menatap mukanya, di saat itu, saat ku harus pergi dari kota ku ini, Yogyakarta, air mata mengalir belum terhenti hingga kini.
, -----------------------------------
              
Yogyakarta, 2009

Ku berpijak di halaman orang, angin bandara membawaku pada arah masa depan, suara bising pesawat yang menepi pun tak ku hiraukan, kutelusuri jalanan ini menuju sebuah harapan. Tercatat dalam angka, setelah kulewati beberapa waktu lalu, ku geluti untuk masa depan, terlalu lelah juga mengingatnya karena melihat hasilnya yang tak seirama, namun semua haruslah syukur pada yang kuasa, cerita hidupku, setiap langkahnya ku pilih di kota ini, Yogyakarta.
Wanita penuh dengan rasa yang peka dan selalu mengalah. Perjalanan telah banyak yang terlewatkan olehku, kehidupan memang sulit jika kita berfikir kalau itu sulit, sebenarnya tergantung bagaimana kita menyikapi sesuatu itu, goretan itu akan datang dan berganti, cukup menambah wawasanku.
Ku datang ke kota ini tidak sendiri, bersama dengan mereka sahabatku yang kutemukan dan kudapatkan dari bimbingan belajar yang sama, tak banyak memang, tak seramai saat itu, karena yang memilih kota ini hanya sebagian mereka, namun disini juga kusangat jarang bertemu mereka, memang manusiawi, menemukan hal baru akan sedikit demi sedikit melupakan yang lama, hanya kenangan yang akan datang, namun komunikasi tetap terjaga.

Berlalu, . . .

|

Dengan belasan air mata engkau jatuhkan
Dengan biasan kerinduan telah tersirnakan
Bukan dahulu ku telah katakan padamu ?
Mengapa kini engkau pertanyakan kembali padaku ?

Dengan makian dahulu sekarang engkau pujikan
Sudah berlalu bukankah telah menjadi kaku
Lalu apa yang harus ku katakan
Haruskah ku ingat dan puja seperti dulu

________________________________

Ada sayap yang terluka terlalu lama
Ada luka yang berdarah dan ternganga
Ada serpihan kaca yang menusuki hingga lara

Bukankah menjadi sia-sia
Dengan obat yang saat ini engkau bawa

Berapa kali purnama ku lewati
Selalu sama dan menanti

-, Manusia ada hati, -