“Biru, kau mau kemana? Lari dan
tak bertanggungjawab? Seharusnya semua Putih, kedatanganmu menjadikan warna,
kau beri hal baru, kau memberikan harapan baru, berikan kenangan, . . . . . “
“Diam
hitam, biarkan Biru bekerja sesuka hatinya, Putih memang seharusnya diberikan
warna agar menarik dan menjadi indah, kau sukakan Putih? Bicaralah, mereka
sedang membicarakanmu”
“Aku Biru”
“Aku
Hitam”
“Engkau mau apa?”
“Mau
engkau apa?”
“Dasar warna rendahan, membuat
semua gelap, lebih baik aku lebih menarik, engkau hanya pembunuh, kejahatan,
kebusukan”
“Aku
Hitam bukan kegelapan, kejahatan kebusukan anak dari kebudayaan warna yang
beragam, engkau hanya tahu menyalahkan, tak pernahkah kau pikirkan Putih hanya
pasrah diperkosa, dikotori oleh pikiran-pikiran kita, bahkan ia juga tak mamou
bicara, tanyakan pada Putih, hai Putih, jawab!, aku sedang bertanya padamu”
“Maafkan aku hitam”
“Aku
juga Biru, tetapi kita paling bersalah pada Putih, ialah paling tersiksa dengan
kita, dengan keanekeaan warna kita, maaf Putih, maafkan kami”
“Maaf Putih”
*Untuk sebuah kebhinekaan,
sempat terpikir bagaimana menjadi ika
0 komentar:
Posting Komentar