Terkadang

|

Terkadang butuh namanya cinta untuk menyenderkan sebuah nafsu
Terkadang membutuhkan  agama untuk menutupi kemunafikan
Terkadang butuh Tuhan untuk penghalalan nafsu
Terkadang membutuhkan kata damai untuk melakukan pembunuhan
Terkadang butuh Negara untuk menjalankan keidealisan
Terkadang kadang-kadang tak membutuhkan terkadang
Namun terkadang kadang-kadang dibutuhkan terkadang
Terkadang

23 untuk 22

|

Peluhku berjatuhan padamu
Air mataku riak padamu
Cerminku retak tanpamu
Alunan bayanganmu menari setubuhiku
Elusan jiwa yang kini sepi
Liarmu padamkan api
Menari jilati kegelapan malam membirahi
Peluhku bercucuran untukmu
Terkasih kini tak ku dapati lagi
Menyiksa dan membakari diri
Seutas raut yang tak termiliki
Kamu
Mimpi yang ada dalam kahyangan yang dirindukan
Dimiliki. Diinginkan jutaan


Kamu

|

Dag Dig Dug
Jantungku berderai Tak Tik Tuk
Di depan ada kamu Sak Sik Suk
Menampari hatiku Pak Pik Puk
Aih aku sudah tak bebas
Kamu buat aku cemas sampai lemas
Dag Dig Dug
Kamu berjalan Tak Tik Tuk
Aku kikuk

Catatan Akhir

|

Bergerak, ku berharap semua orang telah bergerak dari diamnya, menuju ke arah perubahan yang lebih baik bagi drinya, sekitarnya, bangsanya, negaranya, bahkan dunianya. Memandang kebersamaan dalam perbedaan, menghindarkan setiap konflik yang merugikan.
Semuanya berjalan harmoni, menjaga alam dan lingkungannya, saling memberi dan menerima, tiada ketimpangan, setiap agama telah mengedepankan kemanusiaan, saling percaya kepada siapa saja yang menemuinya.
Tentu saja Catatan Akhir inilah akan ku berikan padamu sekalian manusia dan alam, tentu sudah tak akan nada hitam dan putih, tentu sudah habis permasalahan, nirwana abadi dunia bersinar, menjadi indah, walaupun memang haruslah ada hitam dan putih.
Menyemarakkan dan menyelenggarakan kebaikan untuk sesama, butuh pelaksanaan yang selalu, saling mengingatkan untuk harmoni, keselarasan pandangan yang sama, cinta untuk kita.
Catatan akhir ini diberikan untuk penutup, hidup yang berjalan akan tetap kontiniu, berjalan dan melangkah, hadapi dengan airmata dan keikhlasan, senyuman dan perjuangan.
Kita selalu memiliki harapan, kita berhak memiliki mimpi, mimpi untuk sebuah pijakan awal memang baik, terlalu sering bermimpi itulah yang tak pernah menjadikan baik, selalu berusaha untuk menggapai mimpi.
Apa jadinya, kaya tak makan miskin, miskin tak tipu kaya, apa jadinya kesungguhan tak pernah hasilkan apa-apa, menari dalam birahi, sama-sama saling memaki, sama-sama saling mendustai, kehidupan bukan hanya mencari hidup, bekerja adalah kewajaran.
Kewajaran adalah suatu keseimbangan, tidak mungkin mengharapkan semua menjadi satu warna, dan tidak lah indah juga, yang di harapkan adalah menuju keseimbangan, dengan lebih bersyukur lebih nya kepada hal yang baik.
Perjalanan akan berakhir, karena sifatnya tiada kekal, kita harus mencari bekal, ku telah tuliskan Catatan Akhir ini padamu, jika nanti engkau tak akan pernah ketemukan ku kembali, tentulah kita akan bertemu, diantara alam yang tak akan sama.

Sang Guru

|

Adakah ilmu yang didapat dari hasil celotehan yang tak berguna, celotehan masih terus dilakukan haruskah didengarkan, bukan untuk menghina karena ini juga celotehan ynag mungkin tak berguna, ia masih saja bercoloteh walaupun kini orang-orang sudah mulai bosan mendengarkannya karena tak ada sesuatu pun yang nyata dilakukannya.
“Ingat ini baik-baik ya, kalau, . . . . . . 
Kusadari dari tadi karena ku duduk tepat tak seberapa jauh dari hadapannya, sehingga telingaku agak lesu dan harus dipaksakan mendengarkannya karena tak ada lagi penghalang untuk menyumbatnya sedikitpun, dari tadi ku lihat orang-orang disekelilingku mengangguk entah mengiyakan atau menidakkan, yang tau adalah benaknya masing-masing.
Ia cukup disenangi atau dibenci, kehadirannya entah membawa rahmat atau bencana, yang ku dengar banyak mulai menganggapnya adalah sosok luar biasa sehingga apapun yang akan terjadi harus melalui celotehannya terlebih dahulu, walaupun untuk hal yang sekecil apapun tak pernah luput.
Setujukah engkau jika ku sebut dia Sang Guru, sebab apapun yang akan ditanyakan padanya ia pasti akan menjawab dengan celotehannya yang merdu seperti biasa, walaupun ku tahu ia tak paham dan seperti biasa nya juga ia pasti menutupinya dengan kebenaran hanya akan menjadi milik Tuhan, banyak yang mulai tergoda dengannya, ikut dan meninggalkannya kemudian, itulah yang tak kuhitung jumlahnya.
Seperti seorang Guru pada umumnya, ia memiliki beberapa “murid”, atau memang dia sendiri yang mengangkat beberapa orang yang mendengarkan celotehannya dengan seksama menjadi murid atau orang suruhannya, aku rasa dia Sang Guru yang kesepian.
Sering juga ku lihat ia memanggil para muridnya dan  kemudian dia kembali melakukan celotehannya yang tanpa waktu, aku sekali-kali pernah mendengarkan,, lama sekali saat itu, namun entah apa yang dapat ku ingat, tiada.
Kini aku dapati ia sendiri, dengan minumannya, tengah tertidur pulas, mulutnya penuh busa, tak kuangkat, kudiamkan saja, lalu aku pergi mengenyahkan dan berkata penuh keyakinan dan kebulatan tekad, Munafik.

Untuk Dia, - (Selesai)

|

                 Aku melihatnya, dia menangis di kegelapan malam itu, malam telah mendapatkan paginya, namun dia ku lihat masih mendapatkan malamnya sendiri, ku menemaninya dan ku perhatikan dari jauh.
            Sejak saat kemarin hatinya memang sudah tak tenang, saat ia tahu kalau Dewi Keumala telah bertunangan dan akan segera menikah, memang selama ini dia sering melamun dan menyendiri, belakangan ini semakin banyak, ku tak dapat berbuat banyak, aku pastikan dia menikmati waktunya sendiri.
            Dewi Keumala, mungkin engkau memang seorang dewi yang sangat sempurna dihadapannya, ia sering ceritakan padaku betapa hebatnya dirimu, tiada sedikitpun celah cacat padamu, bahkan disaat engkau tak memilihnya ia masih sangat memujamu, aku sangat heran, inikah cinta yang dijadikan prinsipnya, ku kehabisan kata.
            Ku lihat ia sekarang melangkahkan kakinya, menyaksikan bulan yang sembunyi lebih ke pinggir, kau tahu Dewi Keumala, sejak malam yang terjadi saat itu, ia sering datang kemari, entah sudah berapa kali, ia mungkin mengharapkan kehadiranmu di sampingnya.
            Ia sering menulis tentang mu Dewi Keumala, ku telah membaca tulisannya “Untuk Manusia”. Ia ceritakan kota yang indah ini dengan wanitanya yang terindah, dirimu, alangkah indah memang cinta yang tercipta.
            Saat  ku bersamamu, ia sering katakan sampaikan salamnya padamu dengan permintaan maaf jika memiliki kesalahan, ku tahu ia tak ingin kalau kehadirannya mengganggu hari-hari mu.
            Ia juga sering katakan padaku kalau engkau adalah sahabat terbaiknya yang pernah ia miliki, ia ingin menjadi sahabat yang berarti untukmu.
            Ia juga katakan padaku, kalau ia ingin sekali menghapus rasa nya untukmu, tapi, aku rasa itu sangatlah sulit, aku sangat yakin semua berjalan dalam waktu yang sangat lambat, ku ingin engkau mau membantunya, dengan jadikan ia sahabat juga, bukan dengan semakin menjauh.
            Aku pernah juga dapati ia sedang pandangi fotomu, ku katakan padanya bagaimana ia akan melupakanmu jika seluruh kenangan tentangmu masih ia simpan. Aku sering melihatnya menjadi seperti tak semestinya.
            Sakitnya tidak hanya dari fisik, hatinya yang terdalam juga sudah berdarah dan tak pernah kau beri dengan penawar luka, Dewi Keumala, ia titipkan rindunya tak pernah henti padamu, dan sedikit catatan ini, mungkin disaat engkau nanti akan dapati ia telah jauh.

Terlupakan

|

Terasa panjang keluhmu saat tambatkan rebah dibahuku
Sudah berapa lama engkau pendam rasa itu
Suara neraka membisu dalam sanubari
Terlalu cepat telah laju matahari

Buratan senyummu tergores lara
Isak mu engkau pelukkan ku
Hai, sungguh sangat manis engkau seperti dahulu
Tenanglah sungguh tak apa apa

Kita adalah sama
Kelamin yang berbeda
Menciptakan dosa yang terindah

Terlalu lamban laju rembulan
Merangkak di kedinginan malam
Telah kita hangatkan dalam peraduan
Senyumanmu dalam kenangan

Kita adalah sama
Kelamin yang berbeda
Menciptakan pahala yang terindah