Selamat pagi kesatria senja, pedang berdarah ditangan kanan telah menjadi beku, tebasan kemarin sore masih tersisa hari ini, engkaulah satu-satunya yang tersisa dari yang ada, dengan gagah kemudian engkau berkata-kata.
Keberanian adalah kebijaksanaan pilihan, kedamaian hanyalah sebuah impian, membunuh adalah senjata utama hidup, kita adalah manusia pilihan, bergeraklah atau engkau akan mati.
Congkaknya engkau berkata bagaikan panglima, padahal kupastikan saat lalu engkau masih prajurit ketika akan berlaga, hanya engkaukah yang tersisa?, atau engkau lari dari medan laga, sudahlah tak perlu ku sangsikan darah yang mandi di tubuhmu.
Aku minta harta, aku minta wanita, aku minta segalanya yang kita punya, serahkanlah, ayo mana pemimpin kita, sang Raja yang duduk diam menunggu serdadunya mati, serahkanlah, puaskan sesaat nafsuku yang hina ini, keluarkanlah.
Sejuta pasang mata mengawasinya, kini telah menaruh curiga padanya, rasa bangga kini berbuah makna, kesunyian berubah menjadi keramaian, mulut saling berbicara, berkata-kata apa saja.
Kesatria senja, engkau adalah orang yang kalah, tak perlulah engkau berbangga, karena panglima mu telah tiada, engkau hanyalah orang sisa-sisa, kembalilah kau ke medan laga, binasakanlah dirimu, karena tempat seorang kesatria bukan di disini.
Sisa panah di lengan kirimu menunjukkan kepengecutanmu, kehentian detak jantungmu menunjukkan ketidakpercayaan dirimu, lenguhan nafasmu adalah ketakutanmu, pergilah, pergilah engkau, sudah terlambat semua yang engkau lakukan, . . . . . . Bawakan padanya keranda, biarkan ia sendiri memasukinya dan meratapinya.
1 komentar:
sudut pandang yang bagus...
tapi kalo diperhatikan hampir mirip dengan lakon karma bharatayudha yang pernah kumainkan..
kalo ini sindiran, untuk siapa/apa har?
Posting Komentar