Mawar Hitam Terakhir di Suatu Sore

|


Bicaralah engkau hai cinta yang di puja adam dan keturunannya
Suatu darah yang dibungkus nafsu nan bergelora
Di ucapkan dengan bersumpah sumpah
Adakah suatu pengertian antara keduanya

Kesetiaan bukan hanya ucapan, sebuah laku yang dilaksanakan
Makna yang telah di nikmati dalam pertemuan
Sebuah ciuman
Diambang sore dan sebuah mawar hitam

Hitam, suatu kesendirian dengan pendirian
Sore, suatu saat yang selalu dirindukan
Jatuh dalam rasa yang sama
Terseret dalam butiran jingga-jingga

Hari ini mawar hitam terpetik
Terbungkus pada kertas secarik
Ucapan selamat tinggal untuk kisah terbaik

Setubuhilah perlahan
Berikanlah sepenuhnya kesempatan
Nikmat keindahan
Kembali juga seluruhnya pada Tuhan

Suatu sore mawar hitam
Dirangkaikan di kalungkan
Sebagai ucapan duka mendalam

Bidadari Malam

|


Ia bidadari malam yang mengenakan gaun
Anggun langkahnya padahal hari sedang hujan
Asap mengepul dari bibir manis dengan tiupan
Sesekali melihat jemari tangan
Hari masih malam dan hujan

Ia bidadari malam mengenakan pakaian
Gaun seluruhnya berwarna hitam
Terselip mawar putih di sela belahan dadanya
Hitam pekat celak diantara kedua lemtik matanya

Ia bidadari malam menari membirahi
Hujan jatuh hadirkan kenangan
Anak-anak yang telah mati
Berurai berguguran

Ia bidadari malam jatuh kepangkuan malam
Dingin yang membutuhkan kehangatan
Gelap yang membutuhkan penerangan
Nadinya berdetak selalu sebelum shubuh membangunkan

Ia bidadari malam melintasi malam
Mata menelanjangi penuh nafsu
Gaun hitam model yang dikenakan
Terlalu cantik membius para pemburu

Ia bidadari malam
Separuh malam telah terlewatkan
Penuh bimbang ia ucapkan
Aku darah perawan

Desember

|


Ini adalah Desember,
Mungkin saatnya terakhir
Bertemu dan melepaskan
Pada sebuah lembaran

Untuk sebuah amin
Telah sampai pada yang memuncak
Untuk suatu renungan
Dalam kemeriahan bunga api yang memercik

Diam menangisi Desember
Mengaliri pipi teduh segar
Ada disana suka dan duka
Dendang jam yang keduabelas

Untaian bunga
Jatuh menggantikan
Desember menggantungkan harapan
Dingin yang memeluk pelan

Bumi kembali pada revolusi
Jika saja cinta menjadi pemicu diri
Angin malam terakhir untuk hati berongga
Auman anjing lewati jelata

Ada saja
Ada mati, ada kehamilan, ada perkosaan
Ada munafik, ada topeng, ada patung yang digerakkan
Ada saja
Yang mencaci manusia atas nama Tuhannya
Yang membunuhi manusia atas nama kepercayaannya

Ada saja
Yang menutupi dengan do’a ataupun dosa

Cinta itu, . . . . . .

|


Cinta itu, . . .
Sebuah kepakan merpati terbang melayang
Cinta itu, . . .
Air laut yang diminumi dengan gamang
Cinta itu, . . .
Karang yang didebur ombak
Cinta itu, . . .
Dekapan hangat ibu saat anaknya terisak
Cinta itu, . . .
Surya menerangi
Cinta itu, . . .
Lembayung senja tenggelam
Cinta itu, . . .
Goretan pena pada puisi
Cinta itu, . . .
Pengertian pada senyuman
Cinta itu, . . .
Kemarin, hari ini, ataupun lusa
Cinta itu, . . .
Kesempatan sebelum kematian

Warna

|

  “Biru, kau mau kemana? Lari dan tak bertanggungjawab? Seharusnya semua Putih, kedatanganmu menjadikan warna, kau beri hal baru, kau memberikan harapan baru, berikan kenangan, . . . . . “
            “Diam hitam, biarkan Biru bekerja sesuka hatinya, Putih memang seharusnya diberikan warna agar menarik dan menjadi indah, kau sukakan Putih? Bicaralah, mereka sedang membicarakanmu”




            “Aku Biru”
            “Aku Hitam”
            “Engkau mau apa?”
            “Mau engkau apa?”
         “Dasar warna rendahan, membuat semua gelap, lebih baik aku lebih menarik, engkau hanya pembunuh, kejahatan, kebusukan”
            “Aku Hitam bukan kegelapan, kejahatan kebusukan anak dari kebudayaan warna yang beragam, engkau hanya tahu menyalahkan, tak pernahkah kau pikirkan Putih hanya pasrah diperkosa, dikotori oleh pikiran-pikiran kita, bahkan ia juga tak mamou bicara, tanyakan pada Putih, hai Putih, jawab!, aku sedang bertanya padamu”



            “Maafkan aku hitam”
        “Aku juga Biru, tetapi kita paling bersalah pada Putih, ialah paling tersiksa dengan kita, dengan keanekeaan warna kita, maaf Putih, maafkan kami”
            “Maaf Putih”






*Untuk sebuah kebhinekaan, sempat terpikir bagaimana menjadi ika